    {"id":3449,"date":"2022-11-30T16:12:22","date_gmt":"2022-11-30T09:12:22","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/?p=3449"},"modified":"2022-12-02T13:44:42","modified_gmt":"2022-12-02T06:44:42","slug":"merasakan-cinta-dan-obsesi-berlebihan-akan-tokoh-fiktif-bisa-jadi-menandakan-kamu-fictophilia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/2022\/11\/merasakan-cinta-dan-obsesi-berlebihan-akan-tokoh-fiktif-bisa-jadi-menandakan-kamu-fictophilia\/","title":{"rendered":"MERASAKAN CINTA DAN OBSESI BERLEBIHAN AKAN TOKOH FIKTIF BISA JADI MENANDAKAN KAMU FICTOPHILIA"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Go<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">! <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Fight<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">!! <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Win<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">!!! Halo, teman-teman Psytroopers semua! Bagaimana nih kabarnya? Dan bagaimana juga perkuliahannya? Semoga baik-baik saja ya! Pada kesempatan kali ini, kita bertemu kembali nih pada artikel ketiga edisi bulan November. Setelah kemarin membahas sisi mengidolakan idolamu dalam dunia Psikologi, pada kesempatan kali ini kita akan kembali membahas mengenai cinta bahkan obsesi dalam dunia Psikologi. Wah, kira-kira kita akan membahas obsesi dan cinta dari segi apa ya? Kalau menurut untaian sebuah lagu sih,\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400\">Meski kau tak cinta kepadaku<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Lagi-lagi kita kembali masokis di awal artikel nih teman-teman Psytroopers. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Hmm<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, memangnya kenapa sih dia tidak cinta padamu?\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cSi \u2018dia\u2019 itu hanya karakter fiksi, namun parasnya yang indah membuat aku jatuh hati\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Apa? Jadi si \u2018dia\u2019 adalah tokoh fiksi? Waduh, teman-teman jangan sampai seperti ini ya! Menyukai karakter fiksi itu adalah sebuah hal yang lumrah, tetapi jika hal tersebut dilakukan berlebihan itu dapat menjadi tanda kamu mengalami gangguan psikis loh! Hal seperti ini terjadi juga tidak nih denganmu? Kalau kamu merasa obsesimu berlebihan akan suatu karakter fiksi, mari atasi bersama sebelum terlambat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cMemang ada gangguan psikologis menyukai karakter fiksi? Bukannya itu hal yang wajar?\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Menurut Power (2008), Kuzmi\u00e8ov\u00e1 (2012), serta Kukkonen dan Caracciolo (2014), <em>fictophilia<\/em> adalah sebuah fenomena yang berbeda dari respons media manusia, seperti penerapan motorik, keterlibatan yang diwujudkan, dan proses simulasi pra-reflektif yang terjadi selama mengonsumsi fiksi.<\/span><span style=\"font-weight: 400\"> Lebih sederhananya, \u2018Ketertarikan\u2019 manusia terhadap hal-hal atipikal, seperti karakter fiksi, disebut dengan gangguan <em>fictophilia<\/em>. Ketertarikan yang dimaksud adalah masalah psikis individu yang mempunyai sifat ketertarikan berlebih terhadap suatu karakter tak nyata atau fiksi. Dalam hal ini, seorang peneliti Psikologi ternama, Vygotsky (1933\/1978) melakukan pengamatan bahwa \u201cImajinasi pada remaja dan anak sekolah adalah bermain tanpa tindakan\u201d (hal.93), sehingga pengamatan ini dapat menjadi sumber\/posisi yang valid untuk menjelaskan <em>fictophilia<\/em> dengan kata lain \u2018bermain pura-pura\u2019 yang dikembangkan juga dalam populasi dengan rentang usia yang lebih tua (Piaget, 1951\/2013; Pellegrini, 2009; Karhulahti, 2019). Jadi, berapapun usiamu jika teman-teman merasakan ketertarikan yang berlebihan terhadap tokoh fiksi itu dapat menjadi <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">concern<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> bahwa kemungkinan kamu mengidap <em>fictophilia<\/em>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201c<em>Fictophilia<\/em>? Baru dengar tuh!\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Nah teman-teman, <em>fictophilia<\/em> sendiri adalah salah satu tipe dari <em>paraphilia<\/em> loh!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cLalu, apa itu <em>paraphilia<\/em>?\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\"><em>Paraphilia<\/em> adalah suatu hal yang mencakup atau melibatkan individu yang memiliki gairah seksual atipikal terhadap hal-hal maupun objek atipikal. <em>Paraphilia<\/em> sendiri ada di banyak budaya yang berbeda loh teman-teman! Namun, prevalensi pasti orang-orang yang mengalami paraphilia belum diketahui.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cWah, ternyata sudah menyimpang ya. Lalu, bagaimana cara mencegah dan mengatasinya?\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sebagai awal yang baik dalam mencegah, teman-teman dapat membatasi ketertarikan yang teman-teman rasakan terhadap tokoh fiksi. Misalnya, teman-teman boleh mengagumi dengan batas yang wajar dan tidak sampai melibatkan diri teman-teman maupun seksualitas teman-teman dalam mengagumi tokoh tersebut. Karena sejatinya sesuatu yang berlebihan itu tidak akan pernah baik untuk dirimu. Namun, jika teman-teman telah merasakan tanda-tanda <em>fictophilia<\/em>, teman-teman\u00a0 dapat mengatasinya dengan menjauhkan diri dari segala hal yang berkaitan dengan tokoh fiksi tersebut serta meminta pertolongan ahli maupun dari orang-orang terdekatmu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dengan adanya artikel ini, aku berharap teman-teman dapat lebih <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">aware<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> dengan psikis teman-teman serta orang-orang terdekatmu ya! Salam sehat dan bahagia teman-teman Psytroopers semua!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><b>REFERENSI:<br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400\">Karhulahti, V-M. &amp; V\u00e4lisalo, T. (2021). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Fictosexuality, fictoromance,and fictophilia: a qualitative study of love and desire for fictional characters<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <em>Front. Psychol<\/em>. 11:575427.\u00a0 <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.3389\/fpsyg.2020.575427\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.3389\/fpsyg.2020.575427<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Park, J., Blomkvist, A., &amp; Mahmut, M. (2022). The differentiation between consumers of hentai pornography and human pornography<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><\/i><em><span style=\"font-weight: 400\">Journal Sexologies<\/span><\/em><i><span style=\"font-weight: 400\">, 31<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(3), 226-239. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.sexol.2021.11.002\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.sexol.2021.11.002<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Penulis<\/b><span style=\"font-weight: 400\">:\u00a0 Dinanda Rizqiannisa Putri<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Go! Fight!! Win!!! Halo, teman-teman Psytroopers semua! Bagaimana nih kabarnya? Dan bagaimana juga perkuliahannya? Semoga baik-baik saja ya! Pada kesempatan kali ini, kita bertemu kembali nih pada artikel ketiga edisi bulan November. Setelah kemarin membahas sisi mengidolakan idolamu dalam dunia Psikologi, pada kesempatan kali ini kita akan kembali membahas mengenai cinta bahkan obsesi dalam dunia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":3445,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-3449","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-psikopedia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3449","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3449"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3449\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3453,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3449\/revisions\/3453"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3445"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3449"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3449"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3449"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}