    {"id":3666,"date":"2023-02-17T15:09:47","date_gmt":"2023-02-17T08:09:47","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/?p=3666"},"modified":"2023-02-17T15:09:47","modified_gmt":"2023-02-17T08:09:47","slug":"toxic-masculinity-ada-apa-sih-dengan-maskulinitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/2023\/02\/toxic-masculinity-ada-apa-sih-dengan-maskulinitas\/","title":{"rendered":"Toxic Masculinity: Ada apa sih dengan maskulinitas?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">\u201cLaki-laki ga boleh menangis\u201d<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">\u201cLaki-laki itu suaranya lantang dan harus kuat\u201d<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">\u201cLaki-laki itu harus tahan banting\u201d\u00a0<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Hai teman-teman Psikopedia, sering kali ya kita mendengar\u00a0 kata-kata yang dilontarkan oleh sebagian orang-orang tentang norma gender laki-laki, ya seperti yang diatas tuh!!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Apakah kalian pernah merasakan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">toxic masculinity<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"><em>?<\/em> Atau kalian malah gak tau apa itu <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">toxic masculinity<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"><em>?<\/em> Yuk, mari kita bahas bersama!\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sudah tidak asing lagi bukan, maskulinitas sering terjadi di kalangan masyarakat di belahan dunia manapun yang masih menganggap bahwa laki-laki harus memiliki suara yang lantang, harus kerja di bidang-bidang yang macho, bisa jago berantem, nggak boleh nangis dan bahkan nggak boleh suka kpop! Hal ini sudah termasuk <em>Toxic Masculinity <\/em>loh!\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pusing dan lelah gak sih? Maskulinitas ini buat para laki-laki nggak nyaman kan, ya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Jika laki-laki menangis atau curhat, pasti deh maskulinitasnya bakal di ragukan. Dianggap tidak macho lah. Hmm, ternyata banyak loh gais yang merasa terbebani karena norma gender laki-laki ini. Nah, menurut kalian perlu gak sih kita sudahi? Atau kita biarkan saja norma ini terus membuat laki-laki menanggung beban maskulinitas ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Yuk, simak lebih lanjut mengenai maskulinitas!<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Menurut Connel (1995), maskulinitas merupakan suatu keyakinan terhadap laki-laki yang bersifat deskriptif, preskriptif (bersifat menentukan) dan proskriptif (larangan). Konsep maskulinitas ini sendiri memiliki sifat yang fleksibel karena dapat berubah dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, setiap masyarakat dan budaya memiliki representasi maskulinitas tersendiri (Murray &amp; Drummond, 2016).\u00a0 Karakteristik dari stereotip laki memiliki fisik dan mental yang kuat. Dilihat dari sudut pandang laki-laki dan sudut pandang perempuan ternyata hal ini mengalami perbedaan yang cukup signifikan. Di sudut pandang laki-laki memang sangat dibutuhkan maskulinitas, sedangkan di sudut pandang perempuan maskulinitas itu tidak terlalu dibutuhkan sehingga hal ini akhirnya menyebabkan adanya <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">toxic masculinity<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"><em>.<\/em>\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Apa sih <\/b><em><b>toxic masculinity<\/b><\/em><b> itu?<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Toxic masculinity<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> merupakan suatu tekanan budaya bagi kaum laki-laki untuk berperilaku dan bersikap dengan cara tertentu. Pada dasarnya, maskulinitas menjadi suatu karakteristik yang baik. Akan tetapi, hal ini akan menjadi toxic apabila laki-laki\u00a0 dituntut untuk menunjukkan sisi maskulinitas demi menghindari stigma \u201claki-laki lemah\u201d. Padahal suatu hal yang normal apabila laki-laki memiliki sifat ramah atau sensitif serta <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">gentle<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> atau lembut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Budaya <\/b><em><b>toxic masculinity<\/b><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Budaya <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">toxic masculinity<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> ini memberikan dampak yang signifikan terhadap mental laki-laki. Dilansir dari jurnal mengenai <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">toxic masculinity<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">, terdapat satu hasil riset dari WHO yang menyebutkan bahwa 80% pria melakukan bunuh diri di Amerika atau 2,9% orang dari 100.000 orang melakukan bunuh diri disebabkan oleh rasa tidak mampunya laki-laki menjalani peran sosial sebagai pria yang dibebankan oleh masyarakat kepada mereka.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Penyebab <\/b><em><b>toxic masculinity\u00a0\u00a0<\/b><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Salah satu penyebab <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">toxic masculinity<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> selain karena adanya standar sosial dan budaya yang mempengaruhi juga karena adanya asosiasi perilaku yang dibentuk oleh usia, golongan, seks, dan agama yang membuat maskulinitas berkembang menjadi suatu aturan yang keras dan sempit.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Dampak dari <\/b><em><b>toxic masculinity<\/b><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dampak dari <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">toxic masculinity<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> ini tidak hanya dirasakan oleh laki-laki, tetapi juga dialami oleh perempuan. Misalnya, laki-laki yang menjadi korban dari kekerasan antar sesama jenis karena mereka harus mempertahankan standar maskulinitasnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Bagaimana cara mengatasi <\/b><em><b>toxic masculinity\u00a0<\/b><\/em><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Menanamkan bahwa setiap orang memiliki karakter masing-masing tanpa harus berada dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">toxic masculinity<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Mengekspresikan diri.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Menghindari perkataan yang merendahkan perempuan atau merendahkan sesama laki-laki.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Menumbuhkan rasa empati yang baik.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Referensi<\/b><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Mutiara, Chantigi . 2022. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Toxic Masculinity di Indonesia: Lelaki juga boleh menangis.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Url:<\/span><a href=\"https:\/\/kumparan.com\/chantigi-mutiara\/toxic-masculinity-di-indonesia-lelaki-juga-boleh-menangis-1z3plFBxqOE\/full\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/kumparan.com\/chantigi-mutiara\/toxic-masculinity-di-indonesia-lelaki-juga-boleh-menangis-1z3plFBxqOE\/full<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kevin, Adrian. 2021. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Toxic Masculinity , ini yang perlu kamu ketahui<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Url: <\/span><a href=\"https:\/\/www.alodokter.com\/toxic-masculinity-ini-yang-perlu-kamu-ketahui\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.alodokter.com\/toxic-masculinity-ini-yang-perlu-kamu-ketahui<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Islamiyati, Widya. 2022. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Apa Itu Toxic Masculinity ? dan Bagaimana ini cara mengatasinya.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> Url:<\/span><a href=\"https:\/\/lifestyle.bisnis.com\/read\/20220815\/54\/1567054\/apa-itu-toxic-masculinity-dan-bagaimana-ini-cara-mengatasinya#:~:text=Penyebab%20toxic%20masculinity%20selain%20karena,aturan%20yang%20sempit%20juga%20keras\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/lifestyle.bisnis.com\/read\/20220815\/54\/1567054\/apa-itu-toxic-masculinity-dan-bagaimana-ini-cara-mengatasinya#:~:text=Penyebab%20toxic%20masculinity%20selain%20karena,aturan%20yang%20sempit%20juga%20keras<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Mahadewa, L.\u00a0 K. 2021. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Berkenalan dengan konsep maskulinitas: Laki atau Bukan?<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Url: <\/span><a href=\"https:\/\/kampuspsikologi.com\/maskulinitas\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/kampuspsikologi.com\/maskulinitas\/<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Penulis: Rara Nur Rachmawati\u00a0<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cLaki-laki ga boleh menangis\u201d \u201cLaki-laki itu suaranya lantang dan harus kuat\u201d \u201cLaki-laki itu harus tahan banting\u201d\u00a0 Hai teman-teman Psikopedia, sering kali ya kita mendengar\u00a0 kata-kata yang dilontarkan oleh sebagian orang-orang tentang norma gender laki-laki, ya seperti yang diatas tuh!! Apakah kalian pernah merasakan toxic masculinity? Atau kalian malah gak tau apa itu toxic masculinity? Yuk, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":3667,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-3666","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-psikopedia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3666","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3666"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3666\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3668,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3666\/revisions\/3668"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3667"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3666"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3666"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3666"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}