    {"id":3180,"date":"2022-05-27T16:39:20","date_gmt":"2022-05-27T09:39:20","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/?p=3180"},"modified":"2022-05-27T16:39:20","modified_gmt":"2022-05-27T09:39:20","slug":"fenomena-panic-buying-mengapa-bisa-terjadi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/2022\/05\/fenomena-panic-buying-mengapa-bisa-terjadi\/","title":{"rendered":"Fenomena Panic Buying: Mengapa Bisa Terjadi?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Halo, teman-teman! Kembali lagi dengan Psikopedia yang pastinya membahas tentang topik-topik menarik mengenai psikologi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Tidak terasa pandemi sudah berjalan selama 2 tahun. Masih ingat gak? waktu awal pandemi beberapa orang mengalami <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">panic buying<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> terhadap masker<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">, <\/span><\/i><em><span style=\"font-weight: 400\">hand sanitizer<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> dan sabun cuci tangan. Beberapa orang melakukan pembelian ketiga barang tersebut secara berlebihan, sehingga mengalami kelangkaan produk. Sekarang, yang sedang hangat diperbincangkan adalah kelangkaan minyak goreng. Hal ini dikarenakan minyak goreng mengalami penurunan harga sebab mendapatkan subsidi dari pemerintah. Ini menyebabkan sebagian orang membeli banyak minyak goreng untuk persediaan di masa mendatang. Fenomena tersebut disebut dengan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">panic buying.<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Apa itu <\/b><b><i>panic buying?\u00a0<\/i><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Panic buying<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> adalah aktivitas membeli barang secara berlebihan karena khawatir akan sesuatu hal buruk terjadi. Seseorang yang melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">panic buying<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> akan menyimpan barang-barang yang dibutuhkan untuk waktu yang lama. Hal ini memunculkan beberapa kebijakan yang mampu menanggulangi kegiatan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">panic buying<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> ini. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membatasi pembelian pada suatu produk. Contohnya pada minyak goreng, dalam satu toko hanya diperbolehkan membeli 2 buah minyak goreng.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Apa yang membuat orang menjadi <\/b><b><i>panic buying<\/i><\/b><b>?\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">1. Kecemasan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Anticipatory<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kecemasan antisipatori adalah kecemasan atau ketakutan seseorang yang dialami saat kejadian itu belum berlangsung. Misalnya, seseorang yang mengalami <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">panic buying<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> mengalami kecemasan akan terkena infeksi virus corona jika ia tidak mendapatkan barang tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400\">2. Herd Mentality<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Herd mentality<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> adalah ketika seseorang menginterpretasikan bahaya situasi berdasarkan bagaimana orang lain beraksi. Dalam kasus <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">panic buying<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">, ketika seseorang\u00a0 melihat banyak orang yang membeli suatu barang, maka ia akan mengikuti perilaku tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">3. Informasi palsu dan penyebaran rumor yang tidak benar<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Di era sekarang, informasi akan menyebar dengan cepat. Informasi tersebar dengan cepat, baik berita yang benar maupun berita tidak benar. <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Panic buying<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> dapat terjadi ketika masyarakat sudah terkena rumor yang salah. Contohnya, pada awal masa corona, terdapat rumor bahwa susu suatu merek bisa menyembuhkan virus corona. Nyatanya, susu tersebut tidak dapat menyembuhkan virus corona, hanya saja susu tersebut bisa meningkatkan imun tubuh.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Bagaimana cara menghindari <\/b><b><i>panic buying<\/i><\/b><b>?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">1. Memilih informasi yang benar<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Di tengah pandemi ini, kita harus pintar dalam memilih informasi. Penting bagi kita untuk membaca informasi yang berasal dari sumber yang terpercaya, sehingga kita dapat membedakan informasi yang benar-benar akurat dengan informasi hoax.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">2. Membeli secukupnya<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Membeli barang secukupnya dan sesuai kebutuhan akan membuat kita terhindar dari <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">panic buying<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">. Salah satu caranya adalah dengan membuat daftar apa saja yang harus dibeli sebelum pergi berbelanja. Ini membantu kita agar membeli barang sesuai yang ada di dalam daftar tersebut. Perlu diingat bahwa kebutuhan dengan keinginan merupakan hal yang berbeda, sehingga ketika kita ingin berbelanja beli yang memang benar-benar menjadi kebutuhan kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">3. Peduli dengan sesama\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Perlu diingat bahwa masih banyak masyarakat yang membutuhkan barang pokok tersebut. Adanya <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">panic buying,<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> membuat masyarakat kesulitan untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan, sebab barang tersebut sudah habis dibeli oleh masyarakat yang menjadi korban <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">panic buying<\/span><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Nah teman-teman, apabila kita sudah mengetahui bagaimana cara menghindari <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">panic buying<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">, kita tidak akan menjadi korban <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">panic buying<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> lagi, lho! Bagaimanapun situasi kita saat ini, aku berharap teman-teman tidak melakukan <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">panic buying<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> lagi ya! Semua orang mempunyai kebutuhan masing-masing. Oleh karena itu, yuk kita hindari fenomena <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">panic buying<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> ini!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Semoga topik Psikopedia kali ini bermanfaat untuk teman-teman semua, ya. Sampai jumpa di Psikopedia selanjutnya. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Stay safe<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> teman-teman!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Referensi:<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Heshmat, S. (2022). 7 Reasons for Panic-Buying Behavior. Diakses pada tanggal 2 April 2022, from <\/span><a href=\"https:\/\/www.psychologytoday.com\/intl\/blog\/science-choice\/202003\/7-reasons-panic-buying-behavior\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.psychologytoday.com\/intl\/blog\/science-choice\/202003\/7-reasons-panic-buying-behavior<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Indah, A. V., &amp; Muqsith, A. Panic Buying: Konsumerisme Masyarakat Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19 Perspektif Psikoanalisis Jacques Lacan. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Jurnal Filsafat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">31<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(1), 24-48.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Klm, J. (2022). Why We Panic Buy and What We Should Do Instead. Diakses pada tanggal\u00a0 2 April 2022, from <\/span><a href=\"https:\/\/www.psychologytoday.com\/intl\/blog\/valley-girl-brain\/202003\/why-we-panic-buy-and-what-we-should-do-instead\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.psychologytoday.com\/intl\/blog\/valley-girl-brain\/202003\/why-we-panic-buy-and-what-we-should-do-instead<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Penulis: Andini Titis Galih U.<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Halo, teman-teman! Kembali lagi dengan Psikopedia yang pastinya membahas tentang topik-topik menarik mengenai psikologi.\u00a0 Tidak terasa pandemi sudah berjalan selama 2 tahun. Masih ingat gak? waktu awal pandemi beberapa orang mengalami panic buying terhadap masker, hand sanitizer dan sabun cuci tangan. Beberapa orang melakukan pembelian ketiga barang tersebut secara berlebihan, sehingga mengalami kelangkaan produk. Sekarang, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":3176,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-3180","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-psikopedia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3180","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3180"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3180\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3181,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3180\/revisions\/3181"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3176"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3180"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3180"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3180"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}