    {"id":4200,"date":"2024-05-04T10:00:32","date_gmt":"2024-05-04T03:00:32","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/?p=4200"},"modified":"2024-05-04T10:00:32","modified_gmt":"2024-05-04T03:00:32","slug":"kerentanan-yang-membangkitkan-kekuatan-tersembunyi-dalam-teori-inferioritas-adler","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/2024\/05\/kerentanan-yang-membangkitkan-kekuatan-tersembunyi-dalam-teori-inferioritas-adler\/","title":{"rendered":"&#8220;Kerentanan yang Membangkitkan: Kekuatan Tersembunyi  dalam Teori Inferioritas Adler&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><b>Halo Sobat Psikopedia!<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pernahkah kalian merasa terisolasi oleh tekanan untuk menjadi sempurna? Ketika kita berusaha mencapai standar yang tidak realistis, seringkali kita merasa terjebak dalam perasaan ketidaksempurnaan dan sulit untuk terhubung dengan orang lain. Oleh karena itu, mari kita menjelajahi konsep kerentanan dan kekuatan yang terkandung dalam teori Alfred Adler.<\/span><\/p>\n<p><b>Siapakah Alfred Adler?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Alfred Adler merupakan seorang psikolog neo-Freudian, terkenal dengan gagasan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Individual Psychology<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang dikembangkannya. Ia lahir pada 7 Februari 1870 di Rudolfsheim, Austria. Adler mengalami masa kecil yang penuh tantangan. Sebagai seorang anak yang lemah dan hampir meninggal karena pneumonia pada usia 5 tahun, Adler tumbuh dengan perasaan rendah diri (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">inferior<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) yang mengiringinya sepanjang masa kecil. Namun, dari perasaan inferioritas itulah Adler membangun sikap optimis dan motivasi yang kuat. Baginya, meskipun manusia menghadapi masa lalu yang sulit, mereka memiliki kekuatan untuk mengubah hidup dan kesejahteraan mereka, karena kepribadian manusia ditentukan oleh kesadaran diri dan faktor sosial.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Lantas, apa itu perasaan inferioritas?<\/b><\/p>\n<p><b>Inferioritas dalam Perspektif Adler<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Menurut Adler, Inferioritas adalah perasaan rendah diri yang mencakup ketidaklengkapan, kelemahan, ketidaktahuan, dan ketergantungan yang dipelajari sejak masa bayi dan usia dini. Pandangan inferioritas ini bersifat subjektif dan permanen. sehingga mendorong manusia untuk berjuang demi kesuksesan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">striving for success<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) atau superioritas (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">striving for superiority<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">). Kedua dorongan tersebut dibedakan dengan adanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">social interest<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> atau perasaan menyatu dengan manusia lain untuk mencapai kesejahteraan bersama.<\/span><\/p>\n<p><b>Esensi Superioritas dan Inferioritas<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/span> <span style=\"font-weight: 400\">Dengan adanya<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\"> creative power, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">setiap individu memiliki tanggung jawab atas motif perilaku dan tujuan akhir mereka. inferioritas dapat memotivasi perkembangan individu jika dihadapi dengan benar dan seimbang. Namun, jika tidak, individu akan mengompensasi secara berlebihan dan mengembangkan rasa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">inferiority complex<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang merugikan harga dirinya. Gagasan penting yang berkaitan dengan solusi Adler adalah \u201cdapatkan harga diri dengan memperbaiki diri dan berkontribusi pada masyarakat\u201d. Adler percaya bahwa mengembangkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">social interest<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dapat mengurangi inferioritas dan menumbuhkan keyakinan diri karena kita memberikan makna yang bermanfaat bagi ikatan antar manusia.<\/span><\/p>\n<p><b>Menemukan Kekuatan Melalui Kerentanan<\/b><\/p>\n<p><b>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/b> <span style=\"font-weight: 400\">Tentu, kita harus menafsirkan konsep inferioritas sekaligus mendefinisikan ulang kata \u201ckerentanan\u201d sebagai cara untuk mengartikan kekuatan di balik ketidaksempurnaan, salah satunya ialah dengan kesadaran diri dan kepedulian sosial. Dalam realita, orang cenderung mengenakan topeng harian atau yang dikenal sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">persona<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dengan tujuan menyembunyikan keaslian diri mereka. Setiap individu memiliki alasan tersendiri untuk melakukannya, baik karena dorongan dari masyarakat maupun diri mereka sendiri, contohnya adalah takut untuk diterima, malu dengan perasaan mereka, atau selalu merasa tidak valid. Inilah sebabnya sulit untuk menyalahkan apapun, karena kita tidak dapat melihat segala sesuatunya dari sudut pandang mereka.<\/span><\/p>\n<p><b>\u00a0<\/b><\/p>\n<p><b>\u00a0Menghargai Diri Sendiri dan Orang Lain<\/b><\/p>\n<p><b>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/b> <span style=\"font-weight: 400\">Oleh karena itu, adanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">social interest<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> mengembangkan jiwa empati dalam diri kita. Membuka hati, menerima ketidaksempurnaan, menjadi rentan, dan berbagi pikiran dengan orang lain bukanlah hal mudah untuk dilakukan, dibutuhkan jiwa keberanian seseorang. Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial, sehingga kita memerlukan penerimaan dari orang lain. Oleh karena itu, kita berhak merasakan kerentanan. Kita perlu mengakui emosi kita secara terbuka kepada orang-orang yang dipercaya,\u00a0 karena pada titik itu, kita selangkah lebih dekat untuk mengenali diri kita sendiri sebagai manusia yang tidak bisa hidup sendiri di dunia ini. Dengan mengidentifikasi karakteristik tersebut, kita dapat memahami diri kita dengan lebih baik yang mengarah pada harga diri yang positif.<\/span><\/p>\n<p><b>Harga Diri dan Persepsi Diri<\/b><\/p>\n<p><b>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/b> <span style=\"font-weight: 400\">Harga diri adalah kunci arah hidup mana yang ingin kita ambil, inti dari persepsi seseorang tentang nilai pribadi dan sosial yang dapat memengaruhi pandangan subjektif kita. Oleh karena itu, sangat penting untuk memiliki harga diri yang baik dan menemukan keseimbangan antara kerendahan hati dan kepercayaan diri. Sayangnya, kedua elemen tersebut jarang dimiliki oleh semua orang karena seringkali orang cenderung berfokus secara eksklusif pada elemen pertama atau kedua. Akibatnya, orang-orang menjadi sombong atau merasa tidak aman, yang tidak akan membawa manfaat apa pun bagi diri mereka sendiri dan orang lain atau yang disebut sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Inferiority complex<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>Menemukan Keseimbangan<\/b><\/p>\n<p><b>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/b> <span style=\"font-weight: 400\">Menurut Adler, barometer kebermanfaatan seseorang dapat dinilai melalui <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">social interest<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> mereka dan dorongan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">striving for success<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang mempertahankan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">sense of self <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">sekaligus memberikan kontribusi positif untuk kesejahteraan umat manusia. Individu dengan kemampuan tersebut akan memiliki gaya hidup yang lebih fleksibel, adaptif, dan tenang, karena mereka sadar secara emosional. Proses perwujudan tujuan tersebut dimulai dengan menerima ketidaksempurnaan, kerentanan, dan menyederhanakan eksistensi kita sebagai manusia. Maka dari itu, menemukan seseorang yang selalu ada untuk kita dan mendukung kita keluar dari kegelapan merupakan sebuah anugerah, sehingga kita semua harus bersyukur untuk itu karena tidak semua orang seberuntung itu.<\/span><\/p>\n<p><b>Kekuatan dalam Kerentanan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Inilah mengapa kerentanan adalah kekuatan. Tidak semua orang dapat mengakui dan berbagi perasaan ketidaksempurnaan mereka. Dengan memahami bahwa kondisi pikiran kita normal dalam dinamika kehidupan, sejalan dengan analogi \u201chidup itu seperti mendaki gunung; kita mungkin memiliki peta dan diberitahu bagaimana cara mencapai puncaknya, tetapi\u00a0 petualangan setiap orang berbeda. Adler pun berpandangan bahwa manusia memiliki <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">creative power<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> untuk bertanggung jawab menentukan tujuan hidupnya sendiri. Maka dari itu, rancang perjalanan anda dan nikmati setiap langkahnya, serta teruslah berkembang. Mari hargai keunikan dan terima ketidaksempurnaan kita sebagai bagian dari pertumbuhan kita. Semoga kita menemukan kekuatan dalam kerentanan!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Terima kasih telah membaca, Sobat Psikopedia!<\/b><\/p>\n<p><b>Sampai jumpa kembali pada artikel berikutnya.<\/b><\/p>\n<p><b>\u00a0\u00a0<\/b><\/p>\n<p><b>\u00a0<\/b><\/p>\n<p><b>Referensi<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Feist, J. Gregory. J. F., &amp; Roberts, T. (2017). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Theories of Personality<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. McGraw-Hill Education 10th Edition.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Fritscher, L. (2023, November 20). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">How to be vulnerable<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Verywell Mind. https:\/\/www.verywellmind.com\/fear-of-vulnerability-2671820#:~:text=Vulnerability%20is%20a%20state%20of,is%20a%20very%20common%20fear.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">GoodTherapy. (2018,Februari 3). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Alfred Adler Biography<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><a href=\"https:\/\/www.goodtherapy.org\/famous-psychologists\/alfred-adler.html\"> <span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.goodtherapy.org\/famous-psychologists\/alfred-adler.html<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Perry, E. (2024, Maret 11)<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\"> Build Your Self-Worth: Ways to Overcome Inferiority Complex<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><a href=\"https:\/\/www.betterup.com\/blog\/inferiority-complex\"><span style=\"font-weight: 400\"> BetterUp. <\/span><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.betterup.com\/blog\/inferiority-complex<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0(Maritza Calysta Arief)<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Halo Sobat Psikopedia! Pernahkah kalian merasa terisolasi oleh tekanan untuk menjadi sempurna? Ketika kita berusaha mencapai standar yang tidak realistis, seringkali kita merasa terjebak dalam perasaan ketidaksempurnaan dan sulit untuk terhubung dengan orang lain. Oleh karena itu, mari kita menjelajahi konsep kerentanan dan kekuatan yang terkandung dalam teori Alfred Adler. Siapakah Alfred Adler? Alfred Adler [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-4200","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-psikopedia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4200","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4200"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4200\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4201,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4200\/revisions\/4201"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4200"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4200"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4200"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}