    {"id":3439,"date":"2022-11-16T14:42:01","date_gmt":"2022-11-16T07:42:01","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/?p=3439"},"modified":"2022-12-07T10:59:55","modified_gmt":"2022-12-07T03:59:55","slug":"afeksi-akan-pasangan-berlebihan-apakah-menandakan-love-bombing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/2022\/11\/afeksi-akan-pasangan-berlebihan-apakah-menandakan-love-bombing\/","title":{"rendered":"Afeksi Akan Pasangan Berlebihan, Apakah Menandakan Love Bombing?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Selamat pagi Psytroopers? Semangat pagi! Wah, tak terasa kita bertemu kembali pada artikel edisi bulan November. Teman-teman Psytroopers, sudah penasaran belum dengan tema yang akan diangkat pada artikel pertama di bulan November ini? Cluenya tema artikel pertama ini mengangkat masalah psikologi tentang cinta loh teman-teman! Wah, kira-kira kita akan bahas apa ya? Kalau menurut sebuah lagu sih,\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Kali ini hampir habis dayaku<br \/>\n<\/span><\/em><em><span style=\"font-weight: 400\">Membuktikan padamu ada cinta yang nyata<br \/>\n<\/span><\/em><em><span style=\"font-weight: 400\">Setia hadir setiap hari<br \/>\n<\/span><\/em><em><span style=\"font-weight: 400\">Tak tega biarkan kau sendiri<br \/>\n<\/span><\/em><em><span style=\"font-weight: 400\">Meski seringkali kau malah asyik sendiri<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kira-kira kenapa ya? Memang ada apa dengan lirik lagu di atas? Bukannya itu menggambarkan besarnya perjuangan seseorang untuk meraih cintanya? Yuk, kita ulik bersama!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Lirik lagu \u201cMalaikat Juga Tahu\u201d yang dinyanyikan oleh Dewi Lestari dan Glenn Fredly itu memang tidak salah teman-teman, yang salah adalah ketika kamu menyatakan afeksi berlebihan yang telah kamu lakukan kepada pasanganmu hanya untuk mendapatkan atensi ataupun rasa kasihan darinya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cLoh kenapa salah? Kan aku hanya ingin pasanganku tahu besarnya perjuanganku!\u201d<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400\">Kamu nanya? Okay aku kasih tahu ya, itu namanya kamu menunjukkan kalau kamu \u2018<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Love Bombing <\/span><\/em><i><span style=\"font-weight: 400\">\u2019<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> terhadap pasangan kamu!<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u201cHah, apaan tuh \u2018<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Love Bombing <\/span><\/em><i><span style=\"font-weight: 400\">\u2019 <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">? \u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Love bombing<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> atau yang dikenal dengan bom cinta diidentifikasi sebagai kehadiran yang berlebihan dalam komunikasi di awal hubungan, baik secara pasif dapat menguasai maupun mengontrol hidup dan diri orang lain (pasangan) sebagai sarana <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">narcissistic self-enhancement<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> atau peningkatan narsistik diri.\u00a0 Bahkan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">love bombing <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">digadang-gadang sebagai manipulasi psikologis loh! Biasanya, di awal suatu hubungan pasangan akan berusaha melakukan segala hal sesempurna mungkin, bahkan bisa dibilang terlalu sempurna, seperti cerita-cerita <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">wattpad<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang selalu kita idam-idamkan itu. Bisa dibilang, itulah teknik awal yang pasangan kamu lakukan dengan strategi terselubung untuk lebih menguasai kamu. Hal ini tentunya akan membuat kamu semakin \u2018klepek-klepek\u2019 jatuh hati terhadap pasanganmu. Sayangnya, pelaku <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">love bombing<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> ini terkadang sulit dikenali karena seseorang biasanya akan terlena dengan perlakuan manisnya hingga lupa memikirkan tujuan pasangan di belakangnya. Hal ini, tentunya berpotensi membuat seseorang terjebak kekangan secara psikologis loh!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cLalu, bagaimana cara mengenali <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">\u2018<\/span><\/i><em><span style=\"font-weight: 400\">Love Bombing <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">\u2019 ? \u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sebenarnya mudah teman-teman, asal kamu mau mengevaluasi hubungan kamu mungkin hal ini dapat menjadi langkah awal dalam pencegahan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">love bombing<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">. Dengan mengevaluasi, teman-teman bisa melihat beberapa aspek yang menandakan bahwa si \u2018dia\u2019 melakukan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">love bombing<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pertama, si \u2019dia\u2019 menyampaikan bahwa ia ingin dicintai dan didengar. Wah, teman-teman kalau si \u2018dia\u2019 adalah <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">crush<\/span><\/em><i><span style=\"font-weight: 400\">mu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, mungkin kamu akan merasakan kupu-kupu di perutmu seperti kata pepatah \u2018<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Butterfly in my stomach<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">\u2019. Alih-alih merasa jatuh hati, hal itu justru malah menjadi tanda bahwa si \u2018dia\u2019 memiliki kepribadian narsistik. Apa itu kepribadian narsistik? Kepribadian narsistik adalah suatu keadaan dimana individu mencintai dirinya sendiri. Namun, jika hal tersebut dilakukannya secara berlebihan dan bersifat mengganggu orang lain atau bahkan diri sendiri, maka dapat dianggap sebagai penyimpangan atau gangguan kepribadian (Hardjanta, dalam Philip 2007:26).\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201cBerarti, dia lebih mencintai dirinya dibanding diriku?\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Betul teman teman! Kepribadian narsistik ini selalu meningkatkan egonya untuk hal yang mereka inginkan saja. Keadaan ini akan menunjukkan bahwa si \u2018dia\u2019 mau selalu hadir setiap saat di kehidupan kamu loh! Dengan hal itu, si \u2018dia\u2019 akan berharap kamu membalas segala perlakuan sayangnya. Jadi, hal yang diinginkan oleh individu dengan kepribadian narsistik adalah penegasan akan kekaguman orang lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Tak hanya masalah kepribadian narsistik saja, yang tak kalah penting adalah ketika si \u2019dia\u2019 suka memberikan banyak hadiah mewah di awal suatu hubungan. Wah, alih-alih merasa senang kamu harus waspada nih, memberikan banyak barang mewah sepertinya bukan suatu hal yang \u2018manis\u2019 seperti cerita-cerita wattpad ya! Justru perlu kamu pikirkan apa alasan pasanganmu di belakangnya. Akan tetapi, bukan berarti hal itu langsung menandakan bahwa si \u2018dia\u2019 melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">love bombing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, masih banyak aspek yang perlu kamu pertimbangkan untuk melihat apakah si \u2018dia\u2019 melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">love bombing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> atau benar-benar mencintaimu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Selanjutnya adalah ketika si \u2018dia\u2019 suka memberikan pujian ataupun sanjungan berlebihan ke kamu. Seperti \u201cKamu napas aja cantik\/ganteng banget ya!\u201d, waduh! Kalau sudah seperti itu perlu diwaspadai ya teman-teman! Masa bernapas saja dipuji. Tak kalah klise, adalah ketika si \u2018dia\u2019 suka memberikan pernyataan cinta yang ekstrim dan terkesan berlebihan, hampir sama seperti yang sebelumnya, tetapi sekarang \u201cAku gak bisa hidup tanpa kamu, kamu separuh napasku, belahan jiwaku, tulang rusukku, jantungku\u201d, eits udah udah! Duh, memang ucapannya itu sangat romantis mengalahkan kisah Romeo dan Juliet, namun hal tersebut adalah salah satu tanda yang paling jelas dari perilaku <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">love bombing<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Namun ada yang paling berbahaya nih teman-teman, dimana si \u2019dia\u2019 kerap menyalahkan perbuatan kamu yang menyakiti hatinya dengan kembali mengungkit afeksi yang telah ia lakukan seperti penjelasan di atas. Wah! Kalau sudah seperti ini kamu patut waspada teman-teman, karena ini dapat menjadi awal dari kamu yang terjebak di hubungan tidak sehat.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u201dApakah aspek-aspek di atas dapat memengaruhi psikologisku?\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Tentu bisa! Perilaku<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\"> love bombing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang dilakukan seseorang terhadap dirimu dapat mengurangi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">self-esteem <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">yang telah kamu tanam loh! Karena <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">love bomber<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> atau pelaku dari <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">love bombing<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> dapat melihat <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">self-esteem<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> yang cenderung rendah hingga dapat memanfaatkannya. Maka dari itu, hal yang perlu diketahui dari cara mengatasi <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">love bombing <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">adalah dengan kamu yang harus dapat memutus tali hubungan disaat si \u2018dia\u2019 memperlakukan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">love bombing<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> terhadapmu atau bahkan sudah memengaruhi kesehatan psikismu ya!\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Semoga artikel ini dapat membantu kamu, kita, dan siapapun terbebas dari hubungan yang tidak sehat ya! Tetap semangat dan bahagia selalu teman-teman Psytroopers!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>REFERENSI:\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Archer, D. (2017). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">The danger of manipulative love-bombing in a relationship<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Diakses melalui <\/span><a href=\"https:\/\/www.psychologytoday.com\/us\/blog\/reading-between-the-headlines\/201703\/the-danger-manipulative-love-bombing-in-relationship\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.psychologytoday.com\/us\/blog\/reading-between-the-headlines\/201703\/the-danger-manipulative-love-bombing-in-relationship<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">. Diakses pada 2 November 2022.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Strutzenberg, C., Wiersma-Mosley, J., Jozkowski, K., &amp; Becnel, J. (2017). Love-bombing: a narcissistic approach to relationship formation. Discovery. <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">The Student Journal of Dale Bumpers College of Agricultural, Food and Life Sciences<\/span><\/em><i><span style=\"font-weight: 400\">, 18<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(1)<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">81-89. Retrieved from <\/span><a href=\"https:\/\/scholarworks.uark.edu\/discoverymag\/vol18\/iss1\/14\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/scholarworks.uark.edu\/discoverymag\/vol18\/iss1\/14<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Penulis<\/b><span style=\"font-weight: 400\">: Dinanda Rizqiannisa Putri<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selamat pagi Psytroopers? Semangat pagi! Wah, tak terasa kita bertemu kembali pada artikel edisi bulan November. Teman-teman Psytroopers, sudah penasaran belum dengan tema yang akan diangkat pada artikel pertama di bulan November ini? Cluenya tema artikel pertama ini mengangkat masalah psikologi tentang cinta loh teman-teman! Wah, kira-kira kita akan bahas apa ya? Kalau menurut sebuah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":3440,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-3439","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-psikopedia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3439","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3439"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3439\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3479,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3439\/revisions\/3479"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3440"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3439"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3439"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3439"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}