    {"id":6590,"date":"2025-08-05T23:17:55","date_gmt":"2025-08-05T16:17:55","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/?p=6590"},"modified":"2025-08-06T19:16:43","modified_gmt":"2025-08-06T12:16:43","slug":"strategi-last-mile-delivery-berkelanjutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/2025\/08\/05\/strategi-last-mile-delivery-berkelanjutan\/","title":{"rendered":"Strategi Last-Mile Delivery Berkelanjutan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><span style=\"font-weight: 400\"><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/2025\/08\/05\/strategi-last-mile-delivery-berkelanjutan\/foto-gelfand-hanli-lim\/\" rel=\"attachment wp-att-6591\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-6591\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2025\/08\/foto-Gelfand-Hanli-lim.jpeg\" alt=\"\" width=\"238\" height=\"239\" \/><\/a>(Sumber: <a href=\"https:\/\/www.linkedin.com\/posts\/pt.-serasi-autoraya_mengenal-last-mile-delivery-dan-tantangannya-activity-7306494286219329536-FCtb\/\">https:\/\/www.linkedin.com<\/a>)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pengiriman\u00a0<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">last-mile<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"><em>\u00a0<\/em>adalah tahap akhir rantai pasok dimana barang diantarkan kepada konsumen akhir. Fase ini krusial namun juga menimbulkan tantangan operasional dan lingkungan yang besar. Menurut Accenture, tahap\u00a0<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">last-mile <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">menyumbang sekitar 53% dari total biaya pengiriman dan dapat menaikkan emisi karbon hingga 32% pada tahun 2030 jika tidak ada intervensi. Oleh karena itu, di tengah pesatnya pertumbuhan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">e-commerce<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> global, penerapan strategi pengiriman berkelanjutan menjadi langkah penting untuk menekan biaya dan dampak ekologis.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Last-mile delivery<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0mencakup berbagai pihak dalam ekosistem logistik. Proses ini melibatkan operator logistik (perusahaan kurir dan jasa antar paket), pengecer (terutama <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">e-commerce<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">), serta konsumen akhir yang menerima barang. Selain itu, pemerintah dan pemangku kepentingan kota juga berperan dalam menciptakan regulasi dan infrastruktur pendukung. Menurut Accenture, tidak ada satu pihak pun yang dapat menyelesaikan masalah ini sendirian, seluruh pemangku kepentingan \u2013 mulai dari organisasi pos dan paket, pengecer, perusahaan pengiriman, pemerintah, hingga konsumen \u2013 harus bekerja sama untuk mewujudkan sistem\u00a0<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">last-mile<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0yang lebih cepat, efisien, dan hijau.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Permintaan global akan\u00a0<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">last-mile delivery<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0terus meningkat seiring pesatnya peralihan ke belanja daring. Studi Forum Ekonomi Dunia memperkirakan permintaan pengiriman terakhir akan tumbuh sekitar 78% pada 2030. Akibatnya, jumlah kendaraan pengiriman di 100 kota besar dunia akan naik 36%, yang memicu kenaikan lalu lintas hingga 32% dan kemacetan jalan sebesar 21%. Tren ini sudah terlihat sekarang di kota-kota besar di Eropa, Asia, dan Amerika. Misalnya, banyak kota metropolitan menerapkan kebijakan zona rendah emisi (LEZ) untuk mendorong penggunaan armada ramah lingkungan. Kondisi ini menegaskan perlunya keberlanjutan di\u00a0<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">last-mile<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0saat ini agar target pengurangan emisi global dapat tercapai.<\/span><b>\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Berbagai strategi inovatif telah diterapkan untuk membuat\u00a0<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">last-mile delivery<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> lebih berkelanjutan. Salah satunya adalah optimasi rute cerdas: model perhitungan Accenture menunjukkan bahwa dengan optimasi rute dan\u00a0<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">fulfillment<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0lokal, armada pengiriman dapat menghemat jarak tempuh hingga 140 juta kilometer. Konsolidasi pengiriman juga penting, misalnya melalui Urban Consolidation Centers (UCC) dan\u00a0<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">micro-hubs<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0di pinggiran kota yang mengelompokkan paket sebelum didistribusikan lebih lanjut. Inovasi lainnya, seperti penggunaan loker paket dan titik penjemputan, memungkinkan pelanggan mengambil barang sendiri, sehingga mengurangi perjalanan pengiriman ulang. Selain itu, komisi Eropa juga mendorong pemakaian kendaraan emisi nol, model distribusi baru, dan rute dinamis untuk memaksimalkan efisiensi armada serta mengurangi perjalanan tanpa muatan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Memasuki era <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">e-commerce<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> dan urbanisasi yang tinggi, keberlanjutan pengiriman\u00a0<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">last-mile<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"><em>\u00a0<\/em>bersifat mendesak. Kolaborasi antara perusahaan logistik, pengecer, pemerintah, dan konsumen menjadi kunci untuk meracik kombinasi strategi yang optimal \u2013 mulai dari digitalisasi rute dan konsolidasi pengiriman hingga penggunaan kendaraan ramah lingkungan dan kebijakan publik pro-lingkungan. Oleh karena itu, penerapan solusi inovatif tersebut secara terpadu, industri logistik global dapat mewujudkan pengiriman akhir yang lebih efisien sekaligus ramah lingkungan di masa depan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sumber:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dewi Sulistiowati,\u00a0<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Strategi Keberlanjutan dalam Last Mile Delivery: Optimalisasi Efisiensi, Pengurangan Emisi, dan Inovasi Logistik Perkotaan<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">, DiklatKerja, 24 Juni 2025.\u00a0<\/span><a href=\"blank\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.diklatkerja.com\/blog\/strategi-keberlanjutan-dalam-last-mile-delivery-optimalisasi-efisiensi-pengurangan-emisi-dan-inovasi-logistik-perkotaan<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Komal Puri,\u00a0<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">How to achieve sustainable last-mile delivery &amp; why it\u2019s important<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">, FarEye Blog, 13 Oktober 2022.\u00a0<\/span><a href=\"https:\/\/fareye.com\/resources\/blogs\/sustainable-last-mile-delivery\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/fareye.com\/resources\/blogs\/sustainable-last-mile-delivery<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">European Commission,\u00a0<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Zero-emission urban freight logistics and last-mile delivery<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">.\u00a0<\/span><a href=\"https:\/\/transport.ec.europa.eu\/transport-themes\/urban-transport\/zero-emission-urban-freight-logistics-and-last-mile-delivery_en\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/transport.ec.europa.eu\/transport-themes\/urban-transport\/zero-emission-urban-freight-logistics-and-last-mile-delivery_en<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Sumber: https:\/\/www.linkedin.com) Pengiriman\u00a0last-mile\u00a0adalah tahap akhir rantai pasok dimana barang diantarkan kepada konsumen akhir. Fase ini krusial namun juga menimbulkan tantangan operasional dan lingkungan yang besar. Menurut Accenture, tahap\u00a0last-mile menyumbang sekitar 53% dari total biaya pengiriman dan dapat menaikkan emisi karbon hingga 32% pada tahun 2030 jika tidak ada intervensi. Oleh karena itu, di tengah pesatnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":6630,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-6590","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles-2"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6590","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6590"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6590\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6594,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6590\/revisions\/6594"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6630"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6590"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6590"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6590"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}