    {"id":2257,"date":"2023-05-19T00:11:55","date_gmt":"2023-05-18T17:11:55","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/?p=2257"},"modified":"2023-05-19T00:11:55","modified_gmt":"2023-05-18T17:11:55","slug":"sejarah-singkat-terbentuknya-majelis-tinggi-agama-khonghucu-indonesia-matakin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/2023\/05\/sejarah-singkat-terbentuknya-majelis-tinggi-agama-khonghucu-indonesia-matakin\/","title":{"rendered":"Sejarah Singkat Terbentuknya Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN)"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/2023\/05\/sejarah-singkat-terbentuknya-majelis-tinggi-agama-khonghucu-indonesia-matakin\/matakin\/\" rel=\"attachment wp-att-2258\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-2258\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-content\/uploads\/sites\/31\/2023\/05\/Matakin.png\" alt=\"\" width=\"692\" height=\"176\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Sumber: <a href=\"https:\/\/matakin.or.id\/assets\/media\/logo\/logo_matakin.png\"><u>https:\/\/matakin.or.id\/assets\/media\/logo\/logo_matakin.png<\/u><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN, hanzi; \u5370\u5c3c \u5b54\u6559\u7e3d\u6703, pinyin; Y\u00ecnn\u00ed k\u01d2ng ji\u00e0o z\u01d2ng hu\u00ec) merupakan sebuah organisasi yang berperan dalam mengatur perkembangan agama Khonghucu di Indonesia. MATAKIN berdiri pada abad ke-19 atau lebih tepatnya pada tanggal 12 April 1923 dan merupakan satu-satunya organisasi Khonghucu yang diakui oleh pemerintah Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pada awalnya, di Batavia (sekarang Jakarta) berdiri sebuah lembaga yang bernama Tiong Hoa Hwee Koan (hanzi; \u4e2d\u83ef\u6703\u9928, pinyin; Zh\u014dnghu\u00e1 hu\u00ecgu\u01cen) yang dipelopori oleh tokoh-tokoh Khonghucu, kemudian pada tahun 1901 diterbitkan sebuah bacaan yang ditulis dalam bahasa Melayu Betawi dengan tujuan mempromosikan ajaran agama Khonghucu. Seiring perkembangannya, berbagai organisasi yang berkaitan dengan agama Khonghucu pun kian bermunculan seperti Loen Boen (1903) di Surabaya, Ik Po (1903) di Solo dan Ho Po (1904) di Bogor, hingga tibalah pada tanggal 12 April 1923 untuk pertama kalinya diadakan kongres pertama yang dihadiri seluruh organisasi Khonghucu \u00a0di Yogyakarta dan terbentuklah Khong Khauw Tjong Hwee (hanzi; \u5b54\u6559\u7e3d\u6703, pinyin; K\u01d2ng ji\u00e0o z\u01d2ng hu\u00ec \/ Majelis Pusat Agama Khonghucu) dengan Fang Guo Yuan (Poey Kok Gwan) sebagai ketua pertama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kemudian pada tanggal 25 September 1924 di Bandung, diselenggarakan kembali Kongres lanjutan Khong Khauw Tjong Hwee dengan berbagai agenda salah satunya seperti merumuskan Tata Agama Khonghucu yang dapat berlaku di Indonesia. Kongres berikutnya diselenggarakan pada tahun 1938 di kota Solo dan pada tahun 1940 di kota Surabaya, yang merumuskan banyak keputusan seperti memberi pelajaran agama Khonghucu di sekolah khusus Khong Khauw Hwee, dan diatur kembali tata upacara pernikahan dan kematian juga perayaan tahun baru Imlek. Pada tahun 1942, untuk sementara waktu aktivitas dan eksistensi dari Khong Khauw Tjong Hwee tidak bisa berjalan alias terhenti dan dibekukan yang dikarenakan oleh penjajahan Jepang dan pecahnya perang dunia kedua. Aktivitas kelembagaan Khonghucu perlahan mulai berjalan setelah Indonesia merdeka, tetapi belum sepenuhnya maksimal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tanggal 15-16 April 1955 konferensi lembaga tertinggi agama Khonghucu di Indonesia kembali diadakan yang menghasilkan \u00a0pergantian nama dari Khong Khauw Tjong Hwee menjadi Perserikatan K\u2019ung Chiao Hui Indonesia disingkat PKCHI. Untuk kesekian kalinya kongres diadakan, pada Kongres IV di Solo tahun 1961, PKCHI berganti nama menjadi Lembaga Agama Sang Khongcu Indonesia (LASKI). Kemudian pada tahun 1963, kongres kali ini menghasilkan keputusan untuk mengubah nama LASKI menjadi Gabungan Perkumpulan Agama Khonghucu se Indonesia (GAPAKSI). Pada tanggal 5-6 Desember 1964, saat diadakan Kongres V GAPAKSI di Tasikmalaya, nama lembaga ini kemudian berubah menjadi Perhimpunan Agama Khonghucu se-Indonesia dengan tetap disingkat GAPAKSI. Akhirnya, pada tanggal 23-27 Agustus 1967 saat diselenggarakan Kongres VI GAPAKSI, salah satu keputusan Kongres tersebut adalah perubahan nama lembaga ini menjadi Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) seperti yang kita kenal pada masa kini.<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong>:<\/p>\n<p>Admin Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN). (2020, April 12). <em>\u200b\u200bSekilas Sejarah Matakin | Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia<\/em>. Matakin. <a href=\"https:\/\/matakin.or.id\/category\/berita\/read\/-sekilas-sejarah-matakin\"><u>https:\/\/matakin.or.id\/category\/berita\/read\/-sekilas-sejarah-matakin<\/u><\/a><\/p>\n<p>ORGANISASI Khazanah arsip, perhimpunan sejarah dan museum di Indonesia. (n.d.). <em>Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN), Jakarta Utara (MAIS-Flexis Indonesia)<\/em>. Arsip Indonesia. <a href=\"https:\/\/arsip-indonesia.org\/nl\/zoeken?mivast=50000&amp;mizig=190&amp;miadt=50000&amp;miaet=14&amp;micode=ORGANISASI&amp;minr=1032393&amp;milang=nl&amp;misort=pla%7Casc&amp;miview=ldt\"><u>https:\/\/arsip-indonesia.org\/nl\/zoeken?mivast=50000&amp;mizig=190&amp;miadt=50000&amp;miaet=14&amp;micode=ORGANISASI&amp;minr=1032393&amp;milang=nl&amp;misort=pla%7Casc&amp;miview=ldt<\/u><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sumber: https:\/\/matakin.or.id\/assets\/media\/logo\/logo_matakin.png Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN, hanzi; \u5370\u5c3c \u5b54\u6559\u7e3d\u6703, pinyin; Y\u00ecnn\u00ed k\u01d2ng ji\u00e0o z\u01d2ng hu\u00ec) merupakan sebuah organisasi yang berperan dalam mengatur perkembangan agama Khonghucu di Indonesia. MATAKIN berdiri pada abad ke-19 atau lebih tepatnya pada tanggal 12 April 1923 dan merupakan satu-satunya organisasi Khonghucu yang diakui oleh pemerintah Indonesia. Pada awalnya, di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":2132,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-2257","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2257","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2257"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2257\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2260,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2257\/revisions\/2260"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2132"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2257"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2257"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2257"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}