Loading
Loading...
Menu BINUS

MT AL-KHAWARIZMI: Overthinking Dalam Islam: Belajar Berusaha Tanpa Mengendalikan Segalanya

Gambar 1. Ilustrasi seseorang yang sedang mengalami overthinking. (Sumber: iStockphoto) 

 

Pernahkah kamu merasa pikiranmu berputar tanpa henti memikirkan hal yang belum tentu terjadi? Mulai dari cemas soal masa depan, takut gagal, hingga memutar kembali kesalahan masa lalu berulang kali. Kondisi yang populer dengan istilah overthinking ini sering kali menguras energi mental dan membuat hati terasa sesak. Dalam Islam, kecemasan berlebih bukanlah hal asing, dan Al-Qur’an serta Sunnah memberikan panduan untuk mengatasinya.

Overthinking dapat membuat seseorang terjebak dalam pikiran yang berulang tanpa menemukan jalan keluar. Pikiran tersebut sering berkembang menjadi beban ketika dipenuhi pertanyaan yang penuh kekhawatiran, seperti, “Bagaimana kalau gagal lagi?”, “Bagaimana kalau orang tua kecewa?”, atau “Bagaimana kalau masa depan tidak sesuai dengan rencana?” Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut terus dipikirkan tanpa disertai tindakan nyata, seseorang justru dapat semakin larut dalam rasa cemas.

Kondisi ini juga dapat dikaitkan dengan konsep waswas, terutama ketika seseorang terus dihantui oleh keraguan. Bentuknya bisa berupa penyesalan berlebihan atas kesalahan di masa lalu, rasa takut yang berlebihan terhadap dosa, hingga keraguan mengenai niat atau sahnya suatu ibadah. Akibatnya, ibadah yang seharusnya memberikan ketenangan justru terasa seperti sumber kegelisahan. Hal ini dapat membuat hati menjadi kurang tenang, sulit khusyuk, bahkan menimbulkan perasaan seolah semakin jauh dari Allah.

 

Batas Introspeksi

Penting untuk membedakan antara introspeksi diri dan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Mengingat kesalahan di masa lalu untuk mengambil pelajaran merupakan bagian dari proses memperbaiki diri. Namun, terus-menerus menghukum diri atas sesuatu yang sudah terjadi tidak akan mengubah keadaan. Yang dapat dilakukan adalah mengambil hikmahnya, memperbaiki hal-hal yang masih bisa diperbaiki, lalu berusaha melanjutkan hidup dengan lebih baik.

 

Menyeimbangkan Ikhtiar dan Tawakal

Hal yang sama juga berlaku ketika memikirkan masa depan. Memiliki rencana dan berusaha dengan sungguh-sungguh tentu merupakan hal yang penting. Namun, kita juga perlu memahami bahwa tidak semua hasil berada dalam kendali kita. Kita bisa belajar dengan giat sebelum ujian, tetapi tidak dapat mengetahui seluruh soal yang akan muncul. Kita juga bisa berusaha menjaga hubungan dengan orang lain, tetapi tidak dapat sepenuhnya mengendalikan perasaan dan keputusan mereka. Karena itu, setelah melakukan bagian kita dengan sebaik mungkin, kita perlu belajar untuk menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Di sinilah konsep ikhtiar dan tawakal menjadi penting. Ikhtiar berarti melakukan usaha yang menjadi bagian dari tanggung jawab kita, sedangkan tawakal berarti menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah setelah berusaha dengan sebaik mungkin. Dengan demikian, tawakal bukan berarti berhenti berusaha atau sekadar pasrah terhadap keadaan. Tawakal mengajarkan bahwa manusia memiliki batas dalam mengendalikan sesuatu.

Hal ini juga dijelaskan dalam QS. At-Taubah ayat 51:

 

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا ۚ هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Artinya: 

Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.” 

Ayat ini mengingatkan kita bahwa setelah melakukan apa yang menjadi bagian dari tanggung jawab kita, ada hal-hal yang memang perlu kita serahkan kepada Allah. Kita tetap boleh memiliki kekhawatiran, membuat rencana, dan memikirkan masa depan. Namun, kita tidak perlu terus-menerus memikirkan berbagai kemungkinan yang berada di luar kendali kita. Selama kita sudah berusaha, kita dapat belajar untuk percaya bahwa Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

 

Seni Melepaskan dan Percaya Takdir

Ketika pikiran mulai dipenuhi pertanyaan seperti, “Bagaimana kalau gagal?” atau “Bagaimana kalau semuanya tidak sesuai rencana?”, kita dapat berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang bisa saya lakukan sekarang?” Jika masih ada sesuatu yang bisa kita usahakan, lakukan semampunya. Namun, jika sudah tidak ada lagi yang dapat dilakukan, mungkin saatnya kita belajar melepaskan dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Pada akhirnya, kita mungkin tidak dapat membuat pikiran berhenti sepenuhnya. Akan selalu ada hal yang belum pasti, kesalahan yang pernah terjadi, serta masa depan yang belum diketahui. Namun, kita tetap dapat belajar untuk menentukan bagaimana cara merespons semua itu.

Berpikir untuk mencari solusi merupakan hal yang baik dan Berusaha memperbaiki diri juga merupakan bagian penting dari kehidupan. Namun, setelah melakukan bagian yang menjadi tanggung jawab kita, ada saatnya kita berhenti mencari kepastian dari sesuatu yang memang belum terjadi. Sebab, tidak semua hal harus kita ketahui saat itu juga. Tidak semua kemungkinan harus dipikirkan sampai menemukan jawabannya dan tidak semua hasil harus berada dalam kendali kita. 

Terkadang, setelah berusaha sebaik mungkin, yang kita butuhkan bukanlah jawaban atas semua pertanyaan, melainkan belajar untuk percaya bahwa Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

 

Referensi

Fahliza, M., Hidayat, M., & Ismahani, S.(2026). Overthinking pada Generasi Z dalam kerangka psikologi Al-Qur’an: Distingsi antara tafakkur, waswas, dan qalq. Nizamiyah: Jurnal Sains, Sosial dan Multidisiplin, 2(3), 440-456. https://ejournal.albahriah-institut.org/index.php/nizamiyah/article/view/350 

Wahyudin, M. H., Fitriani, V. N., & Darmiyanti, A. (2026). Fenomena overthinking pada remaja Muslim dalam perspektif was-was: Dampaknya terhadap kesejahteraan spiritual. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam, 4(3), 159-172. https://doi.org/10.61132/jbpai.v4i3.2042

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.