    {"id":2341,"date":"2021-12-14T18:39:06","date_gmt":"2021-12-14T11:39:06","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/?p=2341"},"modified":"2022-01-06T18:59:57","modified_gmt":"2022-01-06T11:59:57","slug":"21a38","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/2021\/12\/21a38\/","title":{"rendered":"Mengakhiri Kelaparan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Sandang, sangan, dan papan. Tiga hal ini sangat krusial dalam\u00a0menjalani kehidupan. Sayangnya, banyak rakyat Indonesia yang masih tidur dengan perut yang kosong. Kondisi ini disebut dengan kelaparan. Kelaparan merupakan suatu kondisi ketika seseorang tidak dapat memenuhi asupan gizinya karena suatu alasan tertentu yang menghalanginya. Menurut <em>The World Count<\/em>, sekitar 9 juta orang mati akibat kelaparan atau penyakit yang berhubungan dengan kelaparan. Kondisi ini merupakan masalah global yang perlu\u00a0dilawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kelaparan merupakan isu yang prevelan dalam kehidupan bermasyarakat. Tentunya bagi yang memiliki pemasukan yang stabil, kelaparan dapat dihindari. Akan tetapi, bagi warga Indonesia yang hidup dengan pemasukan per hari, mereka perlu\u00a0berusaha keras mencari nafkah untuk\u00a0mengisi perut keluarganya. Dengan ketidakstabilan pasar, mereka\u00a0bahkan terpaksa melakukan tindakan kriminal demi memenuhi keperluan makan keluarganya. Hal ini pastinya adalah sebuah tragedi. Seperti yang dikatakan oleh Pearl S. Buck, <em>\u201c<\/em><em>A hungry man can\u2019t see right or wrong. He just sees food.\u201d\u00a0<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Menurut <em>World Food Programme<\/em> (WFP), sekitar 19,4 juta warga Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan asupan gizi. Dampak dari kelaparan ini tentu dirasakan semua kalangan masyarakat tanpa memandang umur. Menurut WFP sebanyak 37,2 persen dari anak dibawah 5 mengalami keterlambatan dalam berkembang, atau <em>stunted.\u00a0<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Mengapa kita harus melawan kelaparan? Kelaparan bukan isu yang tersendiri, melainkan suatu permasalahan yang tumbuh dari akar kemiskinan. Di Indonesia, dan negara berkembang secara umumnya, kelaparan merupakan suatu tantangan yang besar dalam mencapai perkembangan yang optimal. Dengan berakhirnya kelaparan, upaya dalam perkembangan Indonesia dapat lebih cepat tercapai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Menurut data dari <em>World Bank<\/em>, persentase populasi yang mengalami kelaparan mengalami penurunan yang stabil. Hal ini merupakan hasil dari upaya pemerintah dalam menghentikan kelaparan. Meskipun demikian, ini bukan tujuan akhirnya. Semakin ke depan, kecepatan perkembangan negara harus seiring dengan menurunnya kelaparan dan kemiskinan. Dengan ini, kesejahteraan negara dapat tercapai dan tindak kriminalitas dan kematian dapat dilawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Seperti contoh kasus yang dikutip dari artikel BBC, di provinsi Maluku terjadi kasus kelaparan yang dialami oleh sekitar 170 warga di komunitas terpencil bernama Mause Ane, yang diakibatkan gagalnya panen. Kasus ini memaksa warga setempat untuk mengganjal perutnya dengan memakan dedaunan, rotan dan pohon nibong. Kasus ini pun mengakibatkan kematian pada tiga orang dan dua diantaranya bahkan masih berusia balita. Bantuan awal mengalami keterlambatan akibat kondisi dari tempat tinggal warga yang terpencar, sifat asli warga yang cenderung menutup diri dengan orang luar, dan iklim yang tidak kondusif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dua minggu setelahnya barulah bantuan dari luar dapat dijangkau oleh warga komunitas Mausu Ane, dan bantuan tersebut diberitakan mampu mengatasi kelaparan warga komunitas tersebut hingga musim panen mendatang.\u00a0 Dari contoh kasus ini, kelaparan dapat terjadi ke siapapun dan dimanapun. Kita sebagai kolektif harus lebih perhatian dan sadar kepentingan dalam melawan kelaparan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Berikut beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mencegah kenaikan angka kelaparan:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Mentargetkan tuntaskan kelaparan<br \/>\n<\/strong><span style=\"font-size: 14px;text-align: justify\">Negara harus memiliki target dalam upaya untuk menuntaskan masalah kelaparan yang terjadi dalam negaranya. Memilih target mana yang sekiranya tepat dan efektif dalam menekan tingkat kelaparan, sehingga masalah kelaparan dapat menurun.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<ol style=\"text-align: justify\" start=\"2\">\n<li><strong>Meningkatkan kesejahteraan sosial<br \/>\n<\/strong><span style=\"font-size: 14px\">Ketika kasus kelaparan menurun, negara akan menjadi lebih aman, sejahtera, makmur dan adil. Sehingga dengan meningkatkan kesejahteraan sosial, membuktikan bahwa suatu negara sudah berhasil dalam menekan tingkat kelaparan di negaranya\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<ol style=\"text-align: justify\" start=\"3\">\n<li><strong>Penggalakan pangan lokal<br \/>\n<\/strong><span style=\"font-size: 14px\">Menggalakan pangan lokal sebagai bahan konsumsi publik. Dengan harga yang relatif lebih murah sehingga bahan pangan ini dapat dijangkau oleh semua kalangan, khususnya kalangan menengah kebawah.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<ol style=\"text-align: justify\" start=\"4\">\n<li><strong>Pemberian nutrisi dan gizi yang tepat<br \/>\n<\/strong><span style=\"font-size: 14px\">Nutrisi dan gizi merupakan dua hal yang sangat dibutuhkan dalam proses kehidupan. Untuk mengatasi kelaparan yang terjadi, pemberian nutrisi dan gizi yang tepat juga turut andil di dalamnya.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<ol style=\"text-align: justify\" start=\"5\">\n<li><strong>Pemberian bantuan sosial (bansos)<br \/>\n<\/strong><span style=\"font-size: 14px\">Pemberian bansos kepada rakyat dengan tingkat ekonomi rendah, dapat membantu menekan tingkat kelaparan. Bansos dapat berupa, beras, minyak, telur, mie instant, dan beberapa macam kebutuhan lainnya yang dapat digunakan sebagai bahan pangan.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\">Setelah mengetahui betapa maraknya tingkat kelaparan yang terjadi di Indonesia, kami berharap isu ini menjadi hal yang tidak dianggap sepele. Karena masalah kelaparan pasti akan menjadi suatu topik yang akan terus dibahas oleh pemerintah. Oleh karena itu, baik negara maju maupun negara berkembang, tidak akan pernah lepas dari permasalahan ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kasus kelaparan harus segera dituntaskan. Jika\u00a0dibiarkan, akan menimbulkan dampak yang buruk, salah satunya ialah kematian. Untuk itu kita sebagai warga negara Indonesia dan pemerintah perlu menerapkan berbagai upaya guna mengatasi kelaparan, seperti, menargetkan tuntaskan kelaparan, meningkatkan kesejahteraan sosial, penggalakan pangan lokal, pemberian nutrisi dan gizi yang tepat,\u00a0dan pemberian bantuan sosial (BanSos) dengan harapan dapat mengurangi atau bahkan mengakhiri kasus-kasus kelaparan di Indonesia. Ketika kasus kelaparan berkurang, jalannya suatu negara akan semakin baik, dan tentunya dapat meningkatkan kesejahteraan sosial dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat.<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<p>Heyder Affan. (2018, Juli 25). \u201cMereka bertahan hidup makan daun: Kasus kelaparan di Maluku Tengah\u201d. Diakses pada tanggal 12 Desember 2021 melalui <a href=\"https:\/\/www.bbc.com\/indonesia\/indonesia-44939889\">https:\/\/www.bbc.com\/indonesia\/indonesia-44939889<\/a>.<\/p>\n<p>WFP. (2017, Desember 04). \u201cWhat the World Food Programme is doing in Indonesia\u201d. Diakses pada tanggal 12 Desember 2021 melalui <a href=\"https:\/\/www.wfp.org\/countries\/indonesia\">https:\/\/www.wfp.org\/countries\/indonesia<\/a><\/p>\n<p>JAWAPOSTV. (2017, Oktober 16). \u201c8 Upaya Dunia Tuntaskan Masalah Kelaparan dan Rawan Pangan\u201d. Diakses pada tanggal 12 Desember melalui <a href=\"https:\/\/www.jawapos.com\/internasional\/16\/10\/2017\/8-upaya-dunia-tuntaskan-masalah-kelaparan-dan-rawan-pangan\">https:\/\/www.jawapos.com\/internasional\/16\/10\/2017\/8-upaya-dunia-tuntaskan-masalah-kelaparan-dan-rawan-pangan<\/a><\/p>\n<p>\u201cThe World Counts\u201d. \u201cAround 9 million people die every year of hunger and hunger-related diseases. This is more than from AIDS, malaria and tuberculosis combined\u201d. Diakses pada tanggal 12 Desember 2021 melalui <a href=\"https:\/\/www.theworldcounts.com\/challenges\/people-and-poverty\/hunger-and-obesity\/how-many-people-die-from-hunger-each-year\/story\">https:\/\/www.theworldcounts.com\/challenges\/people-and-poverty\/hunger-and-obesity\/how-many-people-die-from-hunger-each-year\/story<\/a><\/p>\n<p>Macrotrends. \u201cIndonesia Hunger Statistics 2001 \u2013 2021\u201d. Diakses pada tanggal 12 Desember 2021 melalui <a href=\"https:\/\/www.macrotrends.net\/countries\/IDN\/indonesia\/hunger-statistics\">https:\/\/www.macrotrends.net\/countries\/IDN\/indonesia\/hunger-statistics<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sandang, sangan, dan papan. Tiga hal ini sangat krusial dalam\u00a0menjalani kehidupan. Sayangnya, banyak rakyat Indonesia yang masih tidur dengan perut yang kosong. Kondisi ini disebut dengan kelaparan. Kelaparan merupakan suatu kondisi ketika seseorang tidak dapat memenuhi asupan gizinya karena suatu alasan tertentu yang menghalanginya. Menurut The World Count, sekitar 9 juta orang mati akibat kelaparan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":2374,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-2341","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2341","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2341"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2341\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2343,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2341\/revisions\/2343"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2374"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2341"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2341"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himstat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2341"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}