    {"id":1373,"date":"2022-04-04T21:47:41","date_gmt":"2022-04-04T14:47:41","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himslaw\/?p=1373"},"modified":"2022-04-04T22:00:48","modified_gmt":"2022-04-04T15:00:48","slug":"invasi-rusia-ukraina-hukum-humaniter-perang-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himslaw\/2022\/04\/invasi-rusia-ukraina-hukum-humaniter-perang-2\/","title":{"rendered":"INVASI RUSIA-UKRAINA: HUKUM HUMANITER PERANG"},"content":{"rendered":"<p>Oleh <span style=\"font-weight: 400\">Amanda Yasmine Adzhani, <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Muhammad Alif Praditya, Shohibul Mi\u2019raj (4 April 2022).\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Banyak peristiwa besar yang telah terjadi pada tahun 2022, salah satunya peristiwa mengenai Rusia melancarkan invasi kepada Ukraina. Pada tanggal 24 Februari 2022 menjadi hari pertama Rusia dalam melakukan invasi, dimana dalam penyerangannya, wilayah Timur Ukraina sebagai jalur pertama yang dilalui oleh Rusia. Sampai dengan saat ini, konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina masih terjadi, sudah lebih satu bulan lamanya setelah Rusia melakukan invasi hukum yang mengatur tentang konflik bersenjata yang dialami oleh sebuah negara seperti hal yang sedang terjadi antara Rusia dan Ukraina.\u00a0 pertama kali. Namun, yang menjadi pokok pembahasan kali ini bukan berkaitan antara konflik ada bersenjata yang sedang dialami oleh kedua negara tersebut, tetapi lebih membahas mengenai konflik bersenjata secara umunya. Dengan adanya hukum internasional yang telah disepakati oleh tiap-tiap negara, apakah\u00a0<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify\"><b>Apa itu hukum humaniter\/hukum perang?<\/b><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Hukum humaniter merupakan hukum internasional yang membahas mengenai peraturan dalam terjadinya konflik bersenjata. Hukum tersebut menjadi salah satu cabang hukum internasional tertua karena peraturan ini mulai dibahas sejak berakhirnya perang dunia kedua pada abad ke-19. Dibentuknya hukum tersebut menjadi salah satu upaya yang dilakukan tiap negara dalam menjaga kestabilan dunia. Pada dasarnya, hukum humaniter bukan melarang adanya sebuah perang, melainkan hukum tersebut memiliki maksud membentuk batas-batas yang perlu ada apabila terjadinya sebuah perang, sehingga asas kemanusian menjadi dasar aturan yang terdapat di dalam hukum humaniter. Hal tersebut menjadikan isi dari hukum humaniter seputar perihal individu atau kelompok yang tidak terlibat di dalam konflik bersenjata untuk dilindungi dan pembatasan mengenai penggunaan metode-metode dalam perang.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify\"><b>Asas asas hukum humaniter<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Ada 3 asas hukum humaniter, yaitu :\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400\">Asas Kepentingan Militer <\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"padding-left: 40px\">Pihak-pihak yang bersengketa mempunyai hak untuk melakukan tindakan yang dapat menunjang keberhasilan operasi militer dengan syarat tidak adanya peraturan atau hukum perang. Contohnya adalah pihak-pihak yang berperang dilarang menggunakan dan meluncurkan senjata yang menyebabkan <i style=\"font-size: 14px\"><span style=\"font-weight: 400\">superfluous injury<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> or <\/span><i style=\"font-size: 14px\"><span style=\"font-weight: 400\">unnecessary suffering<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400\">Asas Perikemanusiaan<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;padding-left: 40px\"><span style=\"font-weight: 400\">Pasal 23(e) <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Hague Regulations <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">menyebutkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">\u201c<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400\">In addition to the prohibitions provided by special Conventions, it is especially forbidden; (e) To employ arms, projectiles, or material calculated to cause unnecessary suffering;&#8230;\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;padding-left: 40px\"><span style=\"font-weight: 400\">Pihak pihak yang terlibat dalam perang dilarang untuk menggunakan alat alat perang yang tidak manusiawi yang menyebabkan penderitaan yang tidak perlu, seperti peluru yang telah dikikir karena akan peluru tersebut akan mengakibatkan efek meluas atau melebar yang akan menyebabkan luka sobekan tidak beraturan dan hancurnya jaringan tubuh seorang manusia.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400\">Asas Kesatriaan<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;padding-left: 40px\"><span style=\"font-weight: 400\">Kejujuran meruakan suatu hal yang utama didalam peperangan. Penggunaan alat alat yang dilarang adalah alat alat yang sifatnya khianat, ilegal dan bertentangan dengan hukum. Contoh asas kesatriaan adalah seorang kombatan dari pihak-pihak bersengketa dilarang untuk melukai atau membunuh kombatan pihak lawan yang telah menyerah atau tidak mampu melakukan perlawanan lagi sesuai dengan Pasal 23(c) <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Hague Regulations.<\/span><\/i><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify\"><b>Asas asas hukum humaniter<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">\u201cTo put things as simply as possible, these rules can be summed up in four precepts: do not attack non-combatants, attack combatants only by legal means, treat persons in your power humanely, and protect the victims\u201d\u2014<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">David \u00c9ric<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Selain tiga asas yang telah disebutkan tadi, hukum humaniter juga memiliki <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">core<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">fundamental principles<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, sebagai berikut :<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Perbedaan antara warga sipil dan kombatan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Distinction Principle<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">).<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Larangan menyerang hors de combat (yaitu mereka yang tidak terlibat langsung dalam permusuhan).<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Larangan menimbulkan penderitaan yang tidak perlu.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Prinsip keharusan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Prinsip proporsionalitas.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<h4 style=\"text-align: justify\"><b>Dasar atau Sumber Hukum<\/b><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dasar atau Sumber hukum humaniter perang tercantum dalam :<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Deklarasi St. Petersburg 1868<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Peraturan Den Haag 1899 dan 1907<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Peraturan Den Haag 1899 dan 1907<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h4 style=\"text-align: justify\"><b>Dasar atau sumber hukum<\/b><\/h4>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Den Haag Convention 1907<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Geneva Convention<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> 1949<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Pasal 8 Statua Roma 1998<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<h4 style=\"text-align: justify\"><b>Negara yang Menandatangani<\/b><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Terdapat 196 negara yang menandatangani <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Geneva Convention<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> termasuk dengan semua negara anggota PBB, baik pengamat PBB Tahta Suci dan Negara Palestina, serta Kepulauan Cook. <\/span><span style=\"font-weight: 400\">123 negara yang menandatangani <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Rome Statute<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang dimana mereka adalah negara negara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Rome Statute International Criminal Court<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. 123 negara terdiri dari 33 negara Afrika, 19 negara Asia Pasifik, 18 negara di Eropa Timur, 28 negara Amerika Latin dan Karibia, dan 25 negara Eropa Barat dan sisanya adalah negara lain.<\/span><\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify\"><b>Apakah Indonesia ttd juga?<\/b><\/h4>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Indonesia juga menandatangani dan meratifikasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Geneva Convention<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> tentang perlindungan terhadap penduduk sipil pada masa perang dan mengkodifikasikan dalam Undang-Undang nomor 59 Tahun 1958 tentang Aksesi Negara Republik Indonesia terhadap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Geneva Convention<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Dalam Undang-undang tersebut, salah satu prinsip yang mendasar disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">distinction principle<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang mengatur pemisahan objek penduduk sipil dan militer.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><b>Referensi<\/b><span style=\"font-weight: 400\"> :<\/span><\/em><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/heylawedu.id\/blog\/mengenal-sejarah-hukum-humaniter\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/heylawedu.id\/blog\/mengenal-sejarah-hukum-humaniter<\/span><\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.bbc.com\/indonesia\/dunia-60732475\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.bbc.com\/indonesia\/dunia-60732475<\/span><\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.bbc.com\/indonesia\/dunia-60884884\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.bbc.com\/indonesia\/dunia-60884884<\/span><\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/arlina100.wordpress.com\/2008\/11\/15\/asas-asas-hukum-humaniter\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/arlina100.wordpress.com\/2008\/11\/15\/asas-asas-hukum-humaniter\/<\/span><\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.unodc.org\/e4j\/en\/terrorism\/module-6\/key-issues\/core-principles-of-ihl.html\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.unodc.org\/e4j\/en\/terrorism\/module-6\/key-issues\/core-principles-of-ihl.html<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/ihl-databases.icrc.org\/ihl\/WebART\/195-200033?OpenDocument\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/ihl-databases.icrc.org\/ihl\/WebART\/195-200033?OpenDocument<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/casebook.icrc.org\/law\/fundamentals-ihl\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/casebook.icrc.org\/law\/fundamentals-ihl<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">DAVID \u00c9ric, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Principes de droit des conflits arm\u00e9s<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, Brussels, Bruylant, 3rd ed., 2002, pp. 921-922; original in French, unofficial translation.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/asp.icc-cpi.int\/en_menus\/asp\/states%20parties\/pages\/the%20states%20parties%20to%20the%20rome%20statute.aspx\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/asp.icc-cpi.int\/en_menus\/asp\/states%20parties\/pages\/the%20states%20parties%20to%20the%20rome%20statute.aspx<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Eno Prasetiawan and Lina Hastuti, \u201cPenerapan Distinction Principle Dalam Perundang-Undangan Di Indonesia,\u201d <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Jurnal Magister Hukum Udayana (Udayana Master Law Journal)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> 9, no. 2 (2020): 448, <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.24843\/jmhu.2020.v09.i02.p16\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.24843\/jmhu.2020.v09.i02.p16<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Indah Sari, \u201cTinjauan Yuridis Hubungan Kejahatan Perang,\u201d <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Jurnal Ilmiah Hukum Dirgantara\u2013Fakultas Hukum Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> 11, no. 2 (2021): 23\u201343.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Amanda Yasmine Adzhani, Muhammad Alif Praditya, Shohibul Mi\u2019raj (4 April 2022).\u00a0 Banyak peristiwa besar yang telah terjadi pada tahun 2022, salah satunya peristiwa mengenai Rusia melancarkan invasi kepada Ukraina. Pada tanggal 24 Februari 2022 menjadi hari pertama Rusia dalam melakukan invasi, dimana dalam penyerangannya, wilayah Timur Ukraina sebagai jalur pertama yang dilalui oleh Rusia. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":23,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-1373","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-himslaw-kajipost"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himslaw\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1373","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himslaw\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himslaw\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himslaw\/wp-json\/wp\/v2\/users\/23"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himslaw\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1373"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himslaw\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1373\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1379,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himslaw\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1373\/revisions\/1379"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himslaw\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1373"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himslaw\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1373"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himslaw\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1373"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}