    {"id":2420,"date":"2018-10-16T22:09:32","date_gmt":"2018-10-16T15:09:32","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/?p=2420"},"modified":"2018-10-16T22:09:32","modified_gmt":"2018-10-16T15:09:32","slug":"sikap-seorang-muslim-dalam-menghadapi-musibah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/2018\/10\/16\/sikap-seorang-muslim-dalam-menghadapi-musibah\/","title":{"rendered":"Sikap Seorang Muslim dalam Menghadapi Musibah"},"content":{"rendered":"<p>Sebagai hamba All\u00e2h Ta\u2019ala, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal itu merupakan\u00a0<em>sunnatull\u00e2h<\/em>\u00a0yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir.<img decoding=\"async\" title=\"More...\" src=\"https:\/\/manisnyaiman.com\/wp-includes\/js\/tinymce\/plugins\/wordpress\/img\/trans.gif\" alt=\"\" \/><\/p>\n<p>All\u00e2h Ta\u2019ala berfirman:<\/p>\n<p><em>Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan<\/em><strong>\u00a0(Qs al-Anbiy\u00e2\u2019\/21:35)<\/strong><\/p>\n<p>Imam Ibnu Kats\u00eer\u00a0<em>rahimahull\u00e2h<\/em>\u00a0berkata:<\/p>\n<p>\u201c(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa\u201d.<abbr title=\"Tafs\u00eer Ibnu Kats\u00eer (5\/342- cet D\u00e2ru Thayyibah).\">[1]<\/abbr><\/p>\n<p><strong>KEBAHAGIAAN HIDUP DENGAN BERTAKWA KEPADA ALLAH TA\u2019ALA<\/strong><\/p>\n<p>All\u00e2h Ta\u2019ala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat.<\/p>\n<p>All\u00e2h Ta\u2019ala berfirman:<\/p>\n<p><em>Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan All\u00e2h dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu<br \/>\nyang memberi (kemaslahatan)<abbr title=\"Lihat Tafs\u00eer Ibnu Kats\u00eer (4\/34).\">[2]<\/abbr>\u00a0hidup bagimu<\/em>\u00a0<strong>(Qs al-Anf\u00e2l\/8:24)<\/strong><\/p>\n<p>Imam Ibnul Qayyim\u00a0<em>rahimahull\u00e2h<\/em>\u00a0berkata:<\/p>\n<p>\u201c(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya didapatkan dengan memenuhi seruan All\u00e2h Ta\u2019ala dan Rasul-Nya\u00a0<em>Shallall\u00e2hu \u2018Alaihi Wasallam<\/em>. Maka, barang siapa tidak memenuhi seruan All\u00e2h Ta\u2019ala dan Rasul-Nya\u00a0<em>Shallall\u00e2hu \u2018Alaihi Wasallam<\/em>, dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik) meskipun fisiknya hidup, sebagaimana binatang yang paling hina. Jadi, kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang dengan memenuhi seruan All\u00e2h Ta\u2019ala dan Rasul-Nya\u00a0<em>Shallall\u00e2hu \u2018Alaihi Wasallam<\/em>\u00a0secara lahir maupun batin\u201d<abbr title=\"Kitab Al-Faw\u00e2-id (hal 121- cet. Muassasatu Ummil Qura\u2019)\">[3]<\/abbr>.<\/p>\n<p>All\u00e2h Ta\u2019ala berfirman:<\/p>\n<p><em>\u201cDan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)\u201d<\/em><strong>\u00a0(Qs H\u00fbd\/11:3)<\/strong><\/p>\n<p>Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim rahimahull\u00e2h mengatakan:<\/p>\n<p>\u201cDalam ayat-ayat ini All\u00e2h Ta\u2019ala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat.\u00a0<abbr title=\"Al-W\u00e2bilush Shayyib (hal 67- cet. D\u00e2rul Kit\u00e2bil \u2018Arabi).\">[4]<\/abbr><\/p>\n<p><strong>SIKAP SEORANG MUKMIN DALAM MENGHADAPI MASALAH<\/strong><\/p>\n<p>Seorang Mukmin dengan ketakwaannya kepada All\u00e2h Ta\u2019ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan keimanannya yang kuat kepada All\u00e2h Ta\u2019ala membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang All\u00e2h Ta\u2019ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya.<\/p>\n<p>Dengan keyakinannya ini pula All\u00e2h Ta\u2019ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh All\u00e2h Ta\u2019ala dalam firman-Nya:<\/p>\n<p><em>Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin All\u00e2h; barang siapa yang beriman kepada All\u00e2h, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan All\u00e2h Maha Mengetahui segala sesuatu<\/em><strong><br \/>\n(Qs at-Tagh\u00e2bun\/64:11)<\/strong><\/p>\n<p>Imam Ibnu Kats\u00eer rahimahull\u00e2h berkata:<\/p>\n<p>\u201cMaknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir All\u00e2h Ta\u2019ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari All\u00e2h Ta\u2019ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan All\u00e2h Ta\u2019ala tersebut, maka All\u00e2h Ta\u2019ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi All\u00e2h Ta\u2019ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.\u201d<abbr title=\"Tafs\u00eer Ibnu Kats\u00eer (8\/137)\">[5]<\/abbr><\/p>\n<p>Inilah sikap seorang Mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya.<\/p>\n<p>Meskipun All\u00e2h Ta\u2019ala dengan hikmah-Nya yang Maha Sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari All\u00e2h Ta\u2019ala dalam menghadapi musibah tersebut. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang Mukmin.<\/p>\n<p>Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim rahimahull\u00e2h mengatakan:<\/p>\n<p>\u201cSesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) All\u00e2h Ta\u2019ala senantiasa disertai dengan sikap\u00a0<em>ridha<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>ihtis\u00e2b<\/em>\u00a0(mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap\u00a0<em>ridha<\/em>\u00a0tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan\u00a0<em>ihtis\u00e2b<\/em>. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.<\/p>\n<p>Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap\u00a0<em>ridha<\/em>\u00a0dan tidak pula\u00a0<em>ihtis\u00e2b<\/em>. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan).<\/p>\n<p>Sungguh All\u00e2h Ta\u2019ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya:<\/p>\n<p>\u201dJanganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari All\u00e2h apa yang tidak mereka harapkan\u201d<strong>\u00a0(Qs an-Nis\u00e2\/4:104)<\/strong>.<\/p>\n<p>Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan All\u00e2h Ta\u2019ala.\u201d<abbr title=\"Igh\u00e2tsatul Lahf\u00e2n (hal 421-422 \u2013 Maw\u00e2ridul Am\u00e2n)\">[6]<\/abbr><\/p>\n<p><strong>HIKMAH COBAAN<\/strong><\/p>\n<p>Di samping sebab-sebab di atas, ada lagi faktor lain yang bisa meringankan semua kesusahan yang dialami seorang Mukmin di dunia ini, yaitu merenungi dan menghayati hikmah-hikmah agung yang All\u00e2h Ta\u2019ala jadikan dalam setiap ketentuan yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Dengan merenungi hikmah-hikmah tersebut, seorang Mukmin akan semakin yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah kebaikan bagi dirinya, untuk menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada All\u00e2h Ta\u2019ala.<\/p>\n<p>Semua ini, di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap\u00a0<em>husnuzh zhann<\/em>\u00a0(berbaik sangka) kepada All\u00e2h Ta\u2019ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya.<\/p>\n<p>Dengan sikap ini, All\u00e2h Ta\u2019ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena All\u00e2h Ta\u2019ala memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:<\/p>\n<p>\u201cAku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku\u201d.<abbr title=\"HR al-Bukh\u00e2ri (no 7066- cet. D\u00e2ru Ibni Kats\u00eer) dan Muslim (no 2675)\">[7]<\/abbr><\/p>\n<p>Maknanya: All\u00e2h Ta\u2019ala akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada All\u00e2h Ta\u2019ala.<abbr title=\"Lihat kitab Faidhul Qad\u00eer (2\/312) dan Tuhfatul Ahwadzi (7\/53)\">[8]<\/abbr><\/p>\n<p>Di antara hikmah yang agung tersebut adalah:<\/p>\n<table border=\"0\" width=\"709\">\n<tbody>\n<tr>\n<td valign=\"top\">1.<\/td>\n<td>\n<div>\n<p>All\u00e2h Ta\u2019ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya. Kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi All\u00e2h Ta\u2019ala. Jadi musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi All\u00e2h Ta\u2019ala<abbr title=\"Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Igh\u00e2tsatul Lahf\u00e2n (hal 422 \u2013 Maw\u00e2ridul Am\u00e2n)\">[9]<\/abbr>.<\/p>\n<\/div>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td valign=\"top\">2.<\/td>\n<td>All\u00e2h Ta\u2019ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang Mukmin kepada-Nya, karena All\u00e2h Ta\u2019alamencintai hamba- Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang.<abbr title=\"Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim t dalam Igh\u00e2tsatul Lahf\u00e2n (hal 424 \u2013 Maw\u00e2ridul Am\u00e2n)\">[10]<\/abbr>Inilah makna sabda Ras\u00fblull\u00e2h Shallall\u00e2hu \u2018Alaihi Wasallam :\u201cSungguh mengagumkan keadaan seorang Mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang Mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.\u201d<abbr title=\"HR Muslim (no 2999)\">[11]<\/abbr><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td valign=\"top\">3.<\/td>\n<td>All\u00e2h Ta\u2019ala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang All\u00e2h Ta\u2019ala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang sangat jauh berbeda keadaannya dengan dunia All\u00e2h Ta\u2019ala menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti.<abbr title=\"Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Igh\u00e2tsatul lahf\u00e2n (hal 423 \u2013 Maw\u00e2ridul am\u00e2n), dan imam Ibnu Rajab dalam J\u00e2mi\u2019ul \u2018Ul\u00fbmi wal Hikam (hal 461- cet. D\u00e2r Ibni Hazm).\">[12]<\/abbr>Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Ras\u00fblull\u00e2h Shallall\u00e2hu \u2018Alaihi Wasallam :\u201dJadilah kamu di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.\u201d<abbr title=\"HR al-Bukh\u00e2ri (no. 6053)\">[13]<\/abbr><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><strong>PENUTUP<\/strong><\/p>\n<p>Sebagai penutup, ada sebuah kisah yang disampaikan oleh imam Ibnul Qayyim rahimahull\u00e2h tentang gambaran kehidupan guru beliau, imam Ahlus sunnah wal jama\u2019ah di jamannya, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahull\u00e2h. Kisah ini memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang bagaimana seharusnya seorang Mukmin menghadapi cobaan dan kesusahan yang All\u00e2h Ta\u2019ala takdirkan bagi dirinya. Ibnul Qayyim rahimahull\u00e2h berkata:<\/p>\n<p>\u201cDan All\u00e2h Ta\u2019ala yang Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau (Ibnu Taimiyyah rahimahull\u00e2h). Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan (siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan All\u00e2h Ta\u2019ala), yang berupa (siksaan dalam) penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau). Tapi di sisi lain (aku mendapati) beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya.<\/p>\n<p>Terpancar pada wajah beliau sinar keindahan dan kenikmatan hidup (yang beliau rasakan). Dan kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah rahimahull\u00e2h), jika ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul (dalam diri kami) prasangka-prasangka buruk atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami (segera) mendatangi beliau (untuk meminta nasehat).<\/p>\n<p>Dengan hanya memandang (wajah) beliau dan mendengarkan ucapan (nasehat) beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.\u201d<abbr title=\"Kitab Al-W\u00e2bilush Shayyib (hal 67- cet. D\u00e2rul Kit\u00e2bil \u2018Arabi)\">[14]<\/abbr><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/majalah-assunnah.com\/images\/naskah\/garis.gif\" alt=\"\" width=\"160\" height=\"2\" border=\"0\" \/><\/p>\n<table border=\"0\" width=\"580\">\n<tbody>\n<tr>\n<td align=\"right\" valign=\"top\"><a name=\"1\"><\/a>[1]<\/td>\n<td>\n<div>\n<p>Tafs\u00eer Ibnu Kats\u00eer (5\/342- cet D\u00e2ru Thayyibah).<\/p>\n<\/div>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td align=\"right\" valign=\"top\"><a name=\"2\"><\/a>[2]<\/td>\n<td valign=\"top\">Lihat Tafs\u00eer Ibnu Kats\u00eer (4\/34).<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td align=\"right\" valign=\"top\"><a name=\"3\"><\/a>[3]<\/td>\n<td valign=\"top\">Kitab Al-Faw\u00e2-id (hal 121- cet. Muassasatu Ummil Qura\u2019)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td align=\"right\" valign=\"top\"><a name=\"empat\"><\/a>[4]<\/td>\n<td valign=\"top\">Al-W\u00e2bilush Shayyib (hal 67- cet. D\u00e2rul Kit\u00e2bil \u2018Arabi).<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td align=\"right\" valign=\"top\"><a name=\"lima\"><\/a>[5]<\/td>\n<td valign=\"top\">Tafs\u00eer Ibnu Kats\u00eer (8\/137)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td align=\"right\" valign=\"top\"><a name=\"enam\"><\/a>[6]<\/td>\n<td valign=\"top\" width=\"1013\">Igh\u00e2tsatul Lahf\u00e2n (hal 421-422 \u2013 Maw\u00e2ridul Am\u00e2n)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td align=\"right\" valign=\"top\"><a name=\"tujuh\"><\/a>[7]<\/td>\n<td valign=\"top\">HR al-Bukh\u00e2ri (no 7066- cet. D\u00e2ru Ibni Kats\u00eer) dan Muslim (no 2675)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td align=\"right\" valign=\"top\"><a name=\"delapan\"><\/a>[8]<\/td>\n<td valign=\"top\">Lihat kitab Faidhul Qad\u00eer (2\/312) dan Tuhfatul Ahwadzi (7\/53)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td align=\"right\" valign=\"top\"><a name=\"sembilan\"><\/a>[9]<\/td>\n<td valign=\"top\">Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Igh\u00e2tsatul Lahf\u00e2n (hal 422 \u2013 Maw\u00e2ridul Am\u00e2n)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td align=\"right\" valign=\"top\"><a name=\"sepuluh\"><\/a>[10]<\/td>\n<td valign=\"top\">Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim rahimahull\u00e2h dalam Igh\u00e2tsatul Lahf\u00e2n (hal 424 \u2013 Maw\u00e2ridul Am\u00e2n)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td align=\"right\" valign=\"top\"><a name=\"sebelas\"><\/a>[11]<\/td>\n<td valign=\"top\">HR Muslim (no 2999)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td align=\"right\" valign=\"top\"><a name=\"duabelas\"><\/a>[12]<\/td>\n<td valign=\"top\">Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Igh\u00e2tsatul lahf\u00e2n (hal 423 \u2013 Maw\u00e2ridul am\u00e2n), dan imam Ibnu Rajab dalam J\u00e2mi\u2019ul \u2018Ul\u00fbmi wal Hikam (hal 461- cet. D\u00e2r Ibni Hazm).<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td align=\"right\" valign=\"top\"><a name=\"13\"><\/a>[13]<\/td>\n<td valign=\"top\">HR al-Bukh\u00e2ri (no. 6053)<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td align=\"right\" valign=\"top\"><a name=\"14\"><\/a>[14]<\/td>\n<td valign=\"top\">Kitab Al-W\u00e2bilush Shayyib (hal 67- cet. D\u00e2rul Kit\u00e2bil \u2018Arabi)<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Penulis:\u00a0<a href=\"http:\/\/manisnyaiman.com\/\">Ustadz Abdullah Taslim, M.A<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Baca selengkapnya. Klik\u00a0<a href=\"https:\/\/muslim.or.id\/5026-sikap-seorang-muslim-dalam-menghadapi-musibah.html\">https:\/\/muslim.or.id\/5026-sikap-seorang-muslim-dalam-menghadapi-musibah.html<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai hamba All\u00e2h Ta\u2019ala, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal itu merupakan\u00a0sunnatull\u00e2h\u00a0yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. All\u00e2h Ta\u2019ala berfirman: Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan\u00a0(Qs [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":35,"featured_media":2421,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12,11,2],"tags":[],"class_list":["post-2420","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","category-fiqih","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2420","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/users\/35"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2420"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2420\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2422,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2420\/revisions\/2422"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2421"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2420"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2420"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/mt\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2420"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}