    {"id":1243,"date":"2021-07-11T14:30:57","date_gmt":"2021-07-11T07:30:57","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/?p=1243"},"modified":"2021-07-11T14:30:57","modified_gmt":"2021-07-11T07:30:57","slug":"sejarah-kelenteng","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/2021\/07\/sejarah-kelenteng\/","title":{"rendered":"Sejarah Kelenteng"},"content":{"rendered":"<p>Kelenteng atau <em>Miao<\/em> adalah tempat beribadah umat Khonghucu. Kelenteng sudah ada sejak zaman dahulu kala. Keberadaannya sudah dicatat dari zaman Raja Suci <em>Yao<\/em> dan <em>Shun<\/em> (2356 \u2013 2205 SM) sebagai tempat sembahyang kepada <em>Tian<\/em> dan leluhur. Namun, tercatat bahwa Kelenteng pada zaman dahulu diatur sedemikian rupa sehingga hanya raja dan anggota kerajaan Tiongkok yang dapat bersembahyang dalam Kelenteng. Selain dari itu, rakyat biasa hanya dapat bersembahyang kepada arwah leluhurnya.<\/p>\n<p>Menyadari hal ini, Nabi <em>Kongzi<\/em> mulai memikirkan cara agar para rakyat biasa juga dapat menerima ajaran ibadah.<\/p>\n<p>Pada zaman itu, Kelenteng adalah tempat penghormatan bagi raja yang sudah meninggal. Di dalamnya terdapat barang-barang peninggalan raja. Kitab Lunyu mencatat bahwa Nabi <em>Kongzi<\/em> sering mengunjungi <em>Miao<\/em> sebagai tempat belajar membuka wawasan, karena terdapat banyak sekali hal yang ingin ditanyakan setiap masuk ke dalam <em>Miao<\/em>. Oleh karena itu, Nabi <em>Kongzi<\/em> ingin Kelenteng turut menjadi sebuah media belajar untuk rakyat di luar istana.<\/p>\n<p>Di saat itulah, Nabi <em>Kongzi<\/em> menjadikan Kelenteng sebagai tempat masyarakat untuk menjalankan ibadah dan belajar membina kehidupan rohaninya. Kelenteng dibuat dengan menarik, altar <em>Shen Ming<\/em> ditata dengan indah, serta altar <em>Tiangong<\/em> (altar untuk <em>Tian<\/em>) ditaruh di bagian depan. Masyarakat diwajibkan untuk bersembahyang kepada <em>Tiangong<\/em> terlebih dahulu sebelum sembahyang kepada <em>Shen Ming<\/em>. Dengan memasukkan unsur Ketuhanan dalam Kelenteng, Nabi <em>Kongzi<\/em> berhasil memberikan kesempatan kepada masyarakat biasa untuk bersembahyang kepada <em>Tian<\/em>.<\/p>\n<p>Tokoh selanjutnya yang berperan dalam penyebaran pembangunan Kelenteng adalah seorang bernama <em>Xunzi<\/em> (326-233 SM), yang hidup dua ratus tahun setelah zaman Nabi <em>Kongzi<\/em>. Ia ingin meneruskan penyebaran agama Khonghucu. Dalam tulisannya, <em>Xunzi<\/em> mewajibkan para kaisar untuk membangun tujuh buah Kelenteng besar sebelum naik takhta; para gubernur yang baru dilantik sebanyak lima buah Kelenteng besar; para bupati yang baru dilantik sebanyak tiga buah Kelenteng di wilayahnya. Sejak itulah pembangunan Kelenteng berkembang dengan pesat dan tersedia di banyak wilayah di Tiongkok.<\/p>\n<p>Kelenteng pada zaman dahulu sengaja dibangun di daerah pasar dan bukit-bukit supaya mudah ditemukan oleh masyarakat. Sehingga, masyarakat yang tinggal atau bekerja di daerah pasar dan tempat ramai dapat beribadah, serta para petani yang tinggal di pedesaan juga bisa beribadah. Kelenteng dijaga oleh orang yang berpengetahuan luas tentang peribadatan supaya para umat dapat dibantu dalam ibadahnya dan pelaksanaan ibadah dapat dilakukan dengan khusyuk.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<p>Gunadi &amp; Hartono. 2017. <em>Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti<\/em>. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.<\/p>\n<p>Kelenteng Caow Eng Bio, Bali \u2013 salah satu Kelenteng tertua di Indonesia: https:\/\/www.chinatownology.com\/Caow_Eng_Bio.html<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kelenteng atau Miao adalah tempat beribadah umat Khonghucu. Kelenteng sudah ada sejak zaman dahulu kala. Keberadaannya sudah dicatat dari zaman Raja Suci Yao dan Shun (2356 \u2013 2205 SM) sebagai tempat sembahyang kepada Tian dan leluhur. Namun, tercatat bahwa Kelenteng pada zaman dahulu diatur sedemikian rupa sehingga hanya raja dan anggota kerajaan Tiongkok yang dapat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-1243","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1243","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1243"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1243\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1246,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1243\/revisions\/1246"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1243"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1243"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/kbmk\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1243"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}