    {"id":2969,"date":"2022-05-04T10:14:37","date_gmt":"2022-05-04T03:14:37","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/?p=2969"},"modified":"2022-05-04T10:14:37","modified_gmt":"2022-05-04T03:14:37","slug":"22a17","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/2022\/05\/22a17\/","title":{"rendered":"Kondisi Dunia Fauna di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400\">Di antara banyaknya julukan yang dimiliki Indonesia, salah satunya adalah \u201c<\/span><b>The Lost World of Asia<\/b><span style=\"font-weight: 400\">.\u201d Julukan tersebut merujuk pada keragaman fauna di Indonesia. Berdasarkan data yang diambil dari <\/span><b>BKIPM<\/b><span style=\"font-weight: 400\">, Indonesia memiliki<\/span><span style=\"font-weight: 400\"> \u00b1 400.000 jenis hewan dan ikan. Selain itu sekitar 14% terumbu karang dan 45% ikan dunia berada di Indonesia. Selain itu, Indonesia juga merupakan habitat bagi satwa endemik (satwa yang hanya ditemukan pada satu wilayah saja). Menurut perkiraan <\/span><b>IUCN<\/b><span style=\"font-weight: 400\">, ada 259 jenis mamalia, 384 jenis burung, dan 173 jenis amfibi yang bersifat endemik di Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sayangnya, Indonesia juga memiliki daftar panjang fauna yang terancam punah. Melihat website <\/span><b>Red List<\/b><span style=\"font-weight: 400\"> yang dimiliki oleh IUCN, dapat dilihat bahwa ada 197 spesies dalam kategori <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">critically endangered<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, 375 spesies dalam kategori <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">endangered<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, dan 690 spesies dalam kategori <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">vulnerable<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Penyebab utama terancam punahnya fauna di Indonesia adalah kegiatan manusia di berbagai bidang yang merusak habitat asli spesies-spesies tersebut, seperti pembangunan, pertambangan, dan pariwisata. Ambil saja hutan sebagai contoh. Pada tahun 2000, luas hutan di Indonesia adalah sekitar 1,01 juta km\u00b2 (101 juta hektar). Angka tersebut turun setiap tahunnya dengan terjadinya penurunan drastis dari tahun 2010 ke 2011 dengan angka penurunan sekitar 9263 km\u00b2. Data terakhir pada tahun 2020 silam menunjukkan bahwa luas hutan di Indonesia hanya sekitar 921.332 km\u00b2. Jika dihitung, terjadi penurunan luas sekitar 88 ribu km\u00b2.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-content\/uploads\/sites\/15\/2022\/05\/image1-3.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-2970\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-content\/uploads\/sites\/15\/2022\/05\/image1-3.png\" alt=\"\" width=\"969\" height=\"571\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><span style=\"font-weight: 400\">Grafik 1 (Grafik Luas Hutan di Indonesia tahun 2000 &#8211; 2020)<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Selain merusak habitatnya, terdapat kelompok yang mengancam keberadaan fauna secara langsung, yaitu pemburu. Alasan dibalik perburuan ini bermacam-macam, ada yang ingin mencari untung dengan menjual hasil buruannya dan ada juga yang ingin mengoleksinya. <\/span><b>Prof. Ronny Rachman Noor<\/b><span style=\"font-weight: 400\"> mengatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu eksportir produk satwa liar terbesar. Menurut <\/span><b>ProFauna Indonesia<\/b><span style=\"font-weight: 400\">, lebih dari 95% satwa yang dijual di pasar domestik merupakan hasil buruan langsung dari alam, bukan dari penangkaran. Walaupun kegiatan perburuan dan perdagangan satwa ilegal sudah diatur sanksinya dalam undang-undang, tetap saja ada orang yang tidak pernah peduli dan jera.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jika tidak ada tindakan lanjut untuk mengatasi faktor kepunahan fauna di Indonesia, kemungkinan besar akan terjadi kepunahan fauna massal, terutama fauna endemik Indonesia. Maka dari itu, yuk sama-sama lindungi dunia fauna kita! Tidak perlu melakukan hal yang luar biasa, cukup dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">speak up<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> untuk meningkatkan kesadaran orang lain dan membiasakan gaya hidup yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">sustainable<\/span><\/i><b>.\u00a0<\/b><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Referensi:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Authentic Indonesia. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">11 Endangered Animals Only Exist in Indonesia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Diakses melalui <\/span><a href=\"https:\/\/authentic-indonesia.com\/blog\/11-endangered-animals-only-exist-in-indonesia\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/authentic-indonesia.com\/blog\/11-endangered-animals-only-exist-in-indonesia\/<\/span><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Averemalia. (2021). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Perdagangan dan Perburuan Liar: Mengeruk Cuan, Menjerat Satwa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Diakses melalui <\/span><a href=\"https:\/\/ketik.unpad.ac.id\/posts\/2919\/perdagangan-dan-perburuan-liar-mengeruk-cuan-menjerat-satwa\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/ketik.unpad.ac.id\/posts\/2919\/perdagangan-dan-perburuan-liar-mengeruk-cuan-menjerat-satwa<\/span><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Bismiarti. (2021). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Perdagangan Satwa Ilegal Berdampak pada Keseimbangan Ekosistem Alam<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Diakses melalui <\/span><a href=\"https:\/\/jurnalistik.fikom.unpad.ac.id\/perdagangan-satwa-ilegal-berdampak-pada-keseimbangan-ekosistem-alam\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/jurnalistik.fikom.unpad.ac.id\/perdagangan-satwa-ilegal-berdampak-pada-keseimbangan-ekosistem-alam\/<\/span><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">BKIPM. (2015). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">PETUNJUK TEKNIS PEMETAAN SEBARAN JENIS AGEN HAYATI YANG DILINDUNGI, DILARANG DAN INVASIF DI INDONESIA<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Diakses melalui <\/span><a href=\"http:\/\/bkipm.kkp.go.id\/bkipmnew\/public\/files\/regulasi\/JUKNIS%20PEMETAAN%20SEBARAN%20JADDI.pdf\"><span style=\"font-weight: 400\">http:\/\/bkipm.kkp.go.id\/bkipmnew\/public\/files\/regulasi\/JUKNIS%20PEMETAAN%20SEBARAN%20JADDI.pdf<\/span><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sumber data IUCN:<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.iucnredlist.org\/search?landRegions=ID&amp;searchType=species\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.iucnredlist.org\/search?landRegions=ID&amp;searchType=species<\/span><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sumber grafik:<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/data.worldbank.org\/indicator\/AG.LND.FRST.K2?contextual=default&amp;locations=ID&amp;name_desc=false\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/data.worldbank.org\/indicator\/AG.LND.FRST.K2?contextual=default&amp;locations=ID&amp;name_desc=false<\/span><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di antara banyaknya julukan yang dimiliki Indonesia, salah satunya adalah \u201cThe Lost World of Asia.\u201d Julukan tersebut merujuk pada keragaman fauna di Indonesia. Berdasarkan data yang diambil dari BKIPM, Indonesia memiliki \u00b1 400.000 jenis hewan dan ikan. Selain itu sekitar 14% terumbu karang dan 45% ikan dunia berada di Indonesia. Selain itu, Indonesia juga merupakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":2967,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-2969","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2969","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2969"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2969\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2971,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2969\/revisions\/2971"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2967"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2969"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2969"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2969"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}