    {"id":4121,"date":"2023-04-01T17:21:18","date_gmt":"2023-04-01T10:21:18","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/?p=4121"},"modified":"2023-07-20T12:19:48","modified_gmt":"2023-07-20T05:19:48","slug":"kisah-cinta-sejati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/2023\/04\/kisah-cinta-sejati\/","title":{"rendered":"Kisah Cinta Sejati"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400\">Bulan Februari identik dengan bulan kasih sayang karena tanggal 14 Februari diperingati sebagai hari Valentine. Banyak kisah-kisah romantis populer, seperti Romeo dan Juliet karya William Shakespeare, Sampek Engtay dari tirai bambu (China), Shah Jahan dan Mumtaz Mahal dari India. Ternyata, ada juga kisah romantis di dalam Buddhis. Mungkin, tidak banyak yang tahu tentang kisah cinta antara Sumedha dan Sumittha.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada suatu zaman yang tidak diketahui seberapa jauh jarak waktu tersebut hingga saat ini, hiduplah seorang pemuda yang bernama Sumedha. Dia terlahir di keluarga yang kaya raya. Walaupun hidupnya bergelimang harta, dia tidak serakah. Bahkan, Sumedha menyumbangkan sebagian besar harta warisan dari kedua orang tuanya kepada orang lain dan memutuskan untuk bertapa di hutan. Dalam waktu singkat, Sumedha mencapai kesucian dan mendapatkan kesaktiannya berkat bakat dan dedikasinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Suatu hari, Sumedha terjaga karena kebisingan yang dibuat oleh warga dusun yang tinggal di dekat pondok pertapaanya. Dia diberitahukan oleh seorang warga dusun bahwa Sang Buddha D\u012bpa\u1e45kara akan mengunjungi kotaraja <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Div\u0101pati<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, kota tempat mereka tinggal. Hal ini membuat sang pertapa menjadi antusias untuk menemui dan menghormat kepada Yang Mulia Bhagavan D\u012bpa\u1e45kara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Esok harinya, sebelum Sumedha pergi menemui Sang Bhagavan, dia ingin mencari bunga yang biasa ditawarkan oleh para pedagang di kota itu. Akan tetapi, barang yang dicari oleh sang pertapa tidak ada dan dia mulai gelisah. Tiba-tiba, Sumedha bertemu perempuan yang sangat cantik. Perempuan itu bernama Sumitt\u0101. Keduanya jatuh cinta pada pandangan pertama saat mereka saling bertatapan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Lalu, mereka pun berbincang-bincang. Sumedha bertanya pada Sumitt\u0101 tentang harga teratai yang dipegang oleh perempuan itu. Sumedha berniat untuk menukar beberapa kuntum bunga dengan 500 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">pur\u0101\u1e47a<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (koin emas) sesuai dengan harga yang dibeli oleh <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Sumitt\u0101. Sumitt\u0101 menerima tawaran Sumedha dengan syarat menjadi suaminya. Tentu saja sang pertapa muda tersebut menolak karena Sumedha ingin menjadi sosok <\/span><b><i>anuttar\u0101 samyak-sa\u1e43bodhi<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400\">. Sumitt\u0101 menanggapinya dengan tidak akan pernah menghalagi keinginan Sumedha. Pada akhirnya, mereka sepakat dengan komitmen masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Setelah menerima bunga teratai tersebut, Sumedha ingin melontarkan bunga yang dipegangnya kepada Sang Bhagavan. Namun ajaibnya, bunga itu malah melayang melingkar di sekitar kepalanya. Seketika Sumedha menjatuhkan dirinya dan membentangkan rambutnya ke tanah berlumpur yang akan dilintasi oleh Sang Buddha dan para pengikutnya. Tiba-tiba, Sumedha berubah pikiran dan ingin menjadi seperti sosok Sang Buddha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sang Bhagavan duduk di singgasana yang telah disediakan setelah menerima semua persembahan dari sang raja beserta segenap rakyatnya. Buddha D\u012bpa\u1e45kara, Yang Tercerahkan Sempurna, yang hidup di kalpa yang penuh kejayaan, berkata kepada Sumedha bahwa Sumedha akan dikenal sebagai Buddha Gotama Yang Tercerahkan Sempurna setelah empat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">asa\u0144kheyya<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400\">-kappa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dan seratus ribu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">kappa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Lalu, Buddha D\u012bpa\u1e45kara meramalkan tentang kehidupan yang akan dijalani oleh Sumedha dan Sumitt\u0101. Ramalan tersebut berisi : saat menjalani banyak kehidupan selanjutnya, Sumitt\u0101 akan menjadi pasangan Sumedha kelak. Dalam kelahirannya yang terakhir, dalam usaha mencapai Pencerahan Agung, Sumitt\u0101 akan menjadi siswa dari Sumedha dan menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Arahant<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Setelah itu, Sumedha dan Sumitt\u0101 menjalani kehidupan yang tak terhitung banyaknya. Ada kalanya mereka hidup bersama, terkadang di kehidupan lain mereka berjalan sendiri-sendiri. Di kelahiran yang terakhir, Sumedha menjadi Siddhartha, sementara Sumitt\u0101 menjadi Yasodhar\u0101. Saat mereka bertemu dan dua pasang mata saling bertemu, Siddhartha mengetahui bahwa selama dia melalui banyak kehidupan, dia tetap mencintai Yasodhar\u0101. Mereka berdua mengingat kembali tentang kehidupan sebelumnya, saat mereka masih sebagai Sumedha dan Sumitt\u0101. Yasodhar\u0101 diminta untuk menjadi pengantin Siddhartha. Akhirnya, mereka menjadi sepasang suami istri untuk yang terakhir kalinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Untuk mewujudkan cita-citanya menjadi sosok Sang Buddha, Siddhartha meninggalkan segala hal yang menghalangi jalan menuju cita-citanya, termasuk istri dan anaknya. Kabar ini didengar oleh kakaknya Yasodhar\u0101, Devadatta dan memaksa adiknya untuk pulang dan menikah dengan laki-laki lain yang lebih bertanggung jawab. Yasodhar\u0101 menolaknya karena hatinya hanya untuk Siddhartha dan tetap setia kepadanya. Sampai-sampai, dia melarang laki-laki lain untuk sekadar mencium aroma tubuhnya selain Siddhartha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Enam tahun kemudian, kamar Yasodhar\u0101\u00a0 dimasuki sebuah daun <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Bodhi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> berbentuk hati yang terbawa angin dan jatuh di atas barang-barang Siddhartha. Melihat ini, dia merasa Bahagia dan terharu karena dia tahu bahwa Siddhartha telah menjadi Buddha. Setelah Yasodhar\u0101 bertemu dengan suaminya yang kini telah menjadi Buddha, dia menangis, menumpahkan seluruh kesedihannya dan kerinduaannya, sambil memeluk kedua kaki Buddha. Setelah itu, dia tertarik untuk memenuhi takdir spiritualnya dan menjadi salah satu dari siswi utama Sang Buddha. Di suatu waktu, Yasodhar\u0101 mendatangi Sang Buddha dan memberitahukanNya bahwa usia Yasodhar\u0101 akan berakhir pada hari itu. Lalu, dia berpamitan dan berterima kasih kepada Sang Buddha. Malam telah berlalu, dia pergi menuju <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Yang Tanpa-Kematian.<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Sumber: <\/b><a href=\"https:\/\/dharmaprimapustaka.blogspot.com\/2023\/02\/kisah-cinta-terbesar-sepanjang-masa.html?m=1\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/dharmaprimapustaka.blogspot.com\/2023\/02\/kisah-cinta-terbesar-sepanjang-masa.html?m=1<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bulan Februari identik dengan bulan kasih sayang karena tanggal 14 Februari diperingati sebagai hari Valentine. Banyak kisah-kisah romantis populer, seperti Romeo dan Juliet karya William Shakespeare, Sampek Engtay dari tirai bambu (China), Shah Jahan dan Mumtaz Mahal dari India. Ternyata, ada juga kisah romantis di dalam Buddhis. Mungkin, tidak banyak yang tahu tentang kisah cinta [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":33,"featured_media":4311,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-4121","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4121","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/users\/33"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4121"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4121\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4134,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4121\/revisions\/4134"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4311"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4121"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4121"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4121"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}