    {"id":268,"date":"2016-03-04T21:46:07","date_gmt":"2016-03-04T14:46:07","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/?p=268"},"modified":"2016-03-04T21:53:40","modified_gmt":"2016-03-04T14:53:40","slug":"legenda-kelinci-bulan-dari-jepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/2016\/03\/04\/legenda-kelinci-bulan-dari-jepang\/","title":{"rendered":"Legenda  Kelinci Bulan dari Jepang"},"content":{"rendered":"<p><strong>NipponClub &#8211; <\/strong>Bila melihat bulan, beberapa orang dari negara di <strong>Eropa<\/strong> mungkin akan berpikir tentang legenda \u201c<em>the Man in the moon<\/em>\u201d. Namun di legenda <strong>Jepang<\/strong>, yang ada adalah \u201c<em>the Rabbit in the Moon<\/em>.\u201d Menurut mereka, bulan ditinggali oleh seekor kelinci yang selalu menumbuk kue Mochi.<\/p>\n<p>Kepercayaan ini berdasar dari sebuah dongeng atau cerita rakyat Jepang berjudul <strong>Tsuki no Usagi<\/strong> (Kelinci Bulan).<\/p>\n<p>Alkisah, pada zaman dahulu, hiduplah seekor kelinci, rubah, dan monyet. Mereka tinggal di dalam hutan dan bersahabat dengan baik. Dewa penjaga Bulan yang mengamati mereka dari langit ingin tahu siapa dari mereka yang paling baik hati. Maka, ia turun ke Bumi dengan menyamar menjadi seorang pengemis.<\/p>\n<p>\u201cTolong, saya sudah berhari-hari tidak makan. Saya sangat kelaparan\u201d, katanya. \u201ctolonglah kakek tua ini.\u201d<\/p>\n<p>Ketiga hewan itu setuju untuk pergi mencari makanan untuk diberikan kepada pengemis tua itu.<\/p>\n<p>Beberapa saat kemudian, monyet datang membawakan banyak buah dan rubah datang membawa seekor ikan besar. Tetapi, hanya kelinci yang tidak mampu menemukan apapun. Ia terlalu pendek untuk mengambil buah di ranting, dan tidak bisa menangkap ikan di sungai.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-content\/uploads\/sites\/26\/2016\/03\/MoonRabbit_2.jpg\" rel=\"attachment wp-att-270\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-270\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-content\/uploads\/sites\/26\/2016\/03\/MoonRabbit_2.jpg\" alt=\"MoonRabbit_2\" width=\"700\" height=\"451\" \/><\/a><\/p>\n<p>Kemudian, kelinci meminta tolong teman-temannya untuk mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api.\u00a0 Ketika api sudah menyala terang, kelinci berkata kepada pengemis itu, \u201caku tidak bisa memberikanmu apapun. Namun aku tidak akan membiarkanmu kelaparan. Aku akan masuk ke dalam api, setelah matang makanlah dagingku supaya kamu tidak lapar lagi.\u201d Seketika itu juga, kelinci melompat ke dalam api.<\/p>\n<p>Namun dalam sekejap sang dewa menyelamatkan kelinci dan menampakkan wujud aslinya. \u201cKau tidak perlu membakar dirimu, wahai kelinci. Sebenarnya aku adalah dewa penjaga bulan. Ketulusan dan kebaikanmu membuatku terharu. Ikutlah denganku ke bulan untuk menemaniku.\u201d<\/p>\n<p>Sejak saat itu, kelinci tinggal bersama sang dewa. Ia melayani sang dewa dan mengawasi bumi dari kejauhan. Bila monyet dan rubah merindukan sahabatnya, mereka memandang bulan di langit untuk melihatnya. Dan bila bulan purnama tiba akan terlihat si kelinci yang sedang membuatkan mochi untuk sang dewa.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-content\/uploads\/sites\/26\/2016\/03\/MoonRabbit_3.jpg\" rel=\"attachment wp-att-271\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-271\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-content\/uploads\/sites\/26\/2016\/03\/MoonRabbit_3.jpg\" alt=\"MoonRabbit_3\" width=\"540\" height=\"254\" \/><\/a><\/p>\n<p>Legenda ini ternyata tidak hanya dipercayai orang Jepang, tetapi juga <strong>China<\/strong> dan <strong>Korea<\/strong>. Di legenda China, kelinci tersebut sering digambarkan sebagai teman dari dewi Bulan <strong>Chang&#8217;e<\/strong>, yang sedang membuat ramuan kehidupan abadi untuknya; namun pada versi Jepang dan Korea, kelinci tersebut digambarkan sedang membuat kue nasi atau disebut Mochi.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-content\/uploads\/sites\/26\/2016\/03\/MoonRabbit_4.jpg\" rel=\"attachment wp-att-272\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-272\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-content\/uploads\/sites\/26\/2016\/03\/MoonRabbit_4.jpg\" alt=\"MoonRabbit_4\" width=\"670\" height=\"413\" \/><\/a><\/p>\n<p>Hal lain yang menarik adalah, anime legendaris <strong>Sailor Moon<\/strong> yang sangat popular di dunia, mengambil sedikit inspirasi dari legenda ini. Karakter utama Sailor moon yang bernama <strong>Usagi Tsukino<\/strong>,\u00a0 memiliki penulisan nama kanji yang dapat diartikan sebagai bulan (\u6708, <em>tsuki<\/em>) dan bidang (\u91ce, <em>no<\/em>). Nama depannya, Usagi, adalah bahasa Jepang dari kelinci. Bahkan desain karakternya seperti menyerupai kelinci, dengan rambut kuncir dua yang panjang.<\/p>\n<p>Menarik yah teman-teman. Sesuatu yang merupakan sebuah legenda terkadang sering kita resapi sebagai suatu kenyataan yang akan dibawakan turun-temurun kepada anak cucu kita. Budaya seperti ini ada baiknya kita pertahankan demi melestarikan originalitasnya loh! Jadi, jangan buang budaya kita yah J!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>NipponClub &#8211; Bila melihat bulan, beberapa orang dari negara di Eropa mungkin akan berpikir tentang legenda \u201cthe Man in the moon\u201d. Namun di legenda Jepang, yang ada adalah \u201cthe Rabbit in the Moon.\u201d Menurut mereka, bulan ditinggali oleh seekor kelinci yang selalu menumbuk kue Mochi. Kepercayaan ini berdasar dari sebuah dongeng atau cerita rakyat Jepang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":111,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,9],"tags":[23,21,22,25,20,24,26],"class_list":["post-268","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-article","category-slideshow","tag-budaya","tag-kelinci-bulan","tag-legenda-jepang","tag-mitos","tag-moon-rabbit","tag-tradisi","tag-unik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/268","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/users\/111"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=268"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/268\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":273,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/268\/revisions\/273"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=268"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=268"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=268"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}