Loading
Loading...
Menu BINUS

Friyay Fellowship PO BINUS @Alam Sutera 8 Mei 2026: “Siapakah Kita Dihadapan Tuhan?”

“Siapakah Kita Dihadapan Tuhan?”

Pada Fellowship Friday sebelumnya, kita terlebih dahulu diingatkan melalui tema Loved Beyond Results. Di tengah kehidupan mahasiswa, nilai, pencapaian, dan hasil akademik sering kali menjadi standar untuk menilai diri sendiri. Ketika hasil baik, kita merasa berharga. Namun ketika gagal atau tidak mencapai ekspektasi, kita mulai merasa kecewa, takut, bahkan kehilangan arah. Tanpa sadar, identitas kita perlahan bergeser dan bergantung pada pencapaian, bukan lagi pada Tuhan.

Melalui Roma 5:8, kita diingatkan bahwa Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa. Artinya, kasih Tuhan tidak pernah didasarkan pada performa, keberhasilan, ataupun hasil yang kita capai. Nilai diri kita sudah terlebih dahulu ditetapkan melalui kasih dan pengorbanan Kristus di kayu salib. Karena itu, kita tidak perlu hidup diperbudak oleh standar dunia yang terus menuntut pembuktian diri.

Melanjutkan hal tersebut, FF minggu ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih dalam: “Siapakah kita di hadapan Tuhan?” Pertanyaan ini penting, karena cara kita memandang diri akan menentukan bagaimana kita hidup, melayani, dan mengasihi orang lain.

Sering kali dunia mengukur nilai seseorang dari pencapaian, popularitas, relasi, jabatan, bahkan kegagalan masa lalu. Tidak sedikit juga orang yang merasa terlalu rendah terhadap dirinya, atau justru terlalu meninggikan dirinya. Namun melalui firman Tuhan, kita diingatkan bahwa nilai diri kita tidak berasal dari dunia, melainkan dari identitas kita di dalam Kristus. Kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Imago Dei), dipanggil bukan hanya untuk hidup bagi diri sendiri, tetapi untuk memuliakan dan menikmati Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan.

Sebagai mahasiswa, kita juga diingatkan bahwa kesempatan untuk belajar adalah sebuah hak istimewa. Tetapi menjadi mahasiswa Kristen bukan sekadar tentang mengejar nilai, karier, atau masa depan yang baik. Ada tujuan yang lebih besar: studi, pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan kita dipanggil untuk memuliakan Allah. Inilah yang membedakan kita — bukan hanya apa yang kita lakukan, tetapi untuk siapa kita melakukannya.

Di tengah dunia yang semakin sibuk dan individualis, pertumbuhan rohani juga tidak dapat dijalani sendirian. Tuhan memberikan komunitas agar kita dapat saling menguatkan, mengingatkan, dan bertumbuh bersama sebagai murid Kristus. Sebab pada akhirnya, perjalanan iman bukan tentang siapa yang paling hebat, tetapi tentang siapa yang tetap setia berjalan bersama Tuhan.

Kiranya melalui FF ini, kita tidak hanya mengetahui siapa diri kita menurut dunia, tetapi benar-benar memahami siapa kita di hadapan Tuhan: pribadi yang dikasihi, ditebus, dan dipanggil untuk hidup bagi kemuliaan-Nya.

Tuhan Yesus memberkati!

 

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.