PENGARUH PEMELIHARAAN JEMBATAN

 

Image result for jembatan kutai kartanegaraJembatan Kutai Kartanegara yang katanya Golden Gate-nya Indonesia rubuh dalam umur yang pendek, hanya 10 tahun dalam waktu 30 detik. berdasarkan kesaksian warga dan foto yang diterima, kabel hanger mengalami kegagalan atau putus bukan landasan jalan yang rusak.
Sementara Guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Daniel M. Rosyid, menyatakan, faktor konstruksi hingga teknis pemeliharaan menjadi penyebab rontoknya jembatan.
Jembatan di Kutai Kartanegara itu, kata dia, dibangun menggunakan konstruksi gantung dengan menumpukkan seluruh beban pada kedua sisi jembatan. Daniel menambahkan, sedikit saja kesalahan teknis dalam proses pemeliharaan di kedua titik di bibir jembatan, bisa berakibat fatal.
“Tegangan bebannya sangat tinggi karena seluruh beban jembatan terkonsentrasi di sana. Akibatnya, jembatan dalam kondisi rawan putus. Sedikit kesalahan dalam mengutak-atik bisa menyebabkan kabel putus dan sepersekian detik jembatan akan anjlok,” katanya. Model jembatan ini, menurut Daniel, sebenarnya tak aman untuk dibangun di Indonesia dibanding jembatan berbasis beton. Misalnya, jembatan berbasis beton Surabaya-Madura. Jembatan ini menyebarkan beban pada seluruh tiang pancang penopang. “Sehingga beban tidak terkonsentrasi di dua titik saja.”

Sedangkan umumnya Golden Gate sendiri dalam usia yang tua (74 tahun) masih bisa berdiri kokoh. Apakah karena pengaruh cara perawatan yang benar?

Nah, lalu mengapa pemeliharaan sebuah jembatan diperlukan?

Secara umum, semua bagunan sipil (gedung, jembatan, bangunan air, air port) dirancang untuk sesuai dengan fungsi/tujuan dengan mengindahkan persyaratan-persyaratan kekuatan, kekakuan, kestabilan, daktilitas dan ketahanan terhadap kondisi lingkungan.

Image result for jembatan kutai kartanegara

 

Namun setelah bangunan berdiri, terjadi kerusakan yang berakibat persyaratan-persyaratan tersebut tidak terpebuhi lagi. Kerusakan dapat terjadi sejak awal bangunan beroperasi yang disebabkan oleh perencanaan, perencanaan dan pengawasan yang kurang baik, maupun setelah bangunan beroperasi yang disebabkan antara lain karena serangan fisik, kimia, overloading, penurunan pondasi, gempa, kebakaran, fatique, kejatuhan pesawat terbang dll. Secara langsung maupun tidak, kerusakan akan menyebabkan degradasi kekuatan yang mempengaruhi kinerja struktur secara keseluruhan. Jika bangunan tidak segera ditangani perbaikan atau perkuatannya, kerusakan dapat berlanjut lebih para lagi. Agar bangunan yang sudah rusak dapat terus difungsikan, diperlukan tindakan rehabilitasi yang dapat berupa perbaikan (retrofit) atau perkuatan (strengthening).

Sebelum dilaksanakan tindakan rehabilitasi bangunan existing, diperlukan pemeriksaan investigasi dan evaluasi kerusakan struktur utama maupun pendukung untuk mengetahui sejauh mana kelaikan bangunan. Dari hasil investigasi dan evaluasi dapat ditentukan metode perbaikan atau perkuatan yang paling optimal. Yang telah memasukkan beberapa kajian antara lain pendanaan/biaya, durasi pelaksanaan, ketersediaan bahan, alat, tenaga, dll. Investigasi semacam ini sering disebut Rekayasa Forensik (Forensic Engineering).