    {"id":2157,"date":"2021-11-23T22:55:52","date_gmt":"2021-11-23T15:55:52","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/?p=2157"},"modified":"2021-12-15T22:58:22","modified_gmt":"2021-12-15T15:58:22","slug":"unsur-unsur-musik-dalam-lagu-daerah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/2021\/11\/unsur-unsur-musik-dalam-lagu-daerah\/","title":{"rendered":"Unsur-Unsur Musik dalam Lagu Daerah"},"content":{"rendered":"<p>Unsur-unsur musik antara satu lagu daerah dengan lagu daerah lainnya memiliki perbedaan, tetapi kadang-kadang ada unsur yang sama. Berikut ini adalah unsur-unsur music yang umumnya ditemui dalam lagu daerah.<\/p>\n<p><strong>Nada<\/strong><br \/>\nSecara umum nada dipahami sebagai tinggi rendah bunyi dalam musik. Ada yang menyebutnya dengan istilah titinada, tangga nada atau laras. Nada ini merupakan unsur utama dalam musik. Namun, tidak semua musik daerah memiliki tangga nada. Kothekan lesung di Jawa, beghu di Flores, atau gondhang di Sumatera Utara tidak memiliki tangga nada. Selain itu, sejumlah daerah juga memiliki nada tersendiri, misalnya di Jawa dan Bali mengenal nada slendro dan pelog, di Sunda ada nada degung, manenda, salendro, dan pelog. Selain itu, music Minang justru memiliki nada yang mirip dengan nada diatonis.<\/p>\n<p><strong>Irama<\/strong><br \/>\nIrama adalah ketukan yang teratur, pola ritme tertentu yang dinyatakan dengan nama. Sebagai contoh, dalam gamelan Jawa dikenal beberapa tingkatan irama, yaitu lancer, tanggung, dadi, wiled, dan rangkep. Daerah-daerah lain seperti Sunda, Bali, Madura, dan Lombok juga memiliki tingkatan irama tersendiri. Secara khusus, irama dapat di definisikan sebagai susunan tertentu yang mengatur kecepatan panjang-panjang not dalam suatu musik.<\/p>\n<p><strong>Dinamik<\/strong><br \/>\nDinamik merupakan keras lemah sebuah nada yang dinyanyikan. Dinamik lagu akan memengaruhi suasana lagu tersebut. Dalam musik nontradisional ada dua istilah pokok dinamik lagu, yaitu forte dan piano. Forte berarti \u201ckuat\u201d dan piano berarti \u201clembut\u201d. Dalam notasi musik, forte disingkat f gan piano disingkat p. Kuat lemah sebuah lagu bervariasi sehingga selain forte dan piano masih terdapat ninamik lagu lainnya.<\/p>\n<p><strong>Tempo<\/strong><br \/>\nTempo merupakan istilah untuk menggambarkan cepat lambatnya lagu. Dalam lagu nontradisional istilah tempo biasanya menggunakan Bahasa Italia. Beberapa istilah tempo utama dalam music nontradisional, yaitu sebagai berikut.<br \/>\n<strong>Largo<\/strong> berarti lambat sekali<br \/>\n<strong>Lento<\/strong> berarti lebih lambat<br \/>\n<strong>Adagio<\/strong> berarti lambat<br \/>\n<strong>Adante<\/strong> berarti sedang<br \/>\n<strong>Moderato<\/strong> berarti sedang agak cepat<br \/>\n<strong>Allegro<\/strong> berarti cepat<br \/>\n<strong>Vivace<\/strong> berarti lebih cepat<br \/>\n<strong>Presto<\/strong> beraarti cepat sekali<\/p>\n<p><strong>Author: <\/strong>Callista Anastasia<br \/>\n<strong>Sumber:<\/strong><br \/>\nMurtono, Sri, Mirna Indrianti, dan Tanti Firmansyah. 2017. Seni Budaya 2 SMP Kelas VIII. Jakarta: Yudhistira<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Unsur-unsur musik antara satu lagu daerah dengan lagu daerah lainnya memiliki perbedaan, tetapi kadang-kadang ada unsur yang sama. Berikut ini adalah unsur-unsur music yang umumnya ditemui dalam lagu daerah. Nada Secara umum nada dipahami sebagai tinggi rendah bunyi dalam musik. Ada yang menyebutnya dengan istilah titinada, tangga nada atau laras. Nada ini merupakan unsur utama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":53,"featured_media":2158,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-2157","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2157","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/users\/53"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2157"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2157\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2159,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2157\/revisions\/2159"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2158"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2157"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2157"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2157"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}