    {"id":3898,"date":"2022-01-07T08:57:41","date_gmt":"2022-01-07T01:57:41","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/?p=3898"},"modified":"2021-12-27T21:18:53","modified_gmt":"2021-12-27T14:18:53","slug":"rukun-sholat-5-6","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/2022\/01\/07\/rukun-sholat-5-6\/","title":{"rendered":"Rukun Sholat (5\/6)"},"content":{"rendered":"<p>Bismillahirrohmanirrohiim<\/p>\n<blockquote><p>Assalamu\u2019alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh<\/p><\/blockquote>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bagian Kelima dalam pembahasan ini yaitu Rukun Sholat. Rukun shalat ada tujuh belas, Menurut Kitab Safinatunnajah. Yaitu:<\/p>\n<p>Pertama, niat.<br \/>\nTempat niat adalah di hati. Dan niat dilaksanakan bersamaan dengan pekerjaan pertama dalam shalat, yaitu takbirat al-ihram. Sedangkan melafadzkan niat dengan lisan adalah disunahkan demi membantu kehadiran niat di dalam hati. Tapi melafadzkan dengan lisan tidak wajib dilakukan.<\/p>\n<p>Kedua, takbirat al-ihram.<br \/>\nDinamakan takbirat al-ihram, sebab dengan memulai takbir maka secara otomatis segenap sesuatu yang halal sebelum shalat, seperti makan dan berkata-kata, telah diharamkan setelah memasuki takbir shalat tersebut<\/p>\n<p>Ketiga, berdiri bagi orang yang mampu.<br \/>\nNabi Muhammad SAW kepada \u2018Imran bin Husyen pada saat \u2018Imran terserang penyakit ambeyen; \u201cShalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu maka duduklah. Jika tidak mampu duduk, maka tidur lah\u201d. Hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari.<\/p>\n<p>Keempat, membaca al-Fatihah.\u00a0Cara membaca al-fatihah boleh dengan hafalan, melihat langsung Mushaf, atau dengan cara mengikuti bacaan sang guru yang melatih atau mengajarinya. Membaca al-fatihah diwajibkan bagi setiap orang yang mekalsanakan shalat, baik shalat berjamaah atau sendirian (munfaridl), baik sebagai imam atau makmum.<\/p>\n<p>Kelima, ruku\u2019.<br \/>\nTata cara ruku\u2019 yaitu pertama, meletakkan kedua tepalak tangannya pada kedua lutut. Kedua, kedua telapak tangan menekan kedua lutut. Ketiga, merenggangkan jari-jemarinya. Keempat, merenggangkan kedua sikunya dari lambungnya. Kelima, membentangkan dan meluruskan punggung sampai selurus papan tulis atau dapat diibaratkan jika punggung itu dituangkan air dari atasnya maka tidak akan tumpah. Keenam, membungkukkan punggung tidak terlalu kebawah dan tidak pula mendongkak terlalu ke atas. Tapi di tengah-tengah di antara keduanya.<\/p>\n<p>keenam, tuma\u2019ninah (diam dan bersahaja) dalam ruku\u2019.<br \/>\nPada saat tuma\u2019ninan, seseorang disunahkan membaca subhana rabbiya al-\u2018adhim wa bihamdihi (maha suci Tuhanku yang maha agung) minimal satu kali bacaan, dan lebih baiknya dibaca sebanyak tiga kali bacaan.<\/p>\n<p>Syarat yang ketujuh, i\u2019tidal.<br \/>\nYang dimaksud i\u2019tidal adalah kembali berdiri dari ruku\u2019. Disunahkan pada waktu i\u2019tidah tepat pada saat mengangkat pundak untuk berdiri dari ruku\u2019 membaca doa \u201csami\u2019alLahu li-man hamidah\u201d (Allah maha mendengar hamba yang telah memujiNya)<\/p>\n<p>Syarat kedelapan, tuma\u2019ninah dalam i\u2019tidal,<br \/>\nyaitu diam dan bersahaja berdiri sambil disunahkan membaca doa \u201cRabbana laka al-hamdu mil\u2019us-samawati wa mil\u2019ul-ardhi wa mil\u2019u ma sy\u2019tha min syai\u2019in ba\u2019dhu\u201d (Tuham kami, hanya bagiMu segala puji yang memenuhi langit, bumi, dan segala sesuatu yang telah Engkau inginkan).<\/p>\n<p>Syarat kesembilan, sujud sebanyak dua kali.<br \/>\nDisunahkan pada waktu sujud dengan membaca doa \u201cSubhana rabbiyal-a\u2019la wa bi-hamdihi\u201d (Maha suci Tuhanku yang maha tinggi, dan dengan menujimu).<\/p>\n<p>Syarat kesepuluh, tuma\u2019ninah (diam dan bersahajah) dalam sujud.<\/p>\n<p>Syarat kesebelas, duduk di antara dua sujud.<br \/>\nPada saat duduk di antara dua sujud disunahkan membaca doa \u201cRabby ighfirly warhamny wajburny warfa\u2019ny warzuqny wahdhiny wa\u2019afiny wa\u2019fu \u2018anny\u201d<\/p>\n<p>Syarat kedua belas, tuma\u2019ninah dalam duduk di antara dua sujud.<\/p>\n<p>Syarat ketiga belas, tasyahhud al-akhir.<\/p>\n<p>Syarat keempat belas, duduk dalam tasyahhud.<\/p>\n<p>Syarat kelima belas, membaca shalawat pada Nabi dalam tasyahud.<\/p>\n<p>Syarat keenam belas, membaca salam.<br \/>\nAda dua salah, yaitu salam pertama dengan memalingkan wajah ke samping kanan dan salam kedua dengan memalingkan wajah ke samping kiri. Salam pertama hukumnya wajib, karena termasuk syarat shalat. Sedangkan salam kedua hukumnya sunnah. Salam paling minimal diucapkan; \u201cAssalamu\u2019alaikum\u201d, dan maksimalnya diucapkan; \u201cAssalamu\u2019alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh\u201d.<\/p>\n<p>Syarat ketujuh belas, tertib.<br \/>\nArtinya menjalankan shalat harus secara tartib (berurutan) mengerjakan satu syarat ke syarat yang lain. Kewajiban mengerjakan shalat secara tartib sebab dalam hadits disebutkan \u201cShalluu kama ra\u2019aytumuny ushally\u201d (shalatlah kalian seperti kalian melihat langsung saya shalat). Jadi segenap pekerjaan shalat harus sesuai dengan shalat Nabi. Sedangkan shalat yang dikerjakan Nabi dilaksanakan secara tartib. Maka setiap orang yang mengerjakan shalat pun harus tartib sebagaimana Nabi mengerjakan shalat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a class=\" xil3i\" href=\"https:\/\/www.instagram.com\/explore\/tags\/serveummahtogetjannah\/\">#ServeUmmahToGetJannah<\/a><br \/>\n<a class=\" xil3i\" href=\"https:\/\/www.instagram.com\/explore\/tags\/mtbinus\/\">#MTBinus<\/a><br \/>\n<a class=\" xil3i\" href=\"https:\/\/www.instagram.com\/explore\/tags\/selfreminder\/\">#Selfreminder<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bismillahirrohmanirrohiim Assalamu\u2019alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh &nbsp; Bagian Kelima dalam pembahasan ini yaitu Rukun Sholat. Rukun shalat ada tujuh belas, Menurut Kitab Safinatunnajah. Yaitu: Pertama, niat. Tempat niat adalah di hati. Dan niat dilaksanakan bersamaan dengan pekerjaan pertama dalam shalat, yaitu takbirat al-ihram. Sedangkan melafadzkan niat dengan lisan adalah disunahkan demi membantu kehadiran niat di dalam hati. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":35,"featured_media":3899,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12,11],"tags":[],"class_list":["post-3898","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","category-fiqih"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3898","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/users\/35"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3898"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3898\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3900,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3898\/revisions\/3900"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3899"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3898"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3898"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3898"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}