    {"id":2398,"date":"2021-08-22T12:56:50","date_gmt":"2021-08-22T05:56:50","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/imcb\/?p=2398"},"modified":"2021-08-22T12:56:50","modified_gmt":"2021-08-22T05:56:50","slug":"asal-usul-nusantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/imcb\/2021\/08\/asal-usul-nusantara\/","title":{"rendered":"Asal Usul &#8220;Nusantara&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400\">Nusantara merupakan kata yang digunakan masyarakat Indonesia untuk mendeskripsikan pulau dari Sabang sampai Merauke. Kata-kata ini juga sering diucapkan dan didengar dari berbagai sumber, seperti dari televisi, sosial media, media cetak dan lainnya. Namun, kalian pada tau gak, kata &#8220;Nusantara&#8221; itu asal dari mana? Daripada penasaran, yuk mending sama-sama simak penjelasannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Secara etimologi kata \u201cnusantara\u201d berasal dari 2 bahasa Sansekerta, yaitu kata \u201cnusa\u201d berarti pulau dan kata \u201cantara\u201d berarti di tengah-tengah. Menurut banyak peneliti asal Indonesia, kata Nusantara pertama kali bukan berasal dari Patih Gajah Mada, melainkan oleh Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari. Pada saat itu, Kertanegara mengemukakan konsep Cakrawala Mandala Dwipantara, yang jika diteliti dalam bahasa Sansekerta kata \u201cDwipa\u201d memiliki persamaan kata dengan kata \u201cnusa\u201d yang berarti pulau dan kata \u201cantara\u201d memiliki arti yang sama dengan kata \u201cantara\u201d dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, secara keseluruhan kata memiliki arti \u201cKepulauan Antara\u201d. Makna frasa \u201cKepulauan Antara\u201d ini sama dengan kata \u201cNusantara\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di sisi lain, ada yang menyatakan bahwa kata \u201cNusantara\u201d digunakan pertama kali pada jaman Majapahit abad ke-14 oleh Patih Gajah mada pada Sumpah Palapa. Kata ini digunakan untuk menyebut pulau-pulau yang ada di luar pulau Jawa. Sumpah itu berisi:<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400\">\u201cSira Gajah Mada Patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada, \u201cLamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Ta\u00f1jung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Artinya adalah \u201cBeliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, \u201cJika telah mengalahkan nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada sumpah tersebut yang dituliskan pada kitab Negarakertagama menuliskan bahwa kata Nusantara mencakup pulau Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, sebagian pulau Sulawesi, Maluku dan Papua, termasuk Negara Singapura, Malaysia, Brunei, dan sebagian Filipina.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Namun, setelah Kerajaan Majapahit runtuh, kata \u201cNusantara\u201d tidak lagi digunakan hingga pada abad ke-20. Pada kala itu, pendiri Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara menggunakan istilah \u201cNusantara\u201d untuk menggantikan penggunaan kata \u201cHindia Belanda\u201d. Hal ini dikarenakan kata Hindia Belanda memiliki unsur kata dari bahasa asing yang dapat menyebabkan kerancuan kata pada literatur asing.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Selain kata \u201cNusantara\u201d, ada istilah lainnya yang juga digunakan untuk menggambarkan pulau dari Sabang sampai Merauke, yaitu kata \u201cIndonesie\u201d (Indonesia) dan \u201cInsulinde\u201d (Hindia Kepulauan). Istilah Insulinde dikemukakan oleh Eduard Douwes Dekker. Namun, pada tahun 1928 di Kongress Pemuda Kedua akhirnya kata \u201cIndonesia\u201d ditetapkan sebagai nama kebangsaan. Setelah itu, kata \u201cNusantara\u201d masih digunakan sebagai sinonim dari kata \u201cIndonesia\u201d dan sering digunakan pada iklan televisi dan pembahasan politik dan tidak dilupakan seperti kejadian pada masa sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sampai sekarang, kata \u201cNusantara\u201d ini telah dipakai untuk menggambarkan negara Indonesia dari Sabang sampai Merauke oleh seluruh masyarakat Indonesia di media sosial, televisi, radio, media cetak dan lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sumber:<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/nusantarapos.co.id\/22195\/sejarah-nusantara-dari-berbagai-sisi-pandang\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/nusantarapos.co.id\/22195\/sejarah-nusantara-dari-berbagai-sisi-pandang\/<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/legendanusantara.wordpress.com\/legenda-nusantara\/arti-nama-indonesia-nusantara-dan-asal-usulnya\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/legendanusantara.wordpress.com\/legenda-nusantara\/arti-nama-indonesia-nusantara-dan-asal-usulnya\/<\/span><\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/skola\/read\/2020\/02\/15\/080000369\/asal-usul-istilah-nusantara?page=all\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.kompas.com\/skola\/read\/2020\/02\/15\/080000369\/asal-usul-istilah-nusantara?page=all<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Penulis: Evelyn Aurelia<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nusantara merupakan kata yang digunakan masyarakat Indonesia untuk mendeskripsikan pulau dari Sabang sampai Merauke. Kata-kata ini juga sering diucapkan dan didengar dari berbagai sumber, seperti dari televisi, sosial media, media cetak dan lainnya. Namun, kalian pada tau gak, kata &#8220;Nusantara&#8221; itu asal dari mana? Daripada penasaran, yuk mending sama-sama simak penjelasannya. Secara etimologi kata \u201cnusantara\u201d [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":85,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6,14],"tags":[],"class_list":["post-2398","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles","category-events"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/imcb\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2398","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/imcb\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/imcb\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/imcb\/wp-json\/wp\/v2\/users\/85"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/imcb\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2398"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/imcb\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2398\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2401,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/imcb\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2398\/revisions\/2401"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/imcb\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2398"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/imcb\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2398"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/imcb\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2398"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}