    {"id":2761,"date":"2021-10-19T18:51:27","date_gmt":"2021-10-19T11:51:27","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/?p=2761"},"modified":"2021-10-19T18:51:27","modified_gmt":"2021-10-19T11:51:27","slug":"peran-orang-tua-terhadap-stres-akademik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/2021\/10\/peran-orang-tua-terhadap-stres-akademik\/","title":{"rendered":"Peran Orang Tua terhadap Stres Akademik"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><b>Peran Orang Tua terhadap Stres Akademik<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Halo, teman-teman! Bertemu lagi di artikel Psikopedia untuk bulan Oktober yang tentunya tidak kalah seru dan insightful dari artikel-artikel Psikopedia lainnya yang setiap bulannya membahas topik-topik seputar psikologi. Artikel ini akan membahas mengenai peran orang tua terhadap stres akademik yang dimiliki oleh siswa maupun mahasiswa. Bagaimana, teman-teman? Penasaran, tidak? Yuk, langsung saja simak baik-baik artikel di bawah ini!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Definisi stres akademik<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Stres pada umumnya dapat didefinisikan sebagai respon psikologis individu ketika menghadapi tantangan hidup yang memberikan beban kepada hidup individu tersebut dan tidak memenuhi harapan atau ekspektasi mereka sehingga kesejahteraan hidupnya terganggu (Mumpuni &amp; Wulandari, 2010).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Stres akademik adalah ketegangan yang dimiliki pelajar dikarenakan tuntutan akademik yang melampaui batas kemampuan pelajar (Wilks, 2008).\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Faktor-faktor yang mempengaruhi stres akademik<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Secara umum, ada dua faktor besar yang mempengaruhi stres akademik, yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Puspitasari, W. 2013; Gunawati, R., Hartati, S., &amp; Listiara, A. 2010). Faktor internal yang mengakibatkan stres akademik meliputi pola pikir, kepribadian, dan keyakinan individu. Dalam sisi lain, faktor eksternal meliputi:<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Pelajaran makin padat<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kompetisi atau persaingan semakin ketat karena meningkatnya standar sistem pendidikan.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Tekanan untuk memiliki prestasi yang tinggi<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pelajar merasa tertekan oleh orang-orang sekitar seperti orang tua, keluarga besar, teman, dan lain-lain untuk meraih prestasi yang tinggi.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Dorongan status sosial<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pencapaian di bidang pendidikan telah menjadi simbol status sosial, di mana mereka yang berpendidikan tinggi dipandang tinggi, sedangkan mereka yang tidak akan memiliki status sosial yang rendah.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Perlombaan antar orang tua<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada era di mana persaingan pencapaian akademik maupun non akademik itu tinggi, orang tua yang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi rentan menjadikan pencapaian anaknya menjadi suatu persaingan dengan pencapaian anak dari orang tua lainnya yang memiliki latar belakang yang sama.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Dampak tekanan akademik dari orang tua<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Berdasarkan <\/span><span style=\"font-weight: 400\">survei yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), 73,2 persen anak merasa terbebani oleh\u00a0 tugas dan 77,8 persen anak merasa kelelahan mengerjakan tumpukan tugas yang diberikan guru untuk dikerjakan dalam waktu yang tergolong singkat. Menurut Jajak Pendapat PEKA I Unicef Indonesia x CIMSA Indonesia, 38% anak dengan rentang usia 15-19 tahun merasa tertekan oleh orang tua.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Karena orang tua merupakan sosok yang dapat dikatakan sebagai sosok terdekat dengan pelajar, perilaku orang tua akan memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan perilaku sosok yang tidak dekat. Maka dari itu, tuntutan untuk mendapatkan nilai yang bagus, tidak pernah memberikan apresiasi atas pencapaiannya, seringnya membandingkan anak dengan anak lain, dan kurangnya dukungan dari orang tua dapat menurunkan motivasi individu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Keunggulan akademik memang dijunjung tinggi, terutama karena secara realita persaingan memang sangat ketat. Hal tersebut sudah menyebabkan tekanan bagi pelajar, ditambah dengan tekanan dari orang tua, tekanan tersebut dapat menyebabkan stres, kecemasan, bahkan depresi. Terutama pada era pandemi ini, di mana pelajar diharuskan untuk dapat beradaptasi dengan sistem pembelajaran yang mungkin masih asing bagi sebagian besar dari mereka. Maka dari itu, dukungan dari orang tua dalam menciptakan lingkungan rumah yang kondusif dapat membantu pembelajaran mereka.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Hal-hal yang dapat dilakukan orang tua<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meminimalkan stres akademik di anak, antara lain:<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Memberikan anak waktu untuk bermain dan kebebasan mengembangkan kreativitas dan keterampilan<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Penting untuk anak meluangkan waktu untuk bermain, bersenang-senang, dan mengembangkan minat dan bakatnya tanpa paksaan dari orang tua. Anak perlu mencari sendiri apa yang diminati agar anak juga bisa belajar untuk bertanggung jawab atas pilihan sendiri.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Memberikan apresiasi dan dukungan<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Apresiasi dan dukungan dari orang tua dapat meningkatkan motivasi anak untuk terus semangat belajar dan tidak merasa cemas bahwa mereka tidak membanggakan orang tua. Penting bagi anak untuk mendapatkan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\"> reward <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">baik secara emosional maupun secara fisik ketika anak melakukan sesuatu yang positif. Selain itu, penting juga untuk meyakinkan anak agar tidak terdemotivasi ketika menghadapi kekalahan.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Membangun zona nyaman<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Agar orang tua dapat mengenali anak lebih dalam, penting bagi orang tua untuk membangun lingkungan yang suportif, kondusif, dan nyaman agar anak tidak perlu khawatir bahwa mereka akan dihakimi ketika bercerita secara terbuka mengenai masalah-masalah yang dialami.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Meminta bantuan profesional<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Jika orang tua melihat perubahan perilaku anak yang bersifat negatif atau mengkhawatirkan, orang tua dapat meminta bantuan profesional agar situasi dan masalah anak tertangani.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Bagaimana, teman-teman? <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Insightful<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, kan? Semoga teman-teman maupun orang tua yang membaca artikel ini menjadi lebih sadar mengenai stres akademik dan dampaknya terhadap pelajar-pelajar. Selain itu, semoga tips-tips di atas dapat membantu mengurangi atau menghindari stres akademik. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">See you<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> di artikel selanjutnya, ya!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Referensi:<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Barseli, M., &amp; Ifdil, I. (2017). Konsep Stres Akademik Siswa. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Jurnal Konseling Dan Pendidikan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">5<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(3), 143. <\/span><a href=\"https:\/\/doi.org\/10.29210\/119800\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/doi.org\/10.29210\/119800<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Mulawarman, S. U. (2020). Stres Akademik, Peran Kuliah Daring hingga Tekanan Orang Tua. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Sketsa Universitas Mulawarman<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.sketsaunmul.co\/berita-kampus\/stres-akademik-peran-kuliah-daring-hingga-tekanan-orang-tua\/baca\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.sketsaunmul.co\/berita-kampus\/stres-akademik-peran-kuliah-daring-hingga-tekanan-orang-tua\/baca<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Putri, R. Q. D. &amp; Wijaya, H. E. (2018). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">KESEHATAN SOSIAL\u2212EMOSIONAL DAN STRES AKADEMIK PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS DI SMA NEGERI 2 BALIKPAPAN<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Diakses dari <\/span><a href=\"https:\/\/dspace.uii.ac.id\/bitstream\/handle\/123456789\/9539\/08.%20naskah%20publikasi.pdf?sequence=20&amp;isAllowed=y\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/dspace.uii.ac.id\/bitstream\/handle\/123456789\/9539\/08.%20naskah%20publikasi.pdf?sequence=20&amp;isAllowed=y<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Santosa, L. W. (2020, July 24). Tekanan akademis salah satu alasan anak bisa kena gejala depresi. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Antara News<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/1630270\/tekanan-akademis-salah-satu-alasan-anak-bisa-kena-gejala-depresi\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/1630270\/tekanan-akademis-salah-satu-alasan-anak-bisa-kena-gejala-depresi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sinha, A. (2016, May 2). Parental pressure: A fine line between caring and caring too much. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">The Jakarta Post<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.thejakartapost.com\/life\/2016\/05\/02\/parental-pressure-a-fine-line-between-caring-and-caring-too-much.html\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.thejakartapost.com\/life\/2016\/05\/02\/parental-pressure-a-fine-line-between-caring-and-caring-too-much.html<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Tim. (2019, September 20). Tuntutan Akademik, Picu Stres Hingga Bunuh Diri Pada Remaja. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">CNN Indonesia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/gaya-hidup\/20190913104019-255-430148\/tuntutan-akademik-picu-stres-hingga-bunuh-diri-pada-remaja\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.cnnindonesia.com\/gaya-hidup\/20190913104019-255-430148\/tuntutan-akademik-picu-stres-hingga-bunuh-diri-pada-remaja<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Penulis: Talulla Salma<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Peran Orang Tua terhadap Stres Akademik Halo, teman-teman! Bertemu lagi di artikel Psikopedia untuk bulan Oktober yang tentunya tidak kalah seru dan insightful dari artikel-artikel Psikopedia lainnya yang setiap bulannya membahas topik-topik seputar psikologi. Artikel ini akan membahas mengenai peran orang tua terhadap stres akademik yang dimiliki oleh siswa maupun mahasiswa. Bagaimana, teman-teman? Penasaran, tidak? [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":2754,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-2761","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-psikopedia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2761","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2761"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2761\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2762,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2761\/revisions\/2762"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2754"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2761"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2761"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2761"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}