    {"id":4234,"date":"2021-10-28T01:56:52","date_gmt":"2021-10-27T18:56:52","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/?p=4234"},"modified":"2021-10-28T01:56:52","modified_gmt":"2021-10-27T18:56:52","slug":"perkembangan-sektor-pertanian-pada-revolusi-industri-4-0","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/2021\/10\/28\/perkembangan-sektor-pertanian-pada-revolusi-industri-4-0\/","title":{"rendered":"Perkembangan Sektor Pertanian  pada Revolusi Industri 4.0"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><span style=\"font-weight: 400\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2021\/10\/zz.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4235\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2021\/10\/zz.jpg\" alt=\"\" width=\"512\" height=\"295\" \/><\/a>(Sumber:<\/span><a href=\"https:\/\/assets-a1.kompasiana.com\/items\/album\/2019\/05\/02\/screenshot-5-5ccabe1295760e4dd0595147.png\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/assets-a1.kompasiana.com\/items\/album\/2019\/05\/02\/screenshot-5-5ccabe1295760e4dd0595147.png<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><span style=\"font-weight: 400\">Tsania Qurrota Aini<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><span style=\"font-weight: 400\">2440112014<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Terkenal dengan negara ketiga penghasil beras terbanyak di dunia, membuat sektor pertanian Indonesia harus menjadi salah satu sektor yang terbantu dengan masuknya era revolusi industri 4.0. Era yang berbasis teknologi ini menghasilkan banyak sekali inovasi yang berguna bagi segala sektor kehidupan, salah satunya pertanian. Saat ini sudah banyak produk-produk dengan sistem digital yang dibuat dan dikembangan untuk memudahkan proses bercocok tanam seperti penanaman, pembibitan, pemupukan, pengendalian hama, dan lain sebagainya. Hal ini membuat kebutuhan tenaga kerja manusia menjadi sedikit karena semuanya sudah bisa dikerjakan oleh mesin ataupun robot. Tentu saja pengalihan dari sistem manual menjadi sistem otomatis menggunakan mesin memberikan dampak yang begitu terasa bagi para petani di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kebutuhan sumber pangan di Indonesia yang begitu tinggi membuat pemerintah terus mencari cara demi memenuhi kebutuhan pangan warganya terutama beras. Revolusi industri memberikan tekanan bagi Kementerian Pertanian untuk meningkatkan kualitas produk agar dapat bersaing dalam pasar global dengan cara menggunakan pertanian modern. Ada beberapa teknologi 4.0 yang sudah dibuat untuk memodernisasi mekanisme pertanian di Indonesia seperti, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Smart Tractor<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Modern Drone<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sebar benih dan pupuk, dan lain sebagainya. Inovasi ini memberikan dampak positif bagi perekonomian dalam negeri. Pasalnya, dengan digunakannya teknologi pertanian 4.0 membuat capaian pemerintah menjadi melebihi target dengan harga stabil dan eskpor meningkat drastis sehingga kesejahteraan petani pun ikut meningkat. Selain itu, penggunaan teknologi pada pertanian ternyata dapat menurunkan biaya produksi sebesar 30 persen dan mampu meningkatkan produktivitas yang cukup tinggi. Namun dibalik keberhasilan itu semua, Indonesia masih belum bisa mengoptimalkan inovasi yang ada karena kurangnya sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan teknologi pertanian 4.0. Hal ini terjadi karena masuknya era yang serba mesin ini membuat masyarakat berpikir bahwa mereka harus merantau ke kota untuk menjadi buruh pabrik sehingga pertanian sudah bukan lagi menjadi tumpuan dalam meningkatkan taraf hidup.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kurangnya sosialisasi mengenai revolusi industri 4.0 kepada para petani di Indonesia membuat penerapan pertanian 4.0 menjadi terhambat. Jika dilihat dari segi infrastruktur teknologi pertanian di Indonesia sudah cukup baik, namun dari segi sumber daya manusianya masih kurang sehingga dengan adanya ketidakseimbangan ini diharapkan pemerintah dapat memberikan pengetahuan dan pelatihan kepada generasi millenial agar menghasilkan pekerja yang profesional di bidang pertanian.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sumber:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Herdiana, &amp; Hermawan, Y. (2020). ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN REVOLUSI INDUSTRY PERTANIAN 4.0 TERHADAP SOSIAL EKONOMI PETANI DI KECAMATAN PRAYA BARAT KABUPATEN LOMBOK TENGAH \u2013NTB. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">15<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kilmanun, J. C., &amp; Astuti, D. W. (2020). POTENSI DAN KENDALA REVOLUSI INDUSTRI 4.0. DI SEKTOR.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Mediaindonesia. (2019). Pertanian 4.0 Efisiensi Waktu dan Peningkatan Produktivitas. Retrieved from https:\/\/mediaindonesia.com\/ekonomi\/244077\/pertanian-40-efisiensi-waktu-dan-peningkatan-produktivitas<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Sumber:https:\/\/assets-a1.kompasiana.com\/items\/album\/2019\/05\/02\/screenshot-5-5ccabe1295760e4dd0595147.png) Tsania Qurrota Aini 2440112014 Terkenal dengan negara ketiga penghasil beras terbanyak di dunia, membuat sektor pertanian Indonesia harus menjadi salah satu sektor yang terbantu dengan masuknya era revolusi industri 4.0. Era yang berbasis teknologi ini menghasilkan banyak sekali inovasi yang berguna bagi segala sektor kehidupan, salah satunya pertanian. Saat ini sudah banyak produk-produk dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":4236,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-4234","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles-2"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4234","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4234"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4234\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4237,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4234\/revisions\/4237"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4236"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4234"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4234"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtri\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4234"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}