    {"id":3199,"date":"2022-06-07T15:54:32","date_gmt":"2022-06-07T08:54:32","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/?p=3199"},"modified":"2022-06-07T15:54:32","modified_gmt":"2022-06-07T08:54:32","slug":"hubungan-parasosial-pada-era-media-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/2022\/06\/hubungan-parasosial-pada-era-media-sosial\/","title":{"rendered":"Hubungan Parasosial Pada Era Media Sosial"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Hi teman-teman Psikopedia! selamat datang kembali ke artikel terbaru ini. Kalian pasti pernah menggunakan media sosial kan? Media sosial selain merupakan saluran yang baik untuk berinteraksi sosial secara virtual, juga dapat menjadi <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">platform<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (atau ibarat panggung) untuk mempersembahkan bakat dan karya diri sendiri kepada orang lain. Orang-orang yang membuat karya-karya ini disebut berbagai hal. Namun, secara umum dapat disebut dengan istilah <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">content creator<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">. Kalian pasti mengenal setidaknya beberapa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">content creator<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dari media-media sosial seperti YouTube atau Tiktok.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Content creator<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> ini secara natural dapat memikat perhatian orang yang banyak melalui media sosial hingga menjadi pengikutnya. Karena sifat media sosial yang virtual, <em>content creator<\/em> dapat mengumpulkan pengikut dengan latar belakang yang beragam, seperti perbedaan negara, ras, budaya, dan agama dari seluruh dunia. <em>Content creator <\/em>di era modern tidak hanya sekedar menampilkan konten secara tersendiri, tetapi juga berinteraksi dengan pengikut-pengikutnya. Tujuan dari interaksi ini dapat berupa upaya memperdekatkan diri dengan audiensnya, ataupun hanya mendukung angka-angka statistik semata-mata, tergantung <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">content creator<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> itu sendiri. Penelitian oleh Sunghee Jun dan Jisu Yi (2020) dalam Journal of Product &amp; Brand Management menunjukkan bahwa interaksi <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">influencer<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (salah satu bentuk <em>content creator<\/em>) dengan audiens berhubungan secara positif dengan \u2018pelekatan\u2019 emosional (<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">emotional attachment<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">) pada <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">influencer<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">, kemudian pelekatan emosional berhubungan secara positif dengan kesetiaan atau loyalitas pada merek <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">influencer<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">brand loyalty<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">). Pelekatan emosional ini dapat menyebabkan terbentuknya hubungan parasosial (<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">parasocial relationship<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"><em>)<\/em> antara audiens dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">content creator<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Hubungan parasosial merupakan istilah yang dipelopori oleh Donald Horton dan Richard Wohl. Horton dan Wohl (1956) menggunakan contoh televisi untuk menjelaskan hubungan parasosial, yaitu ilusi bahwa adanya suatu hubungan yang langsung antara penonton dan pembawa acara, dimana sebenarnya tidak ada. Meskipun artikel tersebut dipublikasikan tahun puluhan tahun yang lalu fenomena hubungan parasosial masih terjadi di era modern pula, umumnya dengan selebritas, artis, dan figur-figur terkenal lainnya termasuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">content creator<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Proses terbentuknya hubungan ini memiliki tahapan: 1) <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">social and task attraction<\/span><span style=\"font-weight: 400\">, <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">2) <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">parasocial interaction<\/span><span style=\"font-weight: 400\">, <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">dan terakhir 3) <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">a sense of relationship importance <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">(Rubin &amp; McHugh, 1987). <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Parasocial interaction<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> juga merupakan istilah yang dikemukakan oleh Hort dan Wohl (1956), <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">parasocial interaction<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> berperan sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">stepping point<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> untuk terbentuknya suatu <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">parasocial relationship, <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">contoh yang diberikan adalah ketika pembawa acara berbicara menghadap kamera sehingga seolah-olah berbicara dengan penonton sendiri. <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Sense of relationship importance<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> sedangkan mengimplikasikan bahwa hubungan parasosial antara audiens dengan seorang figur bukan hanya sekedar mengetahui figur tersebut secara mendalam, melainkan juga suatu hubungan yang seolah-olah memiliki intimasi, seperti hubungan dengan teman atau sahabat sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Perkembangan teknologi memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih banyak dan jangkauan yang lebih jauh dari sebelumnya melalui media sosial. Namun, konsekuensi dari hal tersebut salah satunya adalah munculnya oportunitas untuk memekarnya hubungan parasosial antara tokoh-tokoh selebritas dengan pengikutnya. Studi oleh Jihyun Kim dan Hayeon Song (2016) menunjukkan bahwa hubungan parasosial seseorang dengan selebritas secara positif dipengaruhi oleh <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">professional self-disclosure<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (bercerita tentang pekerjaannya), <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">personal self-disclosure<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (bercerita tentang kehidupan pribadi), dan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">retweeting<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (fitur aplikasi Twitter untuk menyebarkan ulang tautan orang lain, dalam kasus ini selebritas). Dapat dikatakan bahwa media sosial menjadi wadah yang baik untuk terbentuknya hubungan parasosial, karena semakin mudah ter-<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">expose<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> terhadap kehidupan, pendapat, dan kepercayaan orang yang kita tidak kenal, dimana hal-hal ini yang seharusnya bersifat pribadi disebarkan kepada umum.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Lalu, bagaimana dampak hubungan parasosial pada kondisi psikologis seseorang? Studi yang dilakukan oleh Young Min Baek, Young Bae, dan Hyunmi Jang (2013) menunjukkan bahwa ketergantungan pada hubungan parasosial berkorelasi secara positif dengan rasa <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">loneliness<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (kesepian), tetapi berkorelasi secara negatif dengan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">interpersonal distrust<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (ketidaknyamanan dalam bersikap terbuka dengan orang lain). Ada pun istilah <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">parasocial breakup<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">, yang merupakan ketika hubungan parasosial seorang dengan suatu tokoh berakhir karena tokoh tersebut meninggal atau karena media dimana tokoh itu muncul diberhentikan (Liebers &amp; Schramm, 2019). Dalam konteks media sosial, bentuk <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">parasocial breakup<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> dapat berupa ketika <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">content creator<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> berhenti membuat konten. Terutama pada remaja, <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">parasocial breakup<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> dapat menyebabkan rasa kesedihan (Cohen, 2003). Selebihnya, sebuah penelitian pernah dilakukan mengenai hubungan parasosial antara pemain bola basket terkenal Lebron James dengan penggemar-penggemarnya setelah beliau mengumumkan pensiun sementaranya (Lihat Bostwick &amp; Lookado, 2017, untuk detail lebih lanjut). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggemar yang mengalami <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">parasocial breakup <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">secara umum memiliki perasaan duka ketika James pensiun. Meskipun penelitian tersebut melibatkan LeBron James yang merupakan seorang atlet terkenal, prinsip yang sama berlaku pada <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">content creator<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"><em>.<\/em> Seperti yang dikatakan oleh Jun dan Yi, interaksi antara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">influencer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dan audiens dapat memunculkan pelekatan emosional dengan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">influencer<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">. Pelekatan emosional ini yang kemudian menjadi bahan bakar untuk hubungan parasosial.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Interaksi antara <em>content creator<\/em> dan audiens nya dapat membangun rasa kenyamanan dan komunitas antar-sesama lain. Karena di era digital ini kita dengan sangat mudah dapat berbagi dengan orang lain tentang kehidupan, pendapat, dan kepercayaan kita. Namun, perlu disadari bahwa sesungguhnya figur-figur media sosial yang kita gemari bukanlah teman atau orang dekat dari kita. Oleh karena itu, hindarilah konsumsi media secara berlebihan agar tidak terbentuk hubungan parasosial dengan orang yang sesungguhnya tidak dikenal.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Referensi:<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Jun, S., &amp; Yi, J. (2020). What makes followers loyal? The role of influencer interactivity in building influencer brand equity.\u00a0<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Journal of Product &amp; Brand Management<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Horton, D., &amp; Wohl, R. (1956). Mass communication and para-social interaction: Observations on intimacy at a iistance. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Psychiatry<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, 19(3), 215-229 <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1080\/00332747.1956.11023049\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.1080\/00332747.1956.11023049<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Rubin, R. B., &amp; McHugh, M. P. (1987) Development of parasocial interaction relationships. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Journal of Broadcasting &amp; Electronic Media<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, 31(3), 279-292. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1080\/08838158709386664\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.1080\/08838158709386664<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kim, J., &amp; Song, H. (2016). Celebrity&#8217;s self-disclosure on Twitter and parasocial relationships: A mediating role of social presence.\u00a0<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Computers in Human Behavior<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">,\u00a0<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">62<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, 570-577. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.chb.2016.03.083\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.chb.2016.03.083<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Baek, Y. M., Bae, Y., &amp; Jang, H. (2013). Social and parasocial relationships on social network sites and their differential relationships with users&#8217; psychological well-being. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, 16(7), 512-517. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1089\/cyber.2012.0510\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.1089\/cyber.2012.0510<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Liebers, N., &amp; Schramm, H. (2019). Parasocial interactions and relationships with media characters\u2013An inventory of 60 years of research. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Communication Research Trends<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, 38(2), 4-31.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Cohen, J. (2003). Parasocial breakups: Measuring individual differences in responses to the dissolution of parasocial relationships. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Mass Communication &amp; Society<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, 6(2), 191-202. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1207\/S15327825MCS0602_5\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.1207\/S15327825MCS0602_5<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Bostwick, E. N., &amp; Lookadoo, K. L. (2017). The return of the king: How Cleveland reunited with LeBron James after a parasocial breakup. Communication &amp; Sport, 5(6), 689-711.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Penulis: Farall Gibran F.<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hi teman-teman Psikopedia! selamat datang kembali ke artikel terbaru ini. Kalian pasti pernah menggunakan media sosial kan? Media sosial selain merupakan saluran yang baik untuk berinteraksi sosial secara virtual, juga dapat menjadi platform (atau ibarat panggung) untuk mempersembahkan bakat dan karya diri sendiri kepada orang lain. Orang-orang yang membuat karya-karya ini disebut berbagai hal. Namun, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":3200,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-3199","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-psikopedia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3199","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3199"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3199\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3201,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3199\/revisions\/3201"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3200"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3199"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3199"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3199"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}