Mayoritas remaja di Indonesia yang belum memahami pendidikan keuangan secara memadai, padahal kemampuan ini penting untuk kehidupan dewasa mereka. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan bersama Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi keuangan untuk kelompok usia 15–17 tahun hanya sekitar 51,7 %, jauh lebih rendah dibandingkan kelompok usia produktif lainnya. Artinya, hampir setengah dari remaja belum memiliki pemahaman yang cukup tentang pengelolaan uang, tabungan, investasi, dan risiko finansial. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan keuangan masih belum menjadi bagian kuat dalam proses belajar anak sejak dini, dan hal tersebut berkontribusi pada rendahnya keterampilan finansial generasi muda kita. 
Pendidikan keuangan adalah proses pemberian pengetahuan, keterampilan, dan sikap agar seseorang mampu membuat keputusan finansial yang bijak: mengatur uang saku, menabung, membuat anggaran, memahami kredit dan risiko, hingga pengenalan investasi sederhana. Urgensinya jelas, tanpa bekal ini, anak dan remaja cenderung kesulitan merencanakan pengeluaran, mudah terjebak pola konsumtif, atau rentan terhadap produk keuangan berisiko. Dalam konteks lebih luas, ketidakmerataan akses pendidikan keuangan memperkuat siklus kemiskinan karena kelompok yang kurang beruntung kehilangan salah satu alat mobilitas sosial yang penting: kemampuan mengelola sumber daya mereka sendiri.
Bagaimana cara mengajarkan literasi keuangan terhadap anak?
-
Beri tanggung jawab mengelola uang saku
Pengalaman langsung adalah guru terbaik. Berikan uang saku teratur (mingguan atau bulanan) sesuai kemampuan keluarga. Tetapkan aturan alokasi sederhana: kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan tabungan. Dengan praktik ini anak belajar membuat pilihan dan menerima konsekuensi kecil atas keputusan mereka.
-
Ajarkan membuat anggaran sederhana
Bimbing anak mencatat pengeluaran kecil: penjelasan singkat tentang daftar prioritas membantu mereka memahami bahwa sumber daya terbatas. Contoh: dari Rp50.000 uang saku, alokasikan Rp20.000 untuk makan, Rp10.000 untuk transportasi, Rp10.000 tabungan, dan sisanya untuk jajan.
-
Kenalkan tujuan menabung
Mendorong menabung untuk tujuan konkret (mis. membeli buku, hadiah ulang tahun, atau mainan) mengajarkan konsep tujuan, kesabaran, dan reward atas disiplin. Buat celengan berlabel atau chart kemajuan supaya anak bisa melihat perkembangan tabungannya.
- Gunakan permainan dan simulasi
Permainan “toko-tokoan”, simulasi berbelanja dengan anggaran tetap, atau aplikasi edukasi finansial dapat membuat konsep abstrak menjadi nyata dan menyenangkan. Sekolah atau komunitas bisa menyelenggarakan bazar mini di mana anak belajar membuat keputusan harga dan menghitung kembalian.
- Jadilah teladan yang konsisten
Anak meniru perilaku orang dewasa. Tampilkan proses penganggaran rumah tangga sederhana, diskusikan prioritas belanja keluarga, dan libatkan anak dalam keputusan kecil.
Ketika kita bicara tentang literasi keuangan, sesungguhnya kita sedang bicara tentang masa depan yang lebih baik bagi anak-anak kita. Bukan sekadar angka atau konsep ekonomi, tetapi tentang bagaimana mereka bisa bangun setiap pagi dengan rasa percaya diri, tidak cemas memikirkan uang, dan percaya bahwa mereka punya kendali atas hidupnya sendiri. Pendidikan keuangan bukan privilege, melainkan hak setiap anak, karena setiap anak berhak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bijak, dan siap menghadapi tantangan kehidupan.
Mungkin terlihat sederhana: belajar mengatur uang saku, menabung untuk sesuatu yang diidamkan, atau membuat pilihan pengeluaran yang bijak. Tapi hal-hal kecil inilah yang membentuk karakter, tanggung jawab, dan rasa percaya diri anak di masa depan. Ketika mereka belajar tentang uang dengan cara yang tepat, mereka belajar kepercayaan diri, ketekunan, disiplin, dan rasa bangga atas pencapaian sendiri.
Pendidikan keuangan tidak hanya melindungi mereka dari kesalahan finansial, tetapi juga memberi mereka kebebasan untuk bermimpi dan merencanakan masa depan tanpa takut salah langkah. Dan ketika generasi muda kita memiliki dasar finansial yang kuat, jurang kesenjangan yang selama ini memisahkan kita perlahan akan menyusut, karena setiap anak, dari latar belakang mana pun, mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.
