Sore Gagal Masuk Nominasi Oscar, Ini yang Tetap Patut Dihargai

Saat Sore: Istri dari Masa Depan diumumkan untuk mewakili Indonesia di ajang Oscar, banyak yang senang dan merasa setuju karena film ini membawa sesuatu yang berbeda. Cerita yang tidak berisik, namun pelan-pelan menyentuh. Maka dari itu orang-orang banyak berspekulasi “Mungkinkah kali ini Indonesia melangkah lebih dekat ke Oscar?”
Sayangnya, kenyataan berkata lain. Sore harus menerima fakta bahwa perjalanannya di Oscar berhenti lebih awal, karena tidak berhasil masuk ke daftar nominasi resmi.
Terlepas dari hasil akhirnya, tidak bisa dipungkiri bahwa Sore sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Memadukan kisah cinta dengan konsep waktu, tanpa kehilangan sentuhan emosional yang dekat dengan penonton Indonesia.
Respons publik pun cukup positif. Banyak penonton merasa film ini “tenang”, tidak berisik secara visual, tapi kuat secara rasa. Inilah yang kemudian membuat Sore dipercaya untuk mewakili Indonesia di ajang perfilman internasional sebesar Oscar.
Masuk sebagai perwakilan resmi saja bukan hal yang mudah. Banyak proses kurasi, diskusi, dan pertimbangan panjang sebelum satu judul dipilih untuk membawa nama Indonesia ke jenjang internasional.
Tidak lolos ke nominasi tentu mengecewakan, terutama bagi tim film dan penonton yang sudah menaruh harapan. Namun, perlu diingat bahwa Oscar bukan sekadar soal kualitas film, melainkan juga soal selera juri, minat global, hingga persaingan antarnegara yang sangat ketat.
Yang patut diapresiasi dari Sore adalah keberaniannya membawa cerita lokal dengan cara yang jujur. Film ini tidak mencoba “terlihat internasional”, tapi tetap setia pada gaya bertuturnya sendiri. Justru di situlah kekuatannya.
Lebih dari itu, Sore ikut membuka jalan dan memberi pengalaman berharga bagi industri film Indonesia. Setiap kali film lokal melangkah ke level internasional, selalu ada pembelajaran yang bisa dibawa pulang.
Sore memang belum berhasil mencatatkan namanya di daftar nominasi Oscar. Tapi perjalanan film ini tetap berarti. Ia sudah membuktikan bahwa film Indonesia punya ruang untuk hadir di ranah global, meski jalannya tidak selalu mulus.
Mungkin hari ini belum menang. Tapi dari langkah-langkah seperti inilah, sinema Indonesia perlahan belajar, tumbuh, dan suatu hari nanti, benar-benar siap berdiri sejajar di panggung dunia.