    {"id":3196,"date":"2022-06-04T21:43:56","date_gmt":"2022-06-04T14:43:56","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/?p=3196"},"modified":"2022-06-04T21:43:56","modified_gmt":"2022-06-04T14:43:56","slug":"perspektif-biopsikologis-terhadap-lgbt","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/2022\/06\/perspektif-biopsikologis-terhadap-lgbt\/","title":{"rendered":"Perspektif Biopsikologis Terhadap LGBT"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Hai, teman-teman semua! Selamat datang di artikel baru Psikopedia. Pada waktu-waktu belakangan ini, semakin besar jumlah aktivis-aktivis sosial yang memperjuangkan hak kaum LGBT dan menormalisasikannya, mau itu dari kalangan LGBT sendiri atau di luarnya. Akan tetapi di sisi lain, banyak juga dari kaum religius dan konservatif yang menolak toleransi terhadap LGBT dengan mengatakan bahwa hal tersebut melawan kodrat manusia dan sebagainya. Dimana pun posisimu dalam argumen mau itu pro atau kontra LGBT, dapat diakui bahwa eksistensi LGBT menjadi topik yang sangat diperbincangkan di zaman sekarang. Perdebatan ini sepertinya tiada hentinya, melihat bagaimana budaya-budaya berbeda memiliki pandangan berbeda pula mengenai moralitas dari hal-hal tertentu, artikel ini tidak bertujuan memecahkan hal tersebut. Melainkan, artikel ini bertujuan memberikan perspektif yang ilmiah terhadap bagaimana seseorang menjadi homoseksual, biseksual, atau <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">transgender<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">, dan menghilangkan kesalahpahaman yang mungkin ada tentang topik-topik tersebut.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Apa yang menyebabkan seseorang menjadi LGBT?<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Salah satu pemikiran yang besar adalah bahwa homoseksualitas merupakan sesuatu yang dapat ditularkan dari satu orang ke orang lainnya atau pun hanya dapat \u201cmuncul\u201d akibat faktor lingkungan, sehingga orang tua berupaya mencegah anaknya dalam pergaulan tertentu agar tidak \u201cmenjadi\u201d LGBT. Namun, ada beberapa perbedaan pandangan mengenai pemikiran tersebut. Garrett et al. (2017) mengutip Van Wyk et al. (1984) bahwa orang dewasa heteroseksual dan homoseksual memiliki perbedaan pengalaman tertentu di masa kecilnya. Contohnya, seperti pergaulan dengan teman lawan jenis lebih banyak di masa kanak-kanak, dan kontak homoseksual di masa remaja.\u00a0 Namun, ini juga dapat berupa pertanda awal dari homoseksualitas, bukan penyebab. Di sisi lain, beberapa penelitian menunjukkan bahwa orientasi seksual seseorang (ketertarikan terhadap jenis kelamin tertentu) juga ditentukan oleh faktor biologis seseorang. Menemukan bahwa homoseksualitas dua sampai tujuh kali lebih menampak di antara saudara dibanding populasi umum (Bailey et al., 1993, dikutip dalam Garrett et al., 2017 ), yang dapat dianggap sebagai bukti peran genetika dalam menentukan orientasi seksual. Namun, gen spesifik yang menyebabkan homoseksualitas belum dapat ditentukan dengan pasti. Perbedaan orientasi seksual juga dapat disebabkan adanya kendala dalam diferensiasi seksual (penentuan kelamin) dalam otak. Hormon testosteron saat diferensiasi berperan dalam membentuk identitas laki-laki dan orientasi laki-laki heteroseksual (Swaab, 2004). Dari hal tersebut, bisa dimengerti bagaimana hambatan dalam memproduksi atau menerima hormon tentunya dapat mempengaruhi tak hanya orientasi seksual seseorang, tetapi <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">gender identity<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> juga (akan dijelaskan lebih lanjut). Belum ada kesepakatan yang pasti mengenai asal-usul homoseksualitas dan orientasi seksual secara umum, tetapi ada dukungan yang cukup kuat tentang faktor internal untuk orientasi seksual. Sehingga, kita harus dapat dipertimbangkan juga dengan faktor eksternal saat berbicara tentang orientasi seksual.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><b>Gender Identity<\/b><\/em><b>, beda kah dengan jenis kelamin fisik?<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sebelumnya telah disebutkan bahwa diferensiasi seksual pada otak berpengaruh pada <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">gender identity<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> seseorang, tetapi apa itu <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">gender identity<\/span><span style=\"font-weight: 400\">? <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Gender identity<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> merupakan perasaan subyektif seseorang terhadap apakah dia termasuk laki-laki atau perempuan (Garrett et al., 2017). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Gender identity<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> ini secara konsep berbeda dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">sex<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, yaitu perbedaan ciri-ciri biologis yang menentukan pengelompokkan individu menjadi laki-laki atau perempuan (Garrett et al., 2017). Mayoritas orang memiliki <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">sex<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> dan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">gender identity<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> yang selaras, tetapi tidak selalu seperti itu. Kondisi ketika individu merasa bahwa <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">sex<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> dan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">gender identity<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> tidak cocok dapat menyebabkan rasa tertekan atau ketidaknyamanan, rasa tertekan ini disebut dengan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">gender dysphoria<\/span><\/em><i><span style=\"font-weight: 400\">,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sedangkan orangnya sendiri yang merasakannya disebut dengan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">transgender<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (Garrett et al., 2017). Ingat sebelumnya bagaimana peran hormon dalam menentukan <\/span><span style=\"font-weight: 400\"><em>gender<\/em> <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">identity<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> seseorang<em>?<\/em> Kenyataannya, diferensiasi seksual di otak terjadi pada waktu berbeda dengan diferensiasi alat kelamin, (Bao et al., 2011), ini yang menyebabkan terjadinya perbedaan antara kelamin fisik seseorang dengan persepsi identitas kelaminnya.\u00a0 Zhou et al. (1995) menemukan bahwa bagian <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">central bed nucleus<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> dari <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">stria terminalis<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (BSTc) lebih besar di individu laki-laki dari perempuan. Menariknya, individu laki-laki yang mempersepsikan identitasnya sebagai perempuan (alias, seorang perempuan <em>transgender<\/em>) memiliki ukuran BSTc yang sama dengan perempuan \u201csejati\u201d. Penelitian-penelitian tersebut terus digunakan sebagai bukti bahwa transgenderisme lebih terikat dengan neurologis seseorang sendiri, tak hanya sekedar kepercayaan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Apa yang dapat dipelajari dari penelitian-penelitian tersebut? Di Indonesia terutama, pembahasan tentang LGBT, seksualitas, dan identitas seksual masih dapat dianggap topik yang cukup tabu. Akan tetapi, dengan artikel ini diharapkan bahwa pengetahuan kita semua tentang topik-topik ini menjadi semakin lengkap, agar tidak menyebarkan misinformasi dan menghasilkan diskusi yang bermanfaat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Referensi:<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Bailey, J. M.,\u00a0 Bell, A. P. (1993). Familiality of female and male homosexuality. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Behavior Genetics<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, 23, 313\u2013322.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Bao, A., Swaab. D. F. (2011). Sexual differentiation of the human brain: Relation to gender identity, sexual orientation and neuropsychiatric disorders. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Frontiers in Endocrinology<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, 32(2), 214-226. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.yfrne.2011.02.007\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.yfrne.2011.02.007<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Garrett, B., Hough, G. (2017). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Brain &amp; behavior: An introduction to behavioral neuroscience (5<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400\">th<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400\"> ed.)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. SAGE<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Swaab, D. F. (2004). Sexual differentiation of the human brain: relevance for gender identity, transsexualism and sexual orientation.\u00a0<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Gynecological Endocrinology<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">,\u00a0<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">19<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(6), 301-312. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1080\/09513590400018231\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.1080\/09513590400018231<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Van Wyk, P. H., Geist, C. S. (1984). Psychosocial development of heterosexual, bisexual, and homosexual behavior. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Archives of Sexual Behavior<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, 13, 505\u2013544.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Zhou, J. N., Hofman, M. A., Gooren, L. J., Swaab, D. F. (1995). A sex difference in the human brain and its relation to transsexuality. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Nature<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, 378, 68-70. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1038\/378068a0\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.1038\/378068a0<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Penulis: Farall Gibran F.<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hai, teman-teman semua! Selamat datang di artikel baru Psikopedia. Pada waktu-waktu belakangan ini, semakin besar jumlah aktivis-aktivis sosial yang memperjuangkan hak kaum LGBT dan menormalisasikannya, mau itu dari kalangan LGBT sendiri atau di luarnya. Akan tetapi di sisi lain, banyak juga dari kaum religius dan konservatif yang menolak toleransi terhadap LGBT dengan mengatakan bahwa hal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":3197,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-3196","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-psikopedia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3196","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3196"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3196\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3198,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3196\/revisions\/3198"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3197"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3196"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3196"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3196"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}