{"id":4924,"date":"2026-07-26T20:24:00","date_gmt":"2026-07-26T13:24:00","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/?p=4924"},"modified":"2026-07-26T20:24:57","modified_gmt":"2026-07-26T13:24:57","slug":"the-death-of-boredom-apa-yang-terjadi-ketika-setiap-waktu-kosong-kita-isi-dengan-layar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/2026\/07\/the-death-of-boredom-apa-yang-terjadi-ketika-setiap-waktu-kosong-kita-isi-dengan-layar\/","title":{"rendered":"The Death of Boredom: Apa yang Terjadi Ketika Setiap Waktu Kosong Kita Isi dengan Layar?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400\">Halo, Psytroopers! Pernahkah kalian menyadari bahwa hampir setiap waktu kosong kini selalu ditemani oleh layar? Saat menunggu antrean, berada di transportasi umum, maupun beberapa menit sebelum tidur, tangan kita sering kali refleks mengambil <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">smartphone<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Aktivitas yang dahulu diisi dengan melamun atau sekadar mengamati lingkungan sekitar, kini berganti menjadi menggulir media sosial, menonton video singkat, atau mengecek notifikasi. Kebiasaan ini terasa begitu wajar sehingga kita jarang mempertanyakan mengapa rasa bosan seolah harus segera diatasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di balik kebiasaan tersebut muncul, pertanyaan yang menarik: <\/span><b>apakah rasa bosan memang selalu sesuatu yang harus dihindari?<\/b><span style=\"font-weight: 400\"> Dalam psikologi, kebosanan tidak hanya dipandang sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan. Eastwood et al. (2012) menjelaskan bahwa kebosanan muncul ketika seseorang ingin terlibat dalam suatu aktivitas, tetapi kesulitan menemukan aktivitas yang mampu mempertahankan perhatian atau memberikan makna. Sementara itu, Elpidorou (2018) menyatakan bahwa kebosanan juga memiliki fungsi adaptif karena dapat mendorong seseorang mengevaluasi aktivitas yang sedang dilakukan dan mencari pengalaman yang lebih bermakna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di era digital, cara kita merespons kebosanan tampaknya mulai berubah. Kemudahan mengakses hiburan, informasi, dan interaksi sosial melalui <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">smartphone<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> membuat perangkat tersebut sering menjadi pilihan pertama ketika rasa bosan muncul. Akibatnya, kita semakin terbiasa mengalihkan perhatian sebelum benar-benar memahami mengapa rasa bosan itu hadir (Elpidorou, 2018). Oleh karena itu, pembahasan mengenai penggunaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">smartphone<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> tidak hanya berkaitan dengan lamanya waktu menatap layar, tetapi juga tentang bagaimana teknologi membentuk cara kita merespons waktu kosong dalam kehidupan sehari-hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<h1><b>Mengapa Smartphone Menjadi Respons Pertama Saat Bosan?<\/b><\/h1>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada dasarnya, kebosanan mendorong seseorang untuk mencari aktivitas yang lebih menarik atau bermakna (Eastwood et al., 2012). Di era digital, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan sangat mudah melalui <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">smartphone<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Dalam hitungan detik, kita dapat mengakses media sosial, menonton video singkat, membaca berita, atau menikmati berbagai bentuk hiburan lainnya. Kemudahan ini membuat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">smartphone<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sering menjadi respons pertama ketika rasa bosan muncul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Temuan berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebosanan memang berkaitan dengan cara seseorang menggunakan teknologi digital. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Systematic review<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> oleh Tagliaferri et al. (2025) menunjukkan bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">trait boredom<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> merupakan salah satu faktor psikologis yang berkaitan dengan penggunaan teknologi digital yang bermasalah. Temuan tersebut diperkuat oleh meta-analisis Hu et al. (2025), yang menemukan hubungan positif antara kebosanan dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">problematic smartphone use<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Namun, temuan tersebut tidak menunjukkan bahwa penggunaan smartphone menjadi penyebab langsung munculnya masalah psikologis. Sebaliknya, smartphone lebih sering digunakan sebagai cara untuk meredakan rasa bosan. Dengan kata lain, hubungan yang ditemukan menunjukkan bahwa individu cenderung menggunakan smartphone sebagai respons terhadap rasa bosan, bukan bahwa penggunaan smartphone menjadi penyebab utama munculnya masalah psikologis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dengan demikian, persoalannya bukan terletak pada penggunaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">smartphone<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> itu sendiri, melainkan pada kebiasaan menjadikannya sebagai respons otomatis setiap kali rasa bosan muncul. Ketika kebiasaan tersebut terus berulang, kita mungkin perlahan kehilangan ruang untuk benar-benar mengalami kebosanan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Ketika Kebosanan Tidak Lagi Memiliki Ruang\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Persoalan utama bukan terletak pada penggunaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">smartphone<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, melainkan ketika layar menjadi respons otomatis setiap kali rasa bosan muncul. Namun, ketika kebiasaan tersebut terjadi hampir setiap kali rasa bosan muncul, kita mungkin semakin jarang memberi kesempatan pada kebosanan untuk menjalankan fungsinya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Menurut Elpidorou (2018), kebosanan bukan hanya pengalaman yang tidak menyenangkan, tetapi juga\u00a0 sinyal yang mendorong seseorang mengevaluasi apakah aktivitas yang sedang dilakukan masih memberikan makna atau keterlibatan. Rasa bosan dapat menjadi dorongan untuk mencoba aktivitas baru, menyusun prioritas, atau berhenti sejenak untuk merefleksikan apa yang sebenarnya dibutuhkan. Ketika setiap rasa bosan langsung dialihkan melalui layar, proses tersebut dapat terlewati begitu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Karena itu, persoalannya bukanlah apakah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">smartphone<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> harus dihindari, melainkan apakah kita masih mampu memberi ruang bagi diri sendiri untuk sesekali mengalami kebosanan. Di tengah arus informasi dan hiburan yang tidak pernah berhenti, jeda sederhana tersebut justru dapat menjadi kesempatan untuk lebih mengenali diri sendiri dan membuat pilihan yang lebih sadar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di era digital, tantangannya bukan lagi sekadar membatasi penggunaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">smartphone<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, tetapi belajar menggunakannya secara lebih sadar. Memberi ruang bagi diri sendiri untuk sesekali mengalami kebosanan bukan berarti menolak teknologi, melainkan memberi kesempatan untuk berhenti sejenak, mengenali apa yang benar-benar kita butuhkan, dan membuat pilihan yang lebih bijak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Jadi, Psytroopers, ketika rasa bosan mulai datang, mungkin kita tidak perlu selalu terburu-buru mencari distraksi melalui layar. Sesekali, biarkan diri menikmati jeda tersebut. Siapa tahu, justru dari kebosanan itulah muncul ide baru, refleksi, atau pemahaman yang selama ini tidak sempat kita sadari.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Daftar Pustaka<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Eastwood, J. D., Frischen, A., Fenske, M. J., &amp; Smilek, D. (2012). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">The unengaged mind: Defining boredom in terms of attention<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Perspectives on Psychological Science, 7<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(5), 482\u2013495.<\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1177\/1745691612456044\"> <span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.1177\/1745691612456044<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Elpidorou, A. (2018). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">The bored mind is a guiding mind: Toward a regulatory theory of boredom<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Phenomenology and the Cognitive Sciences, 17<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(3), 455\u2013484. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1007\/s11097-017-9515-1\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.1007\/s11097-017-9515-1<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Hu, X., Zhao, Y., &amp; Yu, C. (2025). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">The relationship between boredom and smartphone addiction before and after the outbreak of the COVID-19 pandemic: A systematic review and meta-analysis<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Psychological Reports<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Advance online publication. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1177\/00332941251314713\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.1177\/00332941251314713<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Tagliaferri, G., Mart\u00ed-Vilar, M., Frisari, F. V., Quaglieri, A., Mari, E., Burrai, J., Giannini, A. M., &amp; Cricenti, C. (2025). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Connected by boredom: A systematic review of the role of trait boredom in problematic technology use<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Brain Sciences, 15<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(8), Article 794. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.3390\/brainsci15080794\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.3390\/brainsci15080794<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Halo, Psytroopers! Pernahkah kalian menyadari bahwa hampir setiap waktu kosong kini selalu ditemani oleh layar? Saat menunggu antrean, berada di transportasi umum, maupun beberapa menit sebelum tidur, tangan kita sering kali refleks mengambil smartphone. Aktivitas yang dahulu diisi dengan melamun atau sekadar mengamati lingkungan sekitar, kini berganti menjadi menggulir media sosial, menonton video singkat, atau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":4927,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-4924","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-psikopedia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4924","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4924"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4924\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4929,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4924\/revisions\/4929"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4927"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4924"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4924"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4924"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}