Sotthi Hottu, Namo Buddhaya. Di sudut ruang belajar dan lorong-lorong perpustakaan
kampus, pemandangan yang tersaji hari ini kerap menampilkan pola yang seragam: tatapan lelah
di balik pendar layar laptop, puluhan tab literatur yang terbuka tanpa sempat dicerna mendalam,
serta dengung percakapan yang tak lepas dari kalkulasi indeks prestasi dan tenggat waktu tugas.
Fenomena ini memantik sebuah perenungan mendasar yang kian jarang kita suarakan: untuk apa
sebenarnya kita belajar? Apakah proses pendidikan tinggi kini telah tereduksi menjadi sekadar
pertukaran transaksional—menukar waktu dan tenaga demi selembar transkrip nilai, untuk
kemudian ditukar kembali dengan status sosial di dunia kerja? Pertanyaan eksistensial ini
menjadi kian mendesak ketika kita menyaksikan betapa cepatnya gelombang disrupsi teknologi
mengubah wajah peradaban, sementara pada saat yang sama, batin generasi muda justru kian
rentan terjebak dalam kehampaan makna dan keletihan mental.
Pendidikan pada hakikatnya merupakan pilar penentu masa depan bangsa. Namun, dalam
perjalanannya, dunia akademik kerap terjebak dalam obsesi angka dan penguasaan teknis
semata. Sebagaimana disoroti oleh Aminullah (2022), tantangan terbesar generasi muda di
perguruan tinggi bukan semata terletak pada penguasaan materi keilmuan, melainkan pada krisis
orientasi nilai moral dan etika yang membimbing perilaku mereka. Ketika kecerdasan intelektual
dipisahkan dari kepekaan budi pekerti, capaian akademik rentan berubah menjadi instrumen
pemuas ego yang melahirkan individualisme sempit. Mahasiswa merasa dituntut untuk selalu
tampak unggul di hadapan standar sosial yang semu, memicu fenomena kecemasan akan
ketertinggalan (fear of missing out) yang kronis. Akibatnya, sukacita sejati dalam menuntut
ilmu—yakni rasa ingin tahu yang murni, ketakjuban intelektual, dan kesadaran untuk memberi
manfaat bagi sesama—perlahan terkikis oleh kecemasan yang tak berkesudahan.
Gambar 1. Menemukan kembali kedalaman belajar: Menumbuhkan harmoni antara kecerdasan intelektual,
kematangan moral, dan kesadaran batin di tengah gelombang disrupsi zaman.
Kondisi tersebut menjadi kian kompleks dengan hadirnya kecerdasan buatan (generative
artificial intelligence) yang merombak lanskap pembelajaran dalam sekejap. Dalam hitungan
detik, algoritma mampu merangkum literatur tebal, menyusun esai terstruktur, hingga
memecahkan formula analitis yang rumit. Dalam analisisnya mengenai arah manajemen
pendidikan era Society 5.0, Alfarizi (2024) menegaskan bahwa kemajuan teknologi komputasi
menuntut redefinisi etika yang mendalam dalam ekosistem pendidikan tinggi kita. Keberadaan
kecerdasan buatan seharusnya menyadarkan kita akan batas tegas antara mesin dan manusia.
Mesin memiliki kapasitas komputasi tanpa batas dan kelimpahan data, namun ia tidak memiliki
nurani, rasa welas asih, maupun kesadaran eksistensial. Jika proses belajar kita hanya ditujukan
untuk menimbun data dan menghafal prosedur, maka peran kita sebagai manusia akan sangat
mudah tergantikan. Karena itu, revolusi digital ini sesungguhnya merupakan lonceng pengingat
bagi dunia pendidikan untuk kembali memusatkan perhatian pada apa yang paling esensial:
memanusiakan kembali manusia.
Dalam menjawab disrupsi tersebut, pendidikan karakter tidak lagi dapat dipandang
sebagai sekadar materi pelengkap di silabus perkuliahan. Sadiyah (2023) dalam kajiannya
mengenai implementasi karakter di perguruan tinggi menekankan bahwa pembentukan integritas
mahasiswa harus mewujud dalam kebiasaan berpikir kritis, kejujuran akademik, dan tanggung
jawab sosial yang teruji dalam tindakan nyata. Senada dengan hal itu, Gofur et al. (2025)
menggarisbawahi urgensi pendidikan berbasis nilai yang memadukan etika dan moral untuk
mencerdaskan generasi muda secara utuh. Kecerdasan kognitif tanpa fondasi moral yang kokoh
ibarat nahkoda lihai yang mengemudikan kapal tanpa kompas di tengah badai samudra—ia
memiliki kecepatan gerak, namun kehilangan arah tujuan yang bajik. Kejujuran dalam
menghasilkan karya ilmiah, kerendahan hati untuk mengakui ketidaktahuan, serta keberanian
moral untuk menolak jalan pintas instan adalah wujud nyata dari budi pekerti luhur yang
seharusnya ditempa di bangku kuliah.
Dalam sudut pandang ajaran Buddhis dan filsafat humanistik, proses pendidikan sejatinya
adalah transformasi batin (bhavana). Belajar bukan semata-mata menyerap informasi dari luar,
melainkan melatih kejernihan pikiran untuk melihat kenyataan apa adanya
(yathabhuta-nanadassana). Melalui latihan kesadaran penuh (sati/mindfulness), seorang
pembelajar diajak untuk mengenali gerak-gerik pikirannya sendiri: kapan rasa cemas muncul,
kapan ego ingin dipuji mendominasi, dan kapan niat tulus untuk berkontribusi hadir. Berdasarkan
studi bibliometrik mutakhir oleh Hapsari et al. (2024) mengenai karakter kepemimpinan
mahasiswa, kepemimpinan transformatif yang berakar kuat pada etika selalu bermula dari
kepemimpinan atas diri sendiri (self-leadership). Mahasiswa yang memiliki kesadaran diri yang
matang tidak akan mudah terseret arus polarisasi atau ilusi validasi media sosial, karena ia
memiliki jangkar batin yang kokoh berupa kebijaksanaan (panna) dan komitmen moral (sila).
Menumbuhkan harmoni antara kecerdasan intelektual dan kematangan budi pekerti tentu
membutuhkan ekosistem yang mendukung. Kampus bukan sekadar ruang kelas kedap suara,
melainkan arena interaksi sosial yang dinamis. Di titik inilah organisasi kemahasiswaan, seperti
Keluarga Mahasiswa Buddhis Dhammavira (KMBD) di lingkungan BINUS University,
memainkan peran strategis sebagai oase pembinaan karakter. Di dalam wadah komunitas ini,
mahasiswa tidak hanya diajak berdiskusi mengenai nilai-nilai Dharma dan etika kehidupan,
tetapi juga melatih welas asih (karuna), kerja sama lintas latar belakang, serta kerelaan berbagi
(dana) melalui berbagai program sosial dan edukasi. Komunitas semacam ini menjadi ruang
aman bagi mahasiswa untuk bertumbuh tanpa rasa takut dihakimi, sekaligus menjadi pengingat
bahwa perjalanan akademik adalah ikhtiar kolektif untuk saling menguatkan, bukan perlombaan
saling menjatuhkan.
Menyongsong cita-cita Indonesia Emas 2045, bangsa kita tidak hanya memerlukan
generasi yang mahir merancang teknologi canggih atau mengelola neraca ekonomi yang
gemilang. Lebih dari itu, Indonesia membutuhkan manusia-manusia yang memiliki nurani yang
bening, empati yang tulus terhadap sesama, serta integritas moral yang tak tergoyahkan oleh
godaan pragmatisme zaman. Menemukan kembali hakikat pendidikan berarti berani melepaskan
kelekatan pada pencitraan semu dan kembali merayakan keindahan proses belajar itu sendiri.
Marilah kita jadikan setiap ilmu yang kita pelajari sebagai lentera—bukan untuk menyilaukan
orang lain dengan keangkuhan, melainkan untuk menerangi jalan kegelapan, menghapus
kebodohan batin, dan menghadirkan kedamaian bagi semesta.
Semoga untaian perenungan ini dapat menjadi penyemangat bagi kita semua untuk terus
belajar dengan kesadaran penuh, merawat budi pekerti yang luhur, dan menjadi manusia yang
senantiasa membawa kebajikan bagi lingkungan sekitar.
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta, Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia.
Sotthi Hotu, Namo Buddhaya.
Referensi
Alfarizi, M. (2024). Evolusi kecerdasan buatan dalam pendidikan: Teknologi, etika, dan
akselerasi Indonesia. Dalam Masa depan manajemen pendidikan Indonesia: Era society
5.0 (hlm. 61–78). Penerbit BRIN. https://doi.org/10.55981/brin.1354.c1061
Aminullah, A. (2022). Pendidikan karakter di perguruan tinggi menyikapi krisis moral di
kalangan generasi muda di era milenial. JUPE: Jurnal Pendidikan Mandala, 7(2),
525–531. https://doi.org/10.58258/jupe.v7i2.3576
Gofur, M., Huda, M., Hakim, F., & Suhartiningsih, S. (2025). Pendidikan berbasis nilai:
Mengintegrasikan etika dan moral untuk mencerdaskan generasi muda. El Banar: Jurnal
Pendidikan dan Pengajaran, 8(1), 44–55. https://doi.org/10.54125/elbanar.v8i1.508
Hapsari, M. M., Martono, T., Wardani, D. K., & Noviani, L. (2024). Student leadership character
in educational research: A bibliometric analysis of the last two decades. Jurnal
Pendidikan Karakter, 15(2), 144–154. https://doi.org/10.21831/jpka.v15i2.78398
Sadiyah, S. (2023). Implementasi pendidikan karakter pada mahasiswa di perguruan tinggi
umum. Jurnal Kalacakra: Ilmu Sosial dan Pendidikan, 4(2), 50–57.
https://doi.org/10.31002/kalacakra.v4i2.6604

