    {"id":529,"date":"2017-01-28T01:44:39","date_gmt":"2017-01-27T18:44:39","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtes\/?p=529"},"modified":"2017-01-28T05:31:07","modified_gmt":"2017-01-27T22:31:07","slug":"perancah-bekisting-miring","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtes\/2017\/01\/28\/perancah-bekisting-miring\/","title":{"rendered":"PERANCAH BEKISTING MIRING?"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/bekisting1.jpg?fit=585%2C439\" alt=\"Image result for perancah bekisting\" \/><\/p>\n<p>Semuanya berawal dari foto ini, yang diunggah di sebuah facebook page, tentang keresahan seseorang melihat perancah-perancah bekisting yang disusun seperti gambar di atas. Dari foto itu terlihat di beberap titik tertentu, ujung-ujung bawah perancah diposisikan di satu titik. Pertanyaannya adalah, kenapa dibuat seperti itu? Ada yang pro, ada yang kontra.<\/p>\n<p>Menurut kalian\u00a0gimana? Mari kita telusuri!<\/p>\n<h1><strong>FUNGSI PERANCAH<\/strong><\/h1>\n<p>Perancah berfungsi buat menyokong (men-support) bekisting\/begisting\/formwork \u2013 khususnya bekisting kayu\/papan\/multiplek. Kenapa? Karena waktu dicor, dalam keadaan masih encer, beton belum punya kekuatan sama sekali. Beton encer akan menjadi beban buat bekisting kayu, dan bekisting kayu ngga punya kekuatan yang cukup. Kalo ngga pake perancah, bekisting tentu bisa jebol dan ambruk.<\/p>\n<p>Oleh sebab itu, bekisting perlu disokong penuh di bagian bawahnya agar tidak ambruk.<\/p>\n<h1><strong>JENIS PERANCAH<\/strong><\/h1>\n<p>Ada 2 jenis penyokong atau perancah bekisting, salah satunya adalah <u>tipe konvensional<\/u> yang terbuat dari material kayu (dolken, bambu, dll). Satu lagi adalah <u>tipe modern<\/u>. Tipe ini umumnya terbuat dari material logam (besi\/aluminium, dll) bahkan ada dari polimer, dan bentuknya bermacam-macam. Untuk tipe modern, karena merupakan hasil inovasi manusia, tentu sudah diperhitungkan dengan baik, sehingga bisa diperoleh struktur perancah yang optimum.<\/p>\n<p>Sementara tipe konvensional, hanya sedikit yang melakukan analisis, salah satu alasannya adalah ukuran penampang kayu yang dipakai sangat bervariasi. Jadi, konfigurasi yang dipakai untuk perancah kayu sebagian besar hanya didasarkan pada <em>trial-error experiences<\/em> &amp; <em>common practices<\/em> saja, yang pada akhirnya disepakati dalam beberapa aturan tanpa penelitian, misalnya:<\/p>\n<ul>\n<li>umur batang kayu harus sekian,<\/li>\n<li>diameter dolken minimal sekian,<\/li>\n<li>jarak antar perancah maksimal 70-80 cm misalnya,<\/li>\n<li>kelurusan batang juga cukup diverifikasi secara manual,<\/li>\n<li>dll.<\/li>\n<\/ul>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" title=\"image\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/image.png?resize=609%2C398\" alt=\"image\" width=\"609\" height=\"398\" border=\"0\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h1><strong>KONFIGURASI PERANCAH KONVENSIONAL<\/strong><\/h1>\n<p>Perancah pada dasarnya disusun dalam posisi tegak vertikal sejajar kolom, karena memang fungsinya menahan beban ke arah bawah.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" title=\"image\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/image-1.png?resize=397%2C323\" alt=\"image\" width=\"397\" height=\"323\" border=\"0\" \/><\/p>\n<p>Semakin banyak jumlah perancah, semakin rapat jarak-jaraknya, semakin aman bekisting di atasnya. Tapi tentu ada batas-batas yang perlu diperhatikan, misalnya:<\/p>\n<ul>\n<li>Jarak antar perancah jangan terlalu sempit agar orang masih bisa lalu-lalang di bawahnya<\/li>\n<li>Jangan juga terlalu lebar, karena bekistingnya juga punya batas bentangan tertentu agar bisa kuat menahan cor beton.<\/li>\n<\/ul>\n<h1><strong>BEBAN YANG BEKERJA PADA BEKISTING<\/strong><\/h1>\n<p>Nah, sekarang mulai masuk ke bagian serius. Beban pada bekisting (khususnya bekisting slab &amp; balok) itu ngga banyak, bisa ditaksir. Di situ ada berat beton cor, dan beban pekerja. Semua beban itu bekerja searah gravitasi (vertikal ke bawah). Pertanyaannya, <strong><em>apakah ada beban lateral\/horzontalnya?<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Kalo mau merujuk ke <em>Code &amp; Standard<\/em>, susah nemu jawabannya. Tapi di buku teks ada (<em>sayang sekali admin lupa judulnya<\/em>).<\/p>\n<p>Jawabannya: ADA.<\/p>\n<p>Memang ada beban horizontal yang bekerja pada saat beton di cor, khususnya untuk <strong>beton yang dicor pake ready mix<\/strong>. Tolong di-<em>highlight<\/em>\u2026 hanya untuk beton <em>ready mix<\/em>.<\/p>\n<p>Waktu beton ready mix dituang, ada daya dorong ke samping yang berasal dari beton cair yang jatuh itu. Itu yang dominan. Selebihnya ngga terlalu besar, misalnya gerakan pekerja mendorong <em>concrete-pump<\/em>, dll.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" title=\"bekisting_coratap\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/bekisting_coratap.jpg?resize=482%2C285\" alt=\"bekisting_coratap\" width=\"482\" height=\"285\" border=\"0\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" title=\"bekisting_coratap2\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/bekisting_coratap2.jpg?resize=478%2C320\" alt=\"bekisting_coratap2\" width=\"478\" height=\"320\" border=\"0\" \/><\/p>\n<p>Beban horizontalnya memang ngga terlalu besar dibandingkan beban ke bawah. Tapi bisa berpengaruh ke struktur perancah.<\/p>\n<h1><strong>STABILITAS STRUKUR PERANCAH<\/strong><\/h1>\n<p>Kalau kita modelkan struktur perancah, sebenarnya struktur itu bukan struktur yang stabil, karena kedua ujungnya termasuk ujung-ujung sendi \u2013 bisa berotasi dengan bebas. Ada dorongan sedikit ke samping, struktur itu bisa ambruk dengan sukses.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" title=\"image\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/image-2.png?resize=553%2C161\" alt=\"image\" width=\"553\" height=\"161\" border=\"0\" \/><\/p>\n<p>Lalu? Apa yang membuat struktur itu stabil?<\/p>\n<p>Kolom beton yang sudah dicor duluan. Itu yang membuat bekisting dan perancahnya bisa berdiri dengan nyaman di sana.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" title=\"image\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/image-3.png?resize=510%2C237\" alt=\"image\" width=\"510\" height=\"237\" border=\"0\" \/><\/p>\n<p>Jadi, beban horizontal yang disebutkan sebelumnya, bisa ditahan oleh kekakuan kolom. Tapi, ada satu masalah lagi\u2026 umur kolomnya kan masih muda\u2026 ngga lebih dari 7 hari misalnya. Yakin, dia kuat?<\/p>\n<p>Ada yang yakin, ada yang ngga. Kalo ditanya kuat atau ngga, jelas itu kuat. Ada besi-besi tulangannya. Yang perlu dikhawatirkan adalah beton kolomnya sendiri, dengan umur segitu mungkin dia masih\u00a0 rapuh, momen retaknya masih sangat kecil. Ada dorongan sedikit di atas, dikalikan tinggi kolom, menghasilkan momen lentur di ujung bawah kolom. Ada momen, ada tegangan. Kalo tegangannya lebih besar daripada tegangan retak, kemungkinan besar kolom bisa retak dikit. Walopun dikit, tapi pengaruh ke depannya besar.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" title=\"image\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/image-4.png?resize=418%2C226\" alt=\"image\" width=\"418\" height=\"226\" border=\"0\" \/><\/p>\n<h1><strong>MENGAMANKAN KOLOM<\/strong><\/h1>\n<p>Jadi, biar kolomnya aman, ngga terganggu dengan \u201cdorongan-dorongan\u201d dari atas, maka dicarilah konfigurasi alternatif untuk si perancah. Ada yang membuat semacam ikatan silang (bracing). Ini lumayan banyak ditemui.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" title=\"image\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/image-5.png?resize=584%2C202\" alt=\"image\" width=\"584\" height=\"202\" border=\"0\" \/><\/p>\n<p>Dan, tentu saja, ada yang membuat konfigurasi seperti foto paling atas. <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wlEmoticon wlEmoticon-smile\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/wlEmoticon-smile.png?w=680\" alt=\"Smile\" width=\"19\" height=\"19\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" title=\"image\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/image-6.png?resize=294%2C184\" alt=\"image\" width=\"294\" height=\"184\" border=\"0\" \/><\/p>\n<p>Batang yang dimiringkan bisa meningkatkan kekakuan ke arah lateral dengan sangat signifikan.<\/p>\n<h1><strong>STRUKTUR SEJENIS<\/strong><\/h1>\n<p>Sebenarnya kasus di atas ngga hanya terjadi di perancah, tapi juga di struktur vertikal lainnya seperti <strong>kolom<\/strong> dan <strong>tiang pancang<\/strong>. Kalo kolom memang sangat jarang, dan itu biasanya berawal dari kebutuhan arsitektural, jarang ada konsultan perencana struktur yang minta kolom miring <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wlEmoticon wlEmoticon-openmouthedsmile\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/wlEmoticon-openmouthedsmile.png?w=680\" alt=\"Open-mouthed smile\" width=\"19\" height=\"19\" \/>.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" title=\"image\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/image-7.png?resize=471%2C280\" alt=\"image\" width=\"471\" height=\"280\" border=\"0\" \/><br \/>\n<em>Contoh bangunan yang menggunakan kolom miring. (Baruga Telkomsel Makassar)<\/em><\/p>\n<p>Tapi untuk tiang pancang, cukup mudah ditemukan, terutama di bangunan pesisir pantai, lepas pantai, sungai, dll. Sebagian besar tiang pancang di sana ada yang dipasang miring. Tujuannya bukan ke strength, tapi ke <em>stability<\/em>, persis sama dengan kasus perancah di atas.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" title=\"image\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/image-8.png?resize=419%2C314\" alt=\"image\" width=\"419\" height=\"314\" border=\"0\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h1><strong>Penutup<\/strong><\/h1>\n<p>Sebenarnya sangat banyak improvisasi yang dilakukan di lapangan yang hanya didasarkan oleh <em>feeling <\/em>aja. Siapa pun yang melakukan itu, sebaiknya jangan langsung di-judge \u201csok tau\u201d, ngawur, amatir, dan <em>underestimating statement<\/em> lainnya. Jangan juga langsung dipuji berlebihan. Kalo mampu, lebih baik berikan dukungan secara teknis.<\/p>\n<p>Gunakan kaidah ilmiah, cari tau latar bekalangnya, tujuannya, apa dugaannya, trus dianalisis, dan bandingkan hasilnya dengan dugaan sebelumnya. Kemungkinan cuma 2: hasil analisis memperkuat atau searah dengan dugaan, atau hasil analisis bertolak belakang dengan dugaan. Kalo searah, dukung terus dan mantapkan. Kalo bertolak belakang, carikan solusi. <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wlEmoticon wlEmoticon-smile\" src=\"https:\/\/i2.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/wlEmoticon-smile.png?w=680\" alt=\"Smile\" width=\"19\" height=\"19\" \/><\/p>\n<p>Terakhir, cuma mau share foto-foto yang admin nemu di google\u2026 <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wlEmoticon wlEmoticon-openmouthedsmile\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/wlEmoticon-openmouthedsmile.png?w=680\" alt=\"Open-mouthed smile\" width=\"19\" height=\"19\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" title=\"bekisting2\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/bekisting2.jpg?resize=400%2C266\" alt=\"bekisting2\" width=\"400\" height=\"266\" border=\"0\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" title=\"bekisting3\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/bekisting3.jpg?resize=509%2C282\" alt=\"bekisting3\" width=\"509\" height=\"282\" border=\"0\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" title=\"bekisting4\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/bekisting4.jpg?resize=468%2C378\" alt=\"bekisting4\" width=\"468\" height=\"378\" border=\"0\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" title=\"bekisting5\" src=\"https:\/\/i1.wp.com\/duniatekniksipil.web.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/bekisting5.jpg?resize=555%2C417\" alt=\"bekisting5\" width=\"555\" height=\"417\" border=\"0\" \/><\/p>\n<p>Itu adalah foto-foto kegagalan perancah bekisting.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semuanya berawal dari foto ini, yang diunggah di sebuah facebook page, tentang keresahan seseorang melihat perancah-perancah bekisting yang disusun seperti gambar di atas. Dari foto itu terlihat di beberap titik tertentu, ujung-ujung bawah perancah diposisikan di satu titik. Pertanyaannya adalah, kenapa dibuat seperti itu? Ada yang pro, ada yang kontra. Menurut kalian\u00a0gimana? Mari kita telusuri! [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":533,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7,3],"tags":[13,15,16,6,14,17],"class_list":["post-529","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","category-slideshow","tag-bekisiting","tag-civil","tag-construction","tag-marikitatelurusi","tag-miring","tag-tekniksipil"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtes\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/529","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtes\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtes\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtes\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtes\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=529"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtes\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/529\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":553,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtes\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/529\/revisions\/553"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtes\/wp-json\/wp\/v2\/media\/533"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtes\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=529"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtes\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=529"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himtes\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=529"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}