Loading
Loading...
Menu BINUS

Model Harus Cantik, Tinggi, dan Kurus? Let’s Debunk 10 Mitos Modeling

“Cuma yang tinggi yang bisa jadi model.”

“Harus kurus dulu baru bisa daftar agency.”

“Aku sih wajahnya biasa aja, nggak mungkin lolos.”

Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar familiar. Entah pernah kamu ucapkan sendiri atau justru datang dari orang-orang di sekitarmu.

Selama bertahun-tahun, dunia modeling memang identik dengan standar kecantikan yang sangat spesifik: tinggi menjulang, tubuh ramping, kulit mulus, dan wajah yang dianggap “sempurna”. Akibatnya, banyak orang mengurungkan niat bahkan sebelum mencoba karena merasa tidak memenuhi kriteria tersebut.

Padahal, industri modeling terus berubah. Semakin banyak brand dan agency yang mencari keberagaman, bukan keseragaman. Mereka ingin menemukan orang yang bisa merepresentasikan audiens mereka secara nyata, bukan sekadar memenuhi standar lama yang perlahan mulai ditinggalkan.

Kalau kamu masih ragu untuk terjun ke dunia modeling karena merasa “kurang”, mungkin sudah waktunya melihat industri ini dari sudut pandang yang berbeda.

1. Model harus cantik atau ganteng

Banyak orang mengira wajah yang sempurna adalah tiket utama untuk menjadi model. Kenyataannya, yang sering dicari justru wajah yang memiliki karakter.

Pernahkah kamu melihat seseorang yang mungkin tidak memenuhi standar kecantikan konvensional, tetapi wajahnya langsung melekat di ingatan? Itulah yang sering dicari oleh agency. Senyum yang khas, mata yang ekspresif, freckles, rahang yang tegas, atau bentuk wajah yang unik bisa menjadi identitas yang membuat seseorang menonjol di antara ratusan model lainnya.

Di dunia modeling, menjadi mudah diingat sering kali jauh lebih penting daripada sekadar dianggap cantik.

2. Tinggi badan menentukan segalanya

Mitos ini memang tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar.

Untuk runway high fashion, standar tinggi badan memang masih cukup ketat. Namun modeling tidak berhenti di runway. Ada commercial modeling, beauty campaign, katalog, e-commerce, iklan televisi, hingga konten digital yang memiliki kebutuhan berbeda-beda.

Banyak brand lebih mengutamakan apakah seseorang mampu membawakan produk mereka dengan baik dibandingkan sekadar melihat angka pada pengukur tinggi badan.

3. Model harus sangat kurus

Beberapa tahun lalu, anggapan ini mungkin lebih sering ditemukan. Namun industri fashion kini mulai bergerak ke arah yang lebih inklusif.

Kehadiran plus size model, curve model, fitness model, hingga petite model menunjukkan bahwa tidak ada lagi satu bentuk tubuh yang dianggap paling ideal. Yang jauh lebih penting adalah menjaga tubuh tetap sehat, merawat diri, dan memiliki kepercayaan diri saat bekerja di depan kamera.

4. Kerja model hanya berjalan di runway

Ketika mendengar kata “model”, kebanyakan orang langsung membayangkan seseorang berjalan di catwalk dengan pakaian desainer.

Padahal, sebagian besar pekerjaan model justru dilakukan di depan kamera. Mulai dari kampanye skincare, katalog fashion, marketplace, iklan makanan, produk teknologi, hingga konten media sosial. Bahkan, banyak model yang tidak pernah berjalan di runway tetapi memiliki karier yang sangat sukses di bidang commercial modeling.

5. Harus punya banyak followers

Media sosial memang membuka lebih banyak peluang, tetapi jumlah pengikut bukan satu-satunya penentu.

Agency tetap mempertimbangkan hal-hal yang jauh lebih mendasar, seperti profesionalisme, kemampuan menerima arahan, sikap saat bekerja, dan komitmen terhadap pekerjaan. Followers bisa bertambah seiring waktu, tetapi reputasi dibangun dari cara seseorang bekerja.

6. Jadi model hanya soal bisa berpose

Di balik satu foto yang terlihat sederhana, ada banyak kemampuan yang sebenarnya sedang bekerja.

Seorang model perlu memahami bahasa tubuh, ekspresi wajah, pencahayaan, sudut kamera, hingga bagaimana menyampaikan emosi sesuai konsep pemotretan. Mereka juga dituntut mampu beradaptasi dengan cepat, bekerja sama dengan fotografer, stylist, makeup artist, dan seluruh tim produksi.

Karena itu, modeling bukan hanya soal penampilan, tetapi juga soal kemampuan berkomunikasi tanpa kata-kata.

7. Kulit putih lebih punya peluang

Standar kecantikan terus berubah mengikuti perkembangan industri dan masyarakat.

Saat ini, semakin banyak brand yang memilih menampilkan model dengan berbagai warna kulit karena dianggap lebih merepresentasikan konsumen mereka. Kulit sawo matang, tan skin, maupun deep skin tone sama-sama memiliki tempat di dunia modeling.

Yang membuat seseorang menonjol bukan warna kulitnya, melainkan bagaimana ia membawa dirinya di depan kamera.

8. Kalau tidak mulai sejak kecil, sudah terlambat

Tidak sedikit model yang baru memulai karier setelah lulus SMA, saat kuliah, bahkan ketika sudah memasuki dunia kerja.

Usia memang bisa memengaruhi jenis pekerjaan yang diambil, tetapi bukan berarti kesempatan sudah tertutup. Industri ini memiliki banyak kategori dengan kebutuhan yang berbeda, sehingga selalu ada ruang bagi orang-orang yang baru memulai.

9. Hidup model selalu glamor

Yang sering terlihat di media sosial hanyalah hasil akhirnya.

Di balik satu foto editorial atau video campaign berdurasi beberapa detik, ada proses panjang yang melibatkan persiapan sejak pagi, menunggu giliran berjam-jam, berganti pakaian berkali-kali, hingga mengulang pose berkali-kali demi mendapatkan hasil terbaik.

Seperti profesi lainnya, modeling juga membutuhkan disiplin, kesabaran, dan kerja keras.

10. Penampilan adalah segalanya

Penampilan memang membantu membuka kesempatan, tetapi bukan satu-satunya hal yang menentukan apakah seseorang akan terus mendapatkan pekerjaan.

Agency dan klien cenderung memilih model yang tepat waktu, mudah diajak bekerja sama, menghargai tim, serta memiliki kemauan untuk terus belajar. Sikap profesional sering kali menjadi alasan mengapa seorang model kembali dipilih untuk proyek berikutnya.

Pada akhirnya, modeling bukan tentang menjadi sempurna

Kalau ada satu hal yang perlu diingat, mungkin ini.

Dunia modeling bukan lagi soal siapa yang paling tinggi, paling kurus, atau paling mendekati standar kecantikan tertentu. Industri ini terus berkembang dan memberi ruang bagi orang-orang dengan karakter, cerita, dan keunikan yang berbeda.

Jadi, kalau selama ini kamu merasa tidak cukup memenuhi syarat untuk menjadi model, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan dirimu, melainkan mitos-mitos lama yang masih sering dipercaya.

Karena menjadi model bukan berarti menjadi seperti orang lain. Justru yang dicari adalah seseorang yang mampu menunjukkan versi terbaik dari dirinya sendiri.

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.