    {"id":2365,"date":"2021-04-30T21:14:43","date_gmt":"2021-04-30T14:14:43","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/?p=2365"},"modified":"2021-04-30T21:14:45","modified_gmt":"2021-04-30T14:14:45","slug":"kabuki-seni-teater-jepang-yang-spektakuler","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/2021\/04\/30\/kabuki-seni-teater-jepang-yang-spektakuler\/","title":{"rendered":"Kabuki, Seni Teater Jepang yang Spektakuler"},"content":{"rendered":"<p><em>Minna-san, konnichiwa<\/em>! Semoga kabar <em>minna-san<\/em> baik ya. Pada artikel ini, kita akan membahas tentang panggung teater tradisional Jepang nih, yaitu <em>Kabuki<\/em>. Kabuki merupakan suatu seni teater yang menjadi representatif Jepang lho! Ayo simak sampai akhir untuk tahu lebih lanjut.<\/p>\n<figure class=\"kg-card kg-image-card\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/nipponclub.net\/content\/images\/2021\/04\/gambar-1.jpg\" class=\"kg-image\" alt width=\"2045\" height=\"1000\"><\/figure>\n<p>Kabuki (\u6b4c\u821e\u4f0e) merupakan sebuah teater drama-tari Jepang, dalam kanjinya, terdapat 3 arti berbeda yaitu \u6b4c yang berarti \u201cLagu\u201d, \u821e yang berarti \u201cMenari\u201d, dan \u4f0e yang berarti \u201cKemampuan\u201d. Kemampuan yang dimaksud disini adalah anggota pemain sandiwara dalam Kabuki. Selain itu, banyak juga yang percaya bahwa Kabuki berasal dari kata Kabuku (\u50be) yang berarti \u201cbeda dari yang biasa\u201d. Kabuki juga sering diintepretasikan sebagai teater yang \u201cSpektakuler\u201d, dikarenakan dari betapa meriahnya seni teater yang satu ini dari segi riasan pemainnya hingga pembawaan penampilannya.<\/p>\n<p>Teater Kabuki pertama kali diperkenalkan oleh Okuni, seorang wanita yang diduga sebagai salah satu miko (gadis kuil) di kuil Izumo. Ia membawakan pertunjukan dengan kelompok berisi perempuan yang juga memainkan peran pria. Teater ini tidak mengikuti tradisi kaku yang ada pada saat itu, dimana pertunjukkan bersifat agamis dan ditunjukkan pada dewa, melainkan menampilkan parodi kehidupan keseharian bahkan hingga masalah percintaan dengan cara yang menghibur. Dengan penampilan yang sangat tidak biasa pada era tersebut, tidak butuh waktu lama bagi Kabuki untuk mencapai popularitasnya. Pertunjukannya diminta untuk tampil di Istana Kerajaan dan karena begitu disukai masyarakat luas, gaya teater Kabuki pun menyebar hingga ke seluruh Jepang.<\/p>\n<p>Namun, 30 tahun setelah ketenarannya, Kabuki dilarang oleh ke<em>shogun<\/em>an pada masa itu untuk dipertunjukkan oleh wanita. Hal ini dikarenakan banyaknya rumor mengenai protistusi di dalam Kabuki. Jadi dalam rangka menjaga moral, Kabuki pun mulai ditampilkan oleh pria dewasa saja. Kabuki tipe seperti ini lah yang berkembang dan dikenal hingga saat ini. Pertunjukannya tidak lagi hanya tentang keseharian, tapi juga peristiwa-peristiwa bersejarah yang terus bergerak dengan masyarakat dan waktu.<\/p>\n<figure class=\"kg-card kg-image-card\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/nipponclub.net\/content\/images\/2021\/04\/Gambar-2-4.jpg\" class=\"kg-image\" alt width=\"1050\" height=\"700\"><\/figure>\n<p>Dalam pertujukannya, para pemeran memakai kostum dan riasan yang disesuaikan dengan peran yang mereka jalani. Perlu diingat pertunjukan ini hanya ditampilkan oleh pria dewasa, terbagi menjadi 3 jenis peran, yaitu peran wanita (<em>onnagata<\/em>), peran pria (<em>tachiyaku<\/em>), dan peran jahat (<em>katakiyaku<\/em>). Riasan dan kostum mereka begitu meriah dan mencolok, sehingga menarik perhatian penonton serta lebih mudah untuk membedakan peran setiap karakter. Cara mereka memerankan karakter secara umum terbagi menjadi 2, yaitu <em>Aragoto<\/em> dan <em>Wagoto<\/em>. Aragoto merupakan penampilan yang heboh dan berlebihan, sementara Wagoto merupakan penampilan yang lebih tenang dan realitis.<\/p>\n<p>Hingga saat ini, teater Kabuki masih menjadi suatu penampilan yang populer di Jepang. Teater Kabuki paling terkenal di Jepang telah berumur 100 tahun bernama <em>Kabuki-ka<\/em> yang terletak di Giza, Tokyo. Teater tersebut telah mengalami renovasi pada tahun 2010 hingga 2013 lalu, tapi meski begitu arsitektur awalnya tetap dipertahankan. <em>Minna-san <\/em>juga harus tau nih, sejak tahun 2005 Kabuki telah masuk ke daftar <em>UNESCO <\/em>sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia, keren sekali bukan?<\/p>\n<p>Nah sekian artikel kali ini, Kabuki sangat menarik ya. Kalau suatu saat <em>minna-san<\/em> pergi ke Jepang setelah pandemi berakhir, jangan lupa untuk menyaksikan penampilan Kabuki secara langsung! Sampai jumpa di artikel berikutnya.<\/p>\n<p>Sumber : <a href=\"https:\/\/www.britannica.com\/art\/Kabuki\">Britannica<\/a>, <a href=\"https:\/\/www.his-travel.co.id\/blog\/article\/detail\/seni-teater-jepang-kabuki\">HIS<\/a><\/p>\n<p>Author : Nao<\/p>\n<p>Editor : MiwMiw<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Minna-san, konnichiwa! Semoga kabar minna-san baik ya. Pada artikel ini, kita<br \/>\nakan membahas tentang panggung teater tradisional Jepang nih, yaitu Kabuki.<br \/>\nKabuki merupakan suatu seni teater yang menjadi representatif Jepang lho! Ayo<br \/>\nsimak sampai akhir untuk tahu lebih lanjut.<\/p>\n<p>Kabuki (\u6b4c\u821e\u4f0e) merupakan sebuah teater drama-tari Jepang, dalam kanjinya, terdapat<br \/>\n3 arti berbeda yaitu \u6b4c yang berarti \u201cLagu\u201d, \u821e yang berarti \u201cMenari\u201d, dan \u4f0e yang<br \/>\nberarti \u201cKemampuan\u201d. Kemampuan yang dimaksud disini adalah ang<\/p>\n","protected":false},"author":34,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-2365","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2365","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/users\/34"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2365"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2365\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2366,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2365\/revisions\/2366"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2365"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2365"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/nc\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2365"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}