    {"id":4365,"date":"2024-11-02T18:23:54","date_gmt":"2024-11-02T11:23:54","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/?p=4365"},"modified":"2025-02-09T11:14:58","modified_gmt":"2025-02-09T04:14:58","slug":"udah-jelas-tapi-masih-ngeyel-fenomena-denial-dalam-kehidupan-sehari-hari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/2024\/11\/udah-jelas-tapi-masih-ngeyel-fenomena-denial-dalam-kehidupan-sehari-hari\/","title":{"rendered":"Udah Jelas Tapi Masih Ngeyel: Fenomena Denial dalam Kehidupan Sehari-hari"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400\">Pernah nggak sih, kita ketemu sama situasi yang udah jelas-jelas di depan mata, tapi kok rasanya susah banget buat diterima? Misalnya dalam konteks percintaan, si doi udah sering <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">ghosting<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> dan bawaannya udah cuek banget, tapi kita masih aja bilang \u201cDia cuma lagi sibuk kok.\u201d terus pas ada temen yang bilang, \u201cKayaknya dia udah nggak serius deh,\u201d kita malah ngeyel balik, \u201cNggak kok, dia sayang aku, cuma lagi butuh waktu aja.\u201d atau mungkin dalam konteks kesehatan, udah sering batuk-batuk parah dan ngerasa lemas, tapi kita masih aja bilang \u201cAh, ini cuma masuk angin, nanti juga sembuh sendiri.\u201d Padahal, orang-orang terdekat udah nyaranin buat periksa ke dokter, tapi kita malah ngeyel, \u201cNggak perlu, ini mah cuma kecapekan aja.\u201d Aduh.. teman-teman tau gak sih kalau itu namanya fenomena <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">denial<\/span><span style=\"font-weight: 400\">?<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kita sering kali mengalami ketidaksesuaian antara pengalaman nyata kita dan bagaimana kita melihat diri sendiri. Untuk mengatasi hal ini, kita biasanya bereaksi dengan cara defensif. Mekanisme defensif ini berfungsi sebagai perlindungan untuk menjaga konsep diri kita dari kecemasan dan ancaman dengan cara menolak atau mengubah pengalaman yang tidak sesuai (Rogers, 1959). Ada dua mekanisme pertahanan utama yang kita gunakan, yaitu: <\/span><b><em>distortion<\/em> <\/b><span style=\"font-weight: 400\">(distorsi) dan <\/span><em><b>denial<\/b><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (penolakan).\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Apa itu <\/b><em><b>Denial<\/b><b>?<\/b><\/em><\/p>\n<p><em><b>Denial<\/b><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> atau penolakan adalah salah satu mekanisme pertahanan psikologis yang berfungsi untuk menghindari pengalaman yang tidak menyenangkan atau melindungi diri dari kenyataan yang sulit diterima.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Proses <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">denial<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> ini terjadi tanpa kita sadari dan bisa berfungsi sebagai pelindung untuk mengurangi kecemasan atau mengatasi konflik emosional yang menyakitkan. Meskipun penolakan dapat memberikan rasa aman dalam jangka pendek, ini bukanlah solusi permanen. Mengabaikan kenyataan hanya akan membuat masalah semakin memburuk seiring waktu.\u00a0 Dengan memahami mekanisme <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">denial<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">, kita bisa lebih baik dalam mengenali dan mengatasi masalah yang ada, bukan hanya mengabaikannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Nah, untuk temen-temen yang masih sering <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">denial<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"><em>,<\/em> coba ikuti beberapa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">tips<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> berikut ini:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400\"><b>Sadari Perasaanmu: <\/b><span style=\"font-weight: 400\">Penting untuk jujur dengan apa yang kamu rasakan, meski kadang terasa nggak nyaman. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Denial<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sering muncul karena kita cenderung menghindari emosi yang tidak enak. Dengan menyadari perasaan ini, kamu bisa mulai terbuka untuk menerima kenyataan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><b>Menghadapi Kenyataan: <\/b><span style=\"font-weight: 400\">Nggak perlu buru-buru mengubah semuanya sekaligus. Mulailah dengan tindakan kecil. Misalnya, masih dalam konteks percintaan, daripada terus berkata &#8220;dia cuma lagi sibuk,&#8221; cobalah ajak bicara secara jujur untuk menanyakan bagaimana perasaannya. Ini bisa membantumu lebih memahami situasi daripada terus menutup mata pada tanda-tanda masalah.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><b>Dengarkan Perspektif Orang Lain: <\/b><span style=\"font-weight: 400\">Buka diri untuk mendengar pendapat teman atau keluarga yang lebih objektif. Kadang, mereka bisa melihat hal-hal yang kita nggak sadar.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><b>Refleksi Diri: <\/b><span style=\"font-weight: 400\">Tanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya kamu hindari, dan kenapa. Refleksi diri bisa membantu lebih memahami alasan di balik <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">denial<\/span><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/em><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><b>Cari Bantuan Profesional: <\/b><span style=\"font-weight: 400\">Jika kamu merasa <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">stuck<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau terapis. Mereka bisa membantu menemukan cara yang lebih sehat untuk menerima dan menghadapi realita yang sulit.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Fenomena <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">denial<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> memang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Namun, menerima kenyataan bukan berarti menyerah, justru membuka pintu untuk pertumbuhan dan perubahan positif dalam hidup kita. Nah, dengan mengikuti beberapa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">tips<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> di atas, harapannya kamu bisa lebih siap menghadapi apa pun yang ada di depan mata dan menjalani hidup dengan lebih sehat dan positif. Mari kita mulai dengan langkah kecil untuk lebih jujur pada diri sendiri dan berani menghadapi apa pun yang ada di depan mata ya, teman-teman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">&#8212;<\/span><\/p>\n<p><b>Referensi<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Feist, J. F., &amp; Feist, G. (2020). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Theories of personality<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. McGraw-Hill Education.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Psychology BINUS. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">denial \u2013 Psychology<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. (n.d.). <\/span><a href=\"https:\/\/psychology.binus.ac.id\/kamus-psikologi\/kamus-psikologi-d\/denial\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/psychology.binus.ac.id\/kamus-psikologi\/kamus-psikologi-d\/denial\/<\/span><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pyfahealth Editorial Team. (2024, October 13). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Denial: Pengertian, Jenis, Dampak, dan Cara Mengatasinya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Pyfa Health. <\/span><a href=\"https:\/\/pyfahealth.com\/blog\/denial-pengertian-jenis-dampak-dan-cara-mengatasinya\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/pyfahealth.com\/blog\/denial-pengertian-jenis-dampak-dan-cara-mengatasinya\/<\/span><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">(Mirna Azizah Ramadhani)<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernah nggak sih, kita ketemu sama situasi yang udah jelas-jelas di depan mata, tapi kok rasanya susah banget buat diterima? Misalnya dalam konteks percintaan, si doi udah sering ghosting dan bawaannya udah cuek banget, tapi kita masih aja bilang \u201cDia cuma lagi sibuk kok.\u201d terus pas ada temen yang bilang, \u201cKayaknya dia udah nggak serius [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-4365","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-psikopedia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4365","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4365"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4365\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4367,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4365\/revisions\/4367"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4365"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4365"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4365"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}