    {"id":2147,"date":"2021-11-05T22:01:44","date_gmt":"2021-11-05T15:01:44","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/?p=2147"},"modified":"2021-12-15T22:03:08","modified_gmt":"2021-12-15T15:03:08","slug":"alat-musik-sape","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/2021\/11\/alat-musik-sape\/","title":{"rendered":"Alat Musik Sape"},"content":{"rendered":"<p>Sape\u2019 adalah alat musik petik yang berasal dari Kalimantan. Sape\u2019 merupakan alat musik tradisional suku Dayak Kenyah dan telah ada sejak tahun 1350-1450. Model dan cara bermain dari alat musik ini mirip seperti gitar klasik, namun tidak memiliki lekukan yang dimiliki gitar. Desain Sape\u2019 ini diperkirakan mengikuti model perahu yang menjadi alat transportasi masyarakat Dayak. Ornamen yang dibuat juga mengandung unsur-unsur cerita rakyat (folklore) suku Dayak. Bagian kepala atau ole\u2019 pada instrumen yang tradisional biasanya dibuat menyerupai Burung Enggang (Buceros bicornis) yang melambangkan keagungan. Ukiran simbol naga biasanya dapat ditemukan pada sepanjang batek atau tubuh bagian depan Sape\u2019 tradisional. Jumlah dawai atau senar pada alat musik ini juga berbeda dengan gitar pada umumnya. Sape\u2019 awalnya hanya memiliki 2 dawai lalu berkembang menjadi 3 dawai. Sekarang, alat musik ini sudah ada yang menggunakan 5 dawai. <\/p>\n<p>Laba atau senar pada alat musik Sape\u2019 memiliki pengaturan yang tersendiri juga. Hal ini dikarenakan cara permainan masyarakat Dayak yang unik. Cara memainkan alat musik Sape\u2019 ini dinamakan tekidun yang berarti berusaha untuk mengeluarkan suara yang berkesinambungan. Senar satu berfungsi sebagai melodi dan senar kedua dan tiga berfungsi sebagai bass. Steman nada pada senar satu dan dua sama-sama berada di 1 (do) dan senar ketiga berfungsi untuk membunyikan nada 5 (sol). <\/p>\n<p>Lagu yang dimainkan alat musik Sape\u2019 pada umumnya hanya membunyikan lima not yang berbeda pada satu oktaf sepanjang lagu. Lima not dalam satu oktaf berarti Sape\u2019 menggunakan scale atau tangga nada pentatonis. Tangga nada pentatonis hanya memiliki lima nada yang berbeda atau pitch dalam satu oktafnya. Berbeda dengan tangga nada heptatonis yang populer digunakan dan memiliki 7 nada yang berbeda atau pitch-nya. Tangga nada yang lengkap atau tangga nada yang menggunakan 12 not dalam satu oktafnya dinamakan tangga nada kromatis atau dodecatonic. Tangga nada ini berkorespondensi dengan not-not yang ada di alat musik piano. Namun, sekarang ada juga Sape\u2019 yang sudah menggunakan tangga nada heptatonis atau lebih tepatnya diatonic dan kromatis. Terutama pada Sape\u2019 yang sudah memiliki lebih dari empat senar.<\/p>\n<p>Jenis tangga nada pentatonik yang biasa digunakan alat musik ini juga cukup unik. Sape\u2019 biasa menggunakan tangga nada pentatonis hemitonis dan anhemitonis. Scale atau tangga nada hemitonis berarti interval nada satu ke nada kedua terdekat ada yang bernilai satu semitone. Berbeda dengan anhemitonis yang tidak ada interval dua not terdekat yang bernilai satu semitone. Semitone sendiri adalah nilai interval atau jarak terkecil dari dua not yang berbeda pitch. <\/p>\n<p><strong>Author:<\/strong> Richard Yohanes Langitan<br \/>\n<strong>Referensi:<\/strong><br \/>\nPrananda, JD 2020, Studi eksplorasi etnomatematika pada alat musik Sape\u2019 dalam budaya masyarakat suku Dayak Kalimantan, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sape\u2019 adalah alat musik petik yang berasal dari Kalimantan. Sape\u2019 merupakan alat musik tradisional suku Dayak Kenyah dan telah ada sejak tahun 1350-1450. Model dan cara bermain dari alat musik ini mirip seperti gitar klasik, namun tidak memiliki lekukan yang dimiliki gitar. Desain Sape\u2019 ini diperkirakan mengikuti model perahu yang menjadi alat transportasi masyarakat Dayak. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":53,"featured_media":2148,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-2147","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2147","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/users\/53"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2147"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2147\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2149,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2147\/revisions\/2149"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2148"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2147"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2147"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/paramabira\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2147"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}