    {"id":3259,"date":"2022-07-27T15:09:11","date_gmt":"2022-07-27T08:09:11","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/?p=3259"},"modified":"2022-07-27T15:09:11","modified_gmt":"2022-07-27T08:09:11","slug":"pentingnya-self-control-pada-remaja-masa-kini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/2022\/07\/pentingnya-self-control-pada-remaja-masa-kini\/","title":{"rendered":"Pentingnya Self-Control Pada Remaja Masa Kini"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pernahkah kita mendengar kalau masa remaja merupakan masa-masa yang paling\u00a0 menyenangkan? Pasti kalimat tersebut tidak asing terdengar oleh kita semua. Teruntuk\u00a0 sebagian orang yang pernah lewati masa remaja yang menyenangkan pasti menyetujui kalimat tersebut. Masa remaja dipenuhi dengan penemuan jati diri, bereksplorasi, dan mulai mengenal dengan yang namanya cinta.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Remaja pada umumnya, kerap berperilaku kurang menyenangkan, seperti melanggar aturan, tidak bisa mengendalikan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">mood<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, dan sikap mereka. Kita sering melihat remaja yang terkadang tidak terkendali disaat mereka sedang menikmati masa remajanya. Bahkan, saat\u00a0 berada di masa remaja, kita pernah sesekali bersikap melampaui batas. Perilaku tersebut merupakan hal yang wajar bagi remaja. Namun, apa sih yang akan terjadi pada diri remaja\u00a0 tersebut apabila terus-terusan berperilaku tidak terkendali dan kurangnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">self-control <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">dalam diri\u00a0 mereka dan bagaimana cara menanganinya?\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sebelum kita membahas lebih lanjut, mari kita bahas terlebih dahulu, apa itu <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Self-control<\/span><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Self-control <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">atau kontrol diri yaitu kemampuan seseorang untuk mengatur atau mengubah aksi,\u00a0 emosi, dan perasaan dalam diri individu untuk menghindari perilaku yang tidak diinginkan. Menurut Baumeister &amp; Boone (2004), <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">self-control<\/span><\/em><i><span style=\"font-weight: 400\"> atau <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">kontrol diri merupakan kemampuan\u00a0 yang dimiliki individu dalam menentukan perilakunya sesuai dengan standar tertentu, seperti\u00a0 moral, nilai, dan aturan yang berada di lingkup masyarakat agar mengarah kepada suatu perilaku\u00a0 positif. <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Kita bisa mengetahui bahwa <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">self-control <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">sangat penting bagi kita sebelum melakukan sebuah tindakan, terutama bagi seorang remaja. <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Self-control <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">harus dimulai dari diri seorang remaja dan <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">dukungan dari luar. Namun, tak semua remaja mendapat dukungan dalam memenuhi <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">self-control <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">nya. Oleh karena itu, mari kita kembali kepada pembahasan awal, yaitu akibat dari <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">kurangnya <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">self-control <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">dan cara menanganinya. <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dampak dari melemahnya <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">self-control<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> bagi remaja:<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li><b> Menimbulkan perilaku yang menyimpang<\/b><b><\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sebagai remaja masa kini, harus pintar dalam memilah arus yang berdatangan dan bisa <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">menahan sikap. Bila <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">self-control <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">rendah, maka seorang remaja akan menjadikan hal <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">tersebut sebagai standar mereka dalam berperilaku. Misalnya, pergi ke tempat <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">clubbing<\/span><\/em><i><span style=\"font-weight: 400\">,<\/span><\/i> <span style=\"font-weight: 400\">meminum alkohol, melakukan kegiatan seksual dan merokok, dianggap sebagai suatu <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">hal yang keren dan kekinian. Padahal, kegiatan tersebut masih tergolong ilegal bagi <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">remaja karena masih dibawah umur. <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\" start=\"2\">\n<li><strong><i> Menurunnya prestasi akademik<\/i><\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Remaja yang memiliki <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">self-control <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">yang tinggi, maka ia bisa mengatur proses <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">belajarnya dengan baik dan menghasilkan prestasi akademik yang memuaskan, karena mereka mampu meminimalisir hasil prestasi belajar yang rendah. Sebaliknya, bila seorang remaja memiliki <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">self-control<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> yang rendah, maka prestasi akademik pun <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">menurun akibat tidak mampu mengatur sesuatu yang ingin dihindari (Chasanah, 2020).<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Menurut Marsela dan Supriatna (2019) kurangnya <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">self-control<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> juga dapat mengakibatkan <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">kesulitan untuk mengatur perilaku dan tidak mampu menentukan tindakan yang akan diambil, sehingga mengarah kepada sifat yang agresif<\/span><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span> <span style=\"font-weight: 400\">Untuk mengetahui kondisi nyata yang berada di Indonesia, ternyata sudah banyak dilakukan penelitian yang menyangkut tentang <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">self-control<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">, diantaranya yaitu oleh Aviyah dan Farid pada tahun 2014 yang meneliti <em>self-control<\/em> terhadap <\/span><span style=\"font-weight: 400\">siswa SMA Negeri 1 Bancar dan SMA Negeri 1 Jatirogo. Pada penelitiannya, terdapat hipotesis mengenai ada atau tidaknya hubungan antara kontrol diri dan kenakalan remaja. Dari hasil penelitiannya disebutkan bahwa kontrol diri dan kenakalan remaja memiliki hubungan yang sangat signifikan, dapat dikatakan jika semakin tinggi kontrol diri seorang remaja, maka semakin rendah kenakalan remaja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Berbicara tentang tinggi dan rendahnya kontrol diri, terdapat peristiwa kenakalan remaja yang dikutip oleh berita Kompas. Peristiwa ini terjadi di Palmerah, Jakarta Barat yaitu terdapat 1 remaja yang tewas akibat tawuran dan 2 remaja mengalami luka berat. Remaja yang tewas akibat tawuran berinisial MD (20). Awalnya, mereka hanya berkeliling membangunkan warga untuk sahur. Namun, sebelumnya ketiga remaja tersebut telah membuat janji untuk tawuran dengan kelompok lain melalui media sosial. Peserta tawuran membawa senjata tajam dan rata-rata dari mereka masih berada di bawah umur, yaitu sekitar 14-16 tahun. Akibat perbuatannya, mereka dikenakan Pasal <\/span><span style=\"font-weight: 400\">170 dan 358 KUHP dengan ancaman hukuman diatas tujuh tahun penjara. Namun, dikarenakan mereka masih berada dibawah umur, maka polisi pun harus berkoordinasi dengan dengan pihak Balai Pemasyarakatan (Bapas) untuk menangani sistem peradilan pidana terhadap pelaku tawuran. Selama proses penanganan kasus tawuran, tentunya terdapat kendala karena pelaku masih berada dibawah umur dan berdasarkan dengan ketentuan UU RI No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) atau hukum peradilan anak, biasanya anak yang masih berada dibawah 14 tahun tidak boleh ditahan. Sementara, para pelaku saat ini dititipkan di Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial Anak (LPKS) Cipayung, Jakarta Timur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Peristiwa tersebut membuktikan bahwa rendahnya kontrol diri dapat mengarah pada kenakalan remaja dan perilaku agresif. <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Kalau begitu, jika kita merasa memiliki <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">self-control<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> yang lemah, bagaimana ya cara mengatasi hal tersebut? Lalu, jika kita merasa memiliki tingkat <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">self-control <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">yang cukup baik, bagaimana ya cara mempertahankannya? Nah, jangan khawatir teman-teman! Disini akan dijelaskan berbagai tips yang dapat diterapkan seperti yang ada di bawah ini: <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><b>Membuat<\/b><b><i> planning<\/i><\/b><b> untuk kedepan<\/b><b>:<\/b> <span style=\"font-weight: 400\">Untuk meningkatkan kesadaran tentang kontrol diri, perlu membuat rencana mengenai<\/span> <span style=\"font-weight: 400\">sikap atau perilaku apa yang harus dilakukan apabila dihadapkan oleh suatu godaan dari <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">luar dan bagaimana cara menangani nya.<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><b>Memikirkan konsekuensi:<\/b><span style=\"font-weight: 400\"> Cara ini, bisa dilakukan dengan cara berpikir, \u201cApakah hal ini akan bermanfaat <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">untukku?\u201d \u201cDampak apa yang akan aku dapatkan apabila aku melakukannya?\u201d dengan <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">berpikir demikian, dapat membuat seorang remaja menjadi berpikir yang kedua kali dan <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">bisa mengontrol aksi, emosi, dan perasaan<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><b>Dukungan keluarga: <\/b><span style=\"font-weight: 400\">Bentuk dukungan bisa dilakukan dengan cara saran, nasihat secara verbal maupun nonverbal yang dapat diterima remaja (Anggoro, 2018). Keluarga diharapkan untuk selalu <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">mengawasi perilaku dan kegiatan, namun tetap memberikan ruang privasi agar anak<\/span> <span style=\"font-weight: 400\">merasa nyaman walaupun masih berada di dalam pengawasan<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><b>Lingkungan teman sebaya<\/b><b>: <\/b><span style=\"font-weight: 400\">Teman sebaya merupakan dukungan sosial yang penting karena seorang remaja akan sering menghabiskan waktu bersama teman sebaya nya. Oleh karena itu, diperlukan<\/span> <span style=\"font-weight: 400\">lingkungan teman sebaya yang dapat menghasilkan hubungan timbal balik yang<\/span> <span style=\"font-weight: 400\">bermanfaat bagi psikis dan kehidupan akademiknya.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Referensi:<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Arbi, I. A. (2022, April 13). 1 Tewas dan 2 Luka Berat Saat Tawuran di Palmerah, Anak di Bawah Umur Lakukan Penyerangan dengan Sajam. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">KOMPAS.Com<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. https:\/\/megapolitan.kompas.com\/read\/2022\/04\/13\/15140591\/1-tewas-dan-2-luka-berat-saat-tawuran-di-palmerah-anak-di-bawah-umur?page=all<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Anggoro, A. (2018). HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DAN DUKUNGAN <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">KELUARGA DENGAN KENAKALAN REMAJA PADA SISWA SMK KANSAI <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">PEKANBARU (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">Riau).<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Aviyah, E., &amp; Farid, M. (2014). Religiusitas, kontrol diri dan kenakalan remaja. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Persona:Jurnal Psikologi Indonesia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">3<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(02). https:\/\/doi.org\/10.30996\/persona.v3i02.376<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Aroma, I. S., &amp; Suminar, D. R. (2012). Hubungan antara tingkat kontrol diri dengan <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">kecenderungan perilaku kenakalan remaja. Jurnal Psikologi Pendidikan dan <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">Perkembangan, 1(2), 1-6.<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Chasanah, U. (2020). Pengaruh kontrol diri terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMK <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">Ar-Roudhoh Beji Pasuruan (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Maulana <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">Malik Ibrahim Malang).<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Cherry, K.(2021, May 31). How to Improve your self-control. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Verywell Mind. <\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.verywellmind.com\/psychology-of-self-control-4177125<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Marsela, R. D., &amp; Supriatna, M. (2019). Konsep diri: Definisi dan faktor. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Journal of <\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400\">Innovative <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">Counseling: Theory, Practice, and Research, 3(02), 65-69.<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Rahman, A. A., Permana, L., &amp; Hidayat, I. N. (2019). Peran mindfulness dalam <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">meningkatkan behavioral self control pada remaja.<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\"> Jurnal Ilmu Perilaku<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, 3(2), 110-117.<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Syaibani, R., Darmayanti, N., &amp; Hasanuddin, H. (2019). Hubungan antara dukungan <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">teman sebaya dan kontrol diri dengan kenakalan remaja Sma Swasta <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">Dharmawangsa. PROCEEDING: THE DREAM OF MILLENIAL GENERATION TO <\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400\">GROW, 2(1).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Penulis: Natasha Shafa Nabila<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernahkah kita mendengar kalau masa remaja merupakan masa-masa yang paling\u00a0 menyenangkan? Pasti kalimat tersebut tidak asing terdengar oleh kita semua. Teruntuk\u00a0 sebagian orang yang pernah lewati masa remaja yang menyenangkan pasti menyetujui kalimat tersebut. Masa remaja dipenuhi dengan penemuan jati diri, bereksplorasi, dan mulai mengenal dengan yang namanya cinta.\u00a0\u00a0 Remaja pada umumnya, kerap berperilaku kurang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":3254,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-3259","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-psikopedia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3259","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3259"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3259\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3260,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3259\/revisions\/3260"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3254"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3259"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3259"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3259"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}