    {"id":3669,"date":"2023-02-20T08:43:48","date_gmt":"2023-02-20T01:43:48","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/?p=3669"},"modified":"2023-02-20T08:43:48","modified_gmt":"2023-02-20T01:43:48","slug":"bagaimana-emotion-validation-pada-remaja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/2023\/02\/bagaimana-emotion-validation-pada-remaja\/","title":{"rendered":"Bagaimana Emotion Validation Pada Remaja?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Halo, teman-teman Psikopedia!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Merasakan lingkungan yang tidak dapat menerima kenyataan kalau kita merasa tidak mampu dan terus terlihat kuat. Tanggapan-tanggapan yang seharusnya mereka dapat menerima semua perasaan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">emotional <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">kita rasakan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">Sedangkan kita juga memiliki emosi negatif dan positif untuk ditampilkan, tidak hanya emosi positif saja yang harus ditunjukkan ke semua orang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span> <span style=\"font-weight: 400\">Menurut Galen (2016), <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Emotional Validation<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> adalah tindakan yang mengakui dan menerima semua pengalaman secara batin, pikiran, dan perasaan seseorang termasuk emosi negatif. Memvalidasi emosi bukan berarti semua yang dialami itu benar, tetapi bagaimana kita memahami emosi tanpa menghakimi orang lain. Selain itu, dengan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">emotional validation<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> membantu kita dalam membuka <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">self-compassion<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> dimana kita merasa emosi kita valid membantu kita menghindari perasaan malu, menyalahkan diri sendiri sehingga membantu dalam menanggapi percaya diri<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Seperti yang diketahui anak yang sudah memasuki masa remaja, pengelolaan emosi sangat signifikan mempengaruhi kehidupannya, bahkan hubungan relasi dengan orang lain maupun orang tua. Dengan ini orang tua juga harus memahami metode-metode <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">emotional validation<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> yang dapat mengontrol dan memahami apa yang dirasakan anak, seperti berikut ini:<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Mengidentifikasi dan mengakui emosi<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dengan mengakui emosi yang dialami oleh anak. Hal ini bisa saja sulit untuk dilakukan jika kita tidak dapat mengkomunikasikan perasaan anak dengan jelas. Jadi, orang tua dapat bertanya dan menebak perasaan anak saat itu. Contohnya, ketika anak marah kepada orang lain kita sebagai orang tua dapat mendengarkan anak menyampaikan apa yang dirasakan saat itu dengan menjawab \u201cKamu terlihat sedang marah. Apakah ada yang mengganjal sehingga ada yang membuatmu marah?\u201d.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Mengakui sumber emosi itu datang<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Langkah ini orang tua dapat mengidentifikasi situasi yang membuat anak merasakan emosi tersebut. Kita bisa tanyakan apa apa yang terjadi. Contohnya, ketika anak sedang marah bisa bertanya seperti \u201cApa yang membuat kamu kesal?\u201d<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Memvalidasi emosi anak<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Orang tua dapat memvalidasi perasaan pada anak dengan mengomunikasikan bahwa Anda bisa merasakan perasaan yang dialami anak, meskipun kita tidak mengikuti alasan mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Terkadang emosi negatif atau positif yang timbul pada anak sulit diperkirakan oleh \u00a0 orang tua. Oleh sebab itu, orang tua harus terampil dalam menanggapi pengalaman yang didapatkan pada anak. Sebab, respon dari orang tua dapat membantu mereka untuk meregulasi dirinya agar dapat mengontrol emosi yang dirasakan. Setelah orang tua sudah memvalidasi perasaan anak, orang tua bisa membantu memberikan solusi yang sesuai dengan masalah yang dialami anak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dengan demikian, peran orang tua dalam mendampingi anak yang sudah memasuki masa remaja dapat membantu membentuk karakter dan kepribadian anak untuk kedepannya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Referensi:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Tiyas, T. W. (2022, December 1). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Emotional Validation: Belajar Menerima Bukan Berarti Membenarkan Segala Hal<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Kumparan. <\/span><a href=\"https:\/\/kumparan.com\/tresna-wening-tiyas\/emotional-validation-belajar-menerima-bukan-berarti-membenarkan-segala-hal-1zLlrEpmFQ0\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/kumparan.com\/tresna-wening-tiyas\/emotional-validation-belajar-menerima-bukan-berarti-membenarkan-segala-hal-1zLlrEpmFQ0<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Ramadhan, Z. F. (2022, December 9). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Mengenal Emotional Validation, Hal yang Mempengaruhi Mental Anak Remaja dari Sikap Orangtua Halaman all &#8211; Kompasiana.com<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. KOMPASIANA. <\/span><a href=\"https:\/\/www.kompasiana.com\/zianfauzan281\/6392a5844addee5c9a5a10a2\/mengenal-emotional-validation-hal-yang-mempengaruhi-mental-anak-remaja-dari-sikap-orang-tua?page=all\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.kompasiana.com\/zianfauzan281\/6392a5844addee5c9a5a10a2\/mengenal-emotional-validation-hal-yang-mempengaruhi-mental-anak-remaja-dari-sikap-orang-tua?page=all<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">What You Can Do to Help Others Feel Validated<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. (2022, November 14). Verywell Mind. <\/span><a href=\"https:\/\/www.verywellmind.com\/what-is-emotional-validation-425336\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.verywellmind.com\/what-is-emotional-validation-425336<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Penulis: Fasya Wahyunigtyas<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Halo, teman-teman Psikopedia! Merasakan lingkungan yang tidak dapat menerima kenyataan kalau kita merasa tidak mampu dan terus terlihat kuat. Tanggapan-tanggapan yang seharusnya mereka dapat menerima semua perasaan emotional kita rasakan. Sedangkan kita juga memiliki emosi negatif dan positif untuk ditampilkan, tidak hanya emosi positif saja yang harus ditunjukkan ke semua orang.\u00a0 \u00a0 Menurut Galen (2016), [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":3670,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-3669","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-psikopedia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3669","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3669"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3669\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3671,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3669\/revisions\/3671"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3670"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3669"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3669"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3669"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}