Denim Day : A Form of Support for Survivors of Sexual Misconduct
29 April 2026 lalu merupakan pelaksanaan dari Denim Day yakni sebuah hari yang diperingati untuk memberikan unjuk rasa pada penyintas kekerasan seksual. Denim Day ditunjukkan dengan menggunakan baju dan celana yang memiliki unsur denim pada hari Rabu terakhir di bulan April sebagai bentuk solidaritas dan keberanian untuk turut menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk semua orang. Denim Day adalah sebuah gerakan protes global yang berdiri untuk melawan kekerasan seksual dan victim blaming. Aksi protes ini dimulai dari keputusan Mahkamah Agung Italia tahun 1998 yang membatalkan hukuman pemerkosaan karena korban mengenakan celana jeans ketat, yang menyiratkan bahwa dia membantu melepaskannya (‘alibi jeans’). Perempuan di Parlemen Italia mengenakan denim di kemudian harinya sebagai bentuk solidaritas dan meluncurkan gerakan global untuk melawan sikap menyalahkan korban.
Sebagai perwujudan bagian dari kampanye ini, Student Development Centre (SDC) BINUS@Malang mengadakan pameran Denim Day di lobby kampus. Kampanye ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap isu kekerasan seksual yang seringkali masih dianggap tabu untuk dibicarakan. Mahasiswa, dosen, hingga staf diajak untuk mengenakan pakaian denim pada hari tersebut sebagai wujud solidaritas nyata. Tidak hanya sekadar aksi berpakaian, SDC juga menyediakan ruang kampanye berupa informasi, pesan-pesan dukungan, serta media edukasi yang tersebar di area kampus, agar pesan perlawanan terhadap kekerasan seksual benar-benar tersampaikan dan dipelajari oleh seluruh warga kampus. Melalui inisiatif ini, BINUS@Malang menegaskan komitmennya dalam membangun budaya kampus yang inklusif, suportif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Lebih dari sekadar mengenakan denim, Denim Day mengajak kita semua untuk belajar hadir. Tidak hanya hadir bagi diri sendiri, namun juga hadir bagi orang-orang di sekitar kita. Kekerasan seksual bisa terjadi pada siapa saja, dan tidak ada satu pun korban yang layak disalahkan atas apa yang dialaminya. Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal sedang berjuang menanggung beban itu, ketahuilah: kamu tidak sendirian. Keberanian untuk berbicara merupakan langkah pertama yang paling penting. Karena itu bukan tanda kelemahan, melainkan bukti keberanian yang luar biasa. Lingkungan yang aman dimulai dari kita, dari keberanian kita untuk mendengar tanpa menghakimi, dan dari keberanian kita untuk bersuara ketika melihat ketidakadilan. Bersama, kita bisa menciptakan ruang di mana setiap orang merasa aman, dihargai, dan didengar.