    {"id":2944,"date":"2021-07-18T20:52:35","date_gmt":"2021-07-18T13:52:35","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/?p=2944"},"modified":"2021-08-27T20:58:34","modified_gmt":"2021-08-27T13:58:34","slug":"biru-warna-paling-langka-di-alam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/2021\/07\/biru-warna-paling-langka-di-alam\/","title":{"rendered":"Biru: Warna Paling Langka di Alam"},"content":{"rendered":"<h6 style=\"text-align: center\"><strong>Written By: Lavia Thamrin<\/strong><\/h6>\n<p style=\"text-align: justify\">\nHalo teman-teman se-Dhamma! Apa kalian tahu, warna biru itu adalah warna yang paling langka di alam, lho! Memang, sejauh mata memandang, kita pasti bakal melihat biru\u2014toh, langit dan laut, kan, berwarna biru. Namun, pernah-kah kita mengingat-ingat, seberapa banyak <em>living organism <\/em>yang berwarna biru? Beberapa hewan dan tumbuhan yang <em>memang <\/em>berwarna biru pun sebetulnya tidak memiliki pigmen biru\u2014alias, mereka sebetulnya tidak benar-benar berwarna biru. Loh, kok bisa?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam tumbuhan, warna biru terbentuk dengan menggunakan pigmen merah <em>Anthocyanins<\/em>. Pigmen ini dapat berubah penampilan sesuai dengan tingkat keasaman Ph. Jadi, bunga-bunga berwarna biru, seperti <em>bluebells, plumbago, hydrangeas, <\/em>dan lain-lain mendapatkan warna biru mereka dengan mengubah pigmen <em>anthocyanins <\/em>dengan Ph, beserta permainan refleksi cahaya\u2014bukan dengan pigmen biru yang sesungguhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Langkanya pigmen biru pada tumbuhan ini turut berlanjut ke dunia hewan. Ini karena pigmen dapat naik tingkat pada rantai makanan. Contohnya, burung flamingo yang terlahir dengan bulu abu-abu. Mereka mendapatkan warna <em>pink <\/em>yang membuat mereka terkenal melalui pigmen <em>Carotenoids<\/em>, yang ada pada <em>algae <\/em>dan <em>brine shrimp <\/em>yang mereka konsumsi. Nah, karena pigmen biru sudah langka pada tumbuhan, karena itu pula tidak ada hewan dengan pigmen biru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Lantas, bagaimana dengan hewan-hewan yang <em>memang <\/em>memiliki warna biru, seperti <em>blue jay, blue poison dart frog <\/em>atau <em>blue morpho butterfly<\/em>? Dari mana warna biru mereka berasal? Warna biru pada hewan-hewan ini tidak muncul karena pigmen, tetapi melalui <em>structural colouration<\/em>. Permukaan pada hewan-hewan ini memiliki struktur mikro sedemikian rupa yang mengganggu cahaya tampak, yang kemudian menipu mata kita. Sebagai contoh, sisik sayap <em>blue morpho butterfly <\/em>memiliki struktur mikro berbentuk pohon Natal yang memungkinkan difraksi pada warna biru saja. Ketika kita melihat sayap kupu-kupu ini melalui mikroskop, sayapnya tidak akan berwarna biru. Hampir seluruh hewan berwarna biru menggunakan permainan warna struktur untuk membuat warna biru mereka. Faktanya, hanya ada satu spesies hewan yang benar-benar menghasilkan pigmen biru, yaitu <em>obrina olivewing butterfly<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Teman-teman se-Dhamma, kita sebetulnya sangat beruntung. Warna biru menjadi tak asing bagi kita semenjak ditemukannya warna sintesis, yang memungkinkan pembuatan semua warna. Sebelum warna sintesis ini ditemukan, saking langkanya, biru selalu diasosiasikan dengan bangsawan. Faktanya, tidak ada kata \u2018biru\u2019 di banyak bahasa kuno. Homer, seorang pengarang epik Yunani Kuno <em>Illiad <\/em>dan <em>Odyssey<\/em>, mendeskripsikan laut dengan warna <em>wine-dark<\/em>. Tidak ada satu kali pun Homer menyebutkan \u2018biru\u2019 di epiknya. Satu-satunya bahasa kuno yang memiliki kata \u2018biru\u2019 adalah bahasa Mesir, peradaban di mana batu <em>lapis lazuli <\/em>dengan warna biru indahnya pertama kali ditemukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Jadi, ketika kita membeli baju biru di toko, jangan lupa, ya, seberapa langkanya warna biru itu!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Referensi:<br \/>\n<a href=\"https:\/\/sciences.adelaide.edu.au\/news\/list\/2019\/08\/20\/why-is-the-colour-blue-so-rare-in-nature\">https:\/\/sciences.adelaide.edu.au\/news\/list\/2019\/08\/20\/why-is-the-colour-blue-so-rare-in-nature<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/bestlifeonline.com\/blue-in-nature\/\">https:\/\/bestlifeonline.com\/blue-in-nature\/<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/medium.com\/predict\/blue-is-not-a-color-its-a-mystery-part-1-69de4a6bb139\">https:\/\/medium.com\/predict\/blue-is-not-a-color-its-a-mystery-part-1-69de4a6bb139<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=KN7krvnm2uM\">https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=KN7krvnm2uM<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Written By: Lavia Thamrin Halo teman-teman se-Dhamma! Apa kalian tahu, warna biru itu adalah warna yang paling langka di alam, lho! Memang, sejauh mata memandang, kita pasti bakal melihat biru\u2014toh, langit dan laut, kan, berwarna biru. Namun, pernah-kah kita mengingat-ingat, seberapa banyak living organism yang berwarna biru? Beberapa hewan dan tumbuhan yang memang berwarna biru [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":33,"featured_media":2945,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-2944","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2944","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/users\/33"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2944"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2944\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2947,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2944\/revisions\/2947"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2945"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2944"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2944"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kmbd\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2944"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}