KAFARAT

Pagi ini lebih banyak embun.

Udaranya tak sesegar biasanya.

Rupanya aku mencium bau syurga;

 

Dia seorang terlaknat.

Bermandikan api berlumpur dosa.

Lisannya membunuh hati siapapun yang berada didekatnya.

Maksiat bak candu birma.

Tapi azab tak kunjung jua, karna itu, terus terulang.

Hidup diantara ketakutan dan gelisah saat malam menutup senja.

Tapi Allah menutupi aibnya.

 

Lintang pukang di bayang bayang putus asa. Menjijikan.

Tunggang langgang mencari tobat.

Tak ada mega mega yang nyata.

Yang gelap gulita.

Sekiranya ini azab yang ditunggunya.

Dia bicara pada hatinya, cit cit gumamnya. Tak ada jawab.

 

Hatinya menggerutu bak mencari kedaiaman.

Keimanannya mendekati kepunahannya.

Atau malah sudah menua?

Tak usah bengis pada diri. Tak guna. Bisiknya pada hati.

 

Alang alang menuju masjidilharam menuntunya.

Dengan sigap ia bangkit dan membasuh air suci.

Ternyata hidayah.

Tak terduga, sungguh takjup.

Pintunya terbentang luas dan menyambutnya sangat hangat.

Ternyata pengampunan.

Sujudnya seperempat malam. Seperti memohon ampun.

Ternyata kedamaian.

Hatinya tak lagi menggerutu.

Jiwanya tentram, mukanya bersinar merona.

Ditanggalkan masa lalunya yang kelam.

Esok fajar lebih cerah dari biasanya;

 

Pagi ini lebih banyak embun.

Udaranya tak sesegar biasanya.

Rupanya aku mencium bau syurga;

  • -Elsa Iput-