    {"id":2446,"date":"2021-09-28T20:11:18","date_gmt":"2021-09-28T13:11:18","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/?p=2446"},"modified":"2021-09-28T20:11:54","modified_gmt":"2021-09-28T13:11:54","slug":"ciee-ciee-3-hal-ini-bermakna-romantis-lho-di-jepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/2021\/09\/28\/ciee-ciee-3-hal-ini-bermakna-romantis-lho-di-jepang\/","title":{"rendered":"Ciee Ciee, 3 Hal Ini Bermakna Romantis Lho di Jepang!"},"content":{"rendered":"<p>Halo <em>minna-san<\/em>! Langsung saja nih bertanya, apa pernah <em>minna-san <\/em>memiliki perasaan romantis pada orang lain? Wajar sekali nih kalau pernah. Tapi bagaimana perwujudannya tentu beragam kan, misalnya beberapa hal di Jepang yang akan kita bahas kali ini. Sekilas terlihat biasa saja, tapi bisa langsung mengundang sorakan \u201c<em>Ciee<\/em>\u201d dari teman yang paham. Hmm, apa saja ya kira-kira? Ayo simak artikel kali ini!<\/p>\n<h3 id=\"1-menulis-2-nama-dibawah-payung\">1. Menulis 2 nama dibawah payung<\/h3>\n<figure class=\"kg-card kg-image-card\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/nipponclub.net\/content\/images\/2021\/09\/gambar1.jpg\" class=\"kg-image\" alt width=\"640\" height=\"426\"><\/figure>\n<p>Di Jepang hal ini memiliki sebutan <em>Aiai Gasa<\/em> (\u76f8\u5408\u5098). <em>Aiai<\/em> (\u76f8\u5408) berarti <br \/>Berbagi\u201d atau melakukan sesuatu bersama, sementara <em>Gasa<\/em> (\u5098) diambil dari kata <em>Kasa <\/em>yang berarti \u201cPayung\u201d. Jadi kurang lebih artinya kalau disatukan adalah \u201cBerbagi payung\u201d. Namun, karena bahasa Jepang memiliki banyak kata homonin, maknanya sering diplesetkan menjadi \u201cPayung Cinta\u201d. Ini dikarenakan \u201c<em>Aiai<\/em> (\u76f8\u5408)\u201d terdengar seperti kata \u201c<em>Ai<\/em> (\u611b)\u201d yang diulang 2 kali, dan artinya adalah \u201cCinta\u201d.<\/p>\n<p>Biasanya seseorang akan menulis namanya beserta nama orang yang ia suka berdampingan dibawah sebuah payung. Payungnya sendiri biasanya digambar seperti panah menghadap keatas dengan simbol hati di pucuknya. Kalau diterapkan secara langsung, dengan 2 orang lawan jenis berbagi payung bersama dibawah hujan, ini juga dinilai romantis lho. Ini dikarenakan jarak sempit diantara 2 orang yang berdampingan, apalagi jika mengingat budaya orang Jepang yang tidak banyak menunjukkan kontak fisik.<\/p>\n<h3 id=\"2-memberikan-kancing-kedua-dari-baju-seragam\">2. Memberikan kancing kedua dari baju seragam<\/h3>\n<figure class=\"kg-card kg-image-card\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/nipponclub.net\/content\/images\/2021\/09\/gambar2.jpg\" class=\"kg-image\" alt width=\"450\" height=\"338\"><\/figure>\n<p>Terdapat tradisi kelulusan di Jepang dimana seorang anak laki-laki akan memberikan kancing urutan kedua teratas dari seragam mereka kepada anak perempuan yang mereka sukai. Tidak jarang juga bila anak laki-laki itu populer, bisa ada lebih dari 1 anak perempuan yang merupakan fans nya memintai kancing tersebut. Tradisi ini dipopulerkan oleh film tahun 1960 berjudul <em>Konpeki Sora no Tooku<\/em>, dimana terdapat adegan seorang prajurit memberikan kancing keduanya sebagai hadiah terakhir pada gadis yang ia cintai sebelum pergi berperang.<\/p>\n<p>Nah, dari sini mungkin <em>minna-san<\/em> mulai penasaran \u201cKenapa harus kancing yang kedua?\u201d.<\/p>\n<figure class=\"kg-card kg-image-card\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/nipponclub.net\/content\/images\/2021\/09\/87456.jpg\" class=\"kg-image\" alt width=\"768\" height=\"512\"><\/figure>\n<p>Alasan ini memiliki banyak teori, tapi yang paling umum adalah karena \u201cKancing kedua adalah yang paling dekat dengan jantung seseorang\u201d. 3 tahun lamanya kancing tersebut berdampingan dengan degup jantung pemiliknya, seolah sudah menyimpan semua perasaan terpendamnya. Kalau disimpulkan maknanya seperti memberikan seluruh perasaanmu terhadap seorang yang kamu cintai. Selain itu teori berikutnya ialah setiap 5 kancing pada seragam <em>gakuran<\/em> yang digunakan anak laki-laki memiliki makna masing-masing. Kancing pertama mewakili diri sendiri, kancing kedua mewakili orang tercinta, ketiga mewakili teman, keempat mewakili keluarga, dan kelima mewakili orang lain.<\/p>\n<h3 id=\"3-%E2%80%9Cbulannya-indah-bukan%E2%80%9D\">3. \u201cBulannya indah bukan?\u201d<\/h3>\n<figure class=\"kg-card kg-image-card\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/nipponclub.net\/content\/images\/2021\/09\/87459.jpg\" class=\"kg-image\" alt width=\"960\" height=\"640\"><\/figure>\n<p>Jika diubah ke bahasa Jepang, kalimatnya akan menjadi \u201c\u6708\u304c\u7dba\u9e97\u3067\u3059\u306d\u201d atau dibaca \u201c<em>Tsuki ga kirei desu ne<\/em>?\u201d. Konon katanya, kalimat ini pertama kali diungkapkan oleh novelis terkenal Jepang pada abad ke-19, Souseki Natsume. Sedikit trivia, saking terkenalnya wajah novelis ini pernah di cetak di uang 1000 yen lho. \u00a0Nah, ketika Souseki Natsume masih bekerja sebagai guru bahasa inggris, muridnya mengatakan \u201c<em>Ware kimi wo aisu<\/em>\u201d yang merupakan arti harfiah per-kata untuk \u201cAku mencintai kamu\u201d dalam bahasa Jepang. Kalau dijabarkan <em>ware<\/em> berarti saya, <em>kimi <\/em>berarti kamu, dan <em>aisu<\/em> berarti mencintai.<\/p>\n<p>Ketika mendengarnya, Souseki Natsume segera memberi tau muridnya kalau orang Jepang tidak menyatakan cinta secara terang-terangan. Ia mengatakan pada muridnya bahwa lebih baik menggunakan \u201cBulannya indah bukan?\u201d sebagai kalimat pernyataan cinta. Kalimat ini dinilai penuh kasih sayang, romantis, dan cantik meskipun tidak memiliki arti cinta secara harfiah. Banyak juga yang menganggap kalimatnya lebih terdengar cerdas dan memiliki nilai sastra dibanding menyatakan cinta langsung. Meskipun begitu, yang memahami kalimat ini hanya orang tertentu yang menyukai perumpamaan atau mengikuti tren. Jadi pastikan orang kesayanganmu mengerti maknanya sebelum menyatakan cinta dengan kalimat ini ya!<\/p>\n<p>Sekian <em>minna-san<\/em> untuk artikel kali ini, semua terlihat romantis sekali ya! Apa ada dari <em>minna-san<\/em> yang ingin mencoba hal-hal diatas pada yang disayang? Hihi, semoga perasaannya tersampaikan. Sampai jumpa di artikel berikutnya.<\/p>\n<p>Sumber: <a href=\"https:\/\/skdesu.com\/en\/aiaigasa-love-umbrella\/\">Suki Desu<\/a>, <a href=\"https:\/\/owlmagazine.net\/2020\/10\/01\/japanese-school-uniform-second-button\/\">Owl Magazine<\/a>, <a href=\"https:\/\/www.italki.com\/article\/909\/confessing-your-love-in-japanese\">italki<\/a><\/p>\n<p>Author: Nao<\/p>\n<p>Editor: MiwMiw<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Halo minna-san! Langsung saja nih bertanya, apa pernah minna-san memiliki<br \/>\nperasaan romantis pada orang lain? Wajar sekali nih kalau pernah. Tapi bagaimana<br \/>\nperwujudannya tentu beragam kan, misalnya beberapa hal di Jepang yang akan kita<br \/>\nbahas kali ini. Sekilas terlihat biasa saja, tapi bisa langsung mengundang<br \/>\nsorakan \u201cCiee\u201d dari teman yang paham. Hmm, apa saja ya kira-kira? Ayo simak<br \/>\nartikel kali ini!<\/p>\n<p>1. Menulis 2 nama dibawah payung<br \/>\nDi Jepang hal ini memiliki sebutan Aiai Gasa (\u76f8\u5408\u5098). Aiai (\u76f8\u5408)<\/p>\n","protected":false},"author":34,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-2446","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2446","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/users\/34"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2446"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2446\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2447,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2446\/revisions\/2447"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2446"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2446"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2446"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}