    {"id":2750,"date":"2021-10-19T18:45:36","date_gmt":"2021-10-19T11:45:36","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/?p=2750"},"modified":"2021-10-19T18:48:07","modified_gmt":"2021-10-19T11:48:07","slug":"toksisitas-hustle-culture","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/2021\/10\/toksisitas-hustle-culture\/","title":{"rendered":"Toksisitas Hustle Culture"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><b>Toksisitas<\/b><em><b> Hustle Culture<\/b><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Halo, semua! Kembali lagi di artikel Psikopedia untuk bulan Oktober yang tentunya akan membahas mengenai topik-topik seputar Psikologi yang tidak pernah mengecewakan dan tentunya menarik. Artikel ini akan membahas mengenai fenomena <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">hustle culture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> serta hubungannya dengan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\"> toxic productivity<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang dapat memberikan dampak psikologis yang negatif kepada individual. Wah, menarik kan? Yuk, langsung saja kita baca artikelnya!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Definisi \u2018<\/b><b><i>Hustle Culture<\/i><\/b><b>\u2019<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Hustle Culture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, atau budaya hiruk pikuk, merupakan sebuah standar yang ditetapkan oleh masyarakat di mana kesuksesan hanya dapat dicapai jika seseorang mengerahkan diri pada kapasitas maksimum mereka. Alhasil, mereka perlu mencurahkan sebagian besar dari keseharian mereka kepada pekerjaan atau studi mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sejak kapan sih fenomena maraknya budaya hiruk pikuk ini muncul? Fenomena ini pertama ditemukan pada tahun 1971, terutama pada kalangan milenial.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Latar belakang <\/b><b><i>hustle culture<\/i><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Budaya hiruk pikuk ini juga dikenal sebagai \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Burnout Culture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">\u201d, \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Workaholism<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">\u201d, dan \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Toxic Productivity<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">\u201d. Sepintas, itu tampak seperti budaya yang sangat memotivasi, mendorong orang untuk bekerja keras untuk mencapai hasil maksimal dan Anda dapat berhasil jika Anda bekerja cukup keras. Namun, ini juga berarti tidak tidur, bekerja 24\/7, dan tidak menjalani kehidupan yang seimbang.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Media sosial pun memerankan peran yang penting dalam mengglorifikasikan budaya ini. Terutama di masa pandemi, di mana pekerjaan dan sekolah di lakukan di rumah, sudah tidak ada batasan antara bekerja, belajar, dan bersantai. Banyak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">quotes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang beredar di media sosial mengenai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">hustle culture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang memiliki inti bahwa \u201cJika Anda tidak keluar dari karantina ini dengan keterampilan baru, kesibukan sampingan Anda dimulai, atau lebih banyak pengetahuan yang diperoleh &#8230; maka Anda kekurangan disiplin, bukan waktu\u201d yang akhirnya memberikan dampak buruk terhadap kesehatan mental individu dan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Isu dari <\/b><b><i>hustle culture<\/i><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Di dunia yang mempromosikan gaya hidup yang sangat kompetitif dan serba cepat, budaya hiruk pikuk menjadi norma dan sarana untuk bertahan hidup di tempat kerja, maupun di dunia perkuliahan. Seperti yang dikutip oleh Tesla dan CEO SpaceX, Elon Musk, &#8220;Ada tempat yang jauh lebih mudah untuk bekerja, tetapi tidak ada yang pernah mengubah dunia dalam 40 jam seminggu.&#8221; Pernyataan ini mendukung budaya hiruk pikuk, mempromosikan gagasan bahwa bekerja 40 jam seminggu tidak hanya cukup untuk membuat dampak pada dunia saat ini. Dia percaya bahwa jumlah standar jam kerja harus 80 jam per minggu dan memuncak pada 100 jam.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Budaya hiruk pikuk ini bersifat eksploitatif. Meyakinkan orang-orang bahwa mereka yang bekerja terlalu keras adalah apa yang dibutuhkan untuk menjadi sukses. Banyak orang yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">hustling<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> begitu keras karena adanya tekanan finansial, pencarian minat, serta tekanan untuk mencari pekerjaan yang dapat menghasilkan penghasilan yang stabil di era di mana pasar kerja semakin kompetitif. Di Indonesia, 1 dari 3 pekerja menderita gangguan kesehatan mental karena terlalu banyak bekerja sendiri. Bahkan, pada tahun 2013, seorang pekerja yang bernama Mita Diran yang bekerja di salah satu perusahaan di Indonesia meninggal dunia setelah mengalami koma akibat bekerja selama 30 jam tanpa henti.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Dampak dari <\/b><b><i>hustle culture<\/i><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Budaya hiruk pikuk mengabaikan kesehatan dan kebutuhan mental masyarakat, seperti istirahat, makan, tidur, minum, dll. Apa yang dilakukan adalah menciptakan tekanan psikologis, membawa perasaan bersalah, mengasihani diri sendiri, kebencian, kemarahan, emosi terpendam, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">self-talk<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> negatif, perasaan berlebihan, harapan yang tidak realistis, perbandingan, dan rasa gagal. Tekanan untuk terus-menerus bersaing dan memastikan untuk berhasil pada era yang serba cepat ini di mana orang-orang dipaksa oleh keluarga dan teman-teman mereka untuk mencapai pencapaian pekerjaan dan akademis, serta meremehkan dan mengabaikan trauma yang dialami orang selama pandemi ini mempengaruhi mental dan kesehatan mereka.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Beberapa masalah kesehatan yang disebabkan oleh budaya yang tidak sehat ini adalah kelelahan atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">burnout<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, stres kronis, depresi, kecemasan, serta penyakit kardiovaskular. Apa itu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">burnout<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">? <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Burnout<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> adalah ketika stres yang berlebihan dan berkepanjangan menyebabkan keadaan kelelahan fisik, emosional, dan mental.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Cara memiliki produktivitas yang sehat<\/b><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400\">Menyadari bahwa kita memiliki produktivitas yang tidak sehat<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Jika kalian menyadari bahwa kalian sering memiliki perasaan bersalah yang berhubungan dengan pekerjaan kalian, sering merasa bahwa kalian harus selalu sibuk dan melakukan sesuatu, dan mengabaikan kebutuhan-kebutuhan dasar seperti tidur, kalian sudah menyadari bahwa kalian mengalami produktivitas yang tidak sehat. Alhasil, kalian bisa mulai mencari solusi untuk menghindari toksisitas tersebut.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Self-care<\/span><\/i><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Usahakan untuk berupaya lebih dalam menyempatkan kegiatan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">self-care<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> atau kegiatan-kegiatan yang kalian nikmati, baik itu menonton film, menggambar, yoga, senam, lari pagi, dan lain-lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Atur waktu<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dengan mengatur waktu, tugas-tugas serta tanggung jawab yang kalian miliki tidak akan bertumpuk. Bertumpuknya tugas-tugas dapat membuat kalian kewalahan dan makin letih.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400\">Menentukan skala prioritas<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Jika kalian mengurutkan kepentingan kalian ke dalam sebuah skala prioritas, kalian dapat menentukan yang mana yang perlu kalian lakukan di waktu yang dekat, dan mana yang bisa didelegasikan, atau bahkan kalian lepas. Karena tidak seluruhnya perlu kalian pegang sendiri.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Fleksibilitas<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Menyelesaikan tugas dan kepentingan berdasarkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">deadline<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> itu penting, namun penting juga untuk kalian memiliki fleksibilitas, di mana kalian tidak terpaku atas suatu<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\"> deadline<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\"> fixed<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Karena ketidak fleksibilitas an tersebut dapat membuat kalian lebih stres, dan dapat menimbulkan rasa-rasa bersalah jika seandainya kalian tidak mampu menyelesaikannya di waktu yang sudah ditentukan oleh diri kalian sendiri.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Hustle culture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> memang sudah menjadi budaya yang menjadi semakin marak pada era sekarang ini. Maka dari itu, penting sekali untuk pelajar-pelajar Indonesia serta masyarakat Indonesia secara general untuk mementingkan kesehatan mental dan kesehatan fisik masing-masing juga agar tidak mengalami dampak-dampak buruk dari bekerja berlebihan dan produktivitas yang tidak sehat. Semoga artikel ini dapat membantu kalian menyadari bahaya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">toxic productivity<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dan mendorong kalian untuk memulai mengimplementasikan produktivitas yang sehat, ya! Sampai jumpa di artikel berikutnya!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Referensi:<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">BBC News Indonesia. (2021, Juli 13). Mengapa kita memuja \u201ckerja berlebihan\u201d? <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">BBC NewsIndonesia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.bbc.com\/indonesia\/vert-cap-57799771\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.bbc.com\/indonesia\/vert-cap-57799771<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Griffith, E. (2019, Januari 26). Why Are Young People Pretending to Love Work? <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">The New York Times<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.nytimes.com\/2019\/01\/26\/business\/against-hustle-culture-rise-and-grind-tgim.html\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.nytimes.com\/2019\/01\/26\/business\/against-hustle-culture-rise-and-grind-tgim.html<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Jalbert, M. (2021b, Februari 4). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">\u201cWhat is \u2018Hustle Culture\u2019 and How Do We Break It?\u201d [Creator\u2019s Block, Ep. 102]<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. IMPACT. URL: <\/span><a href=\"https:\/\/www.impactplus.com\/blog\/what-is-hustle-culture-and-how-do-we-break-it-ep-102\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.impactplus.com\/blog\/what-is-hustle-culture-and-how-do-we-break-it-ep-102<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Komunitas Kala Krisis Keluarga Besar Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. (2020, September 2). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Mengenal Hustle Culture, Budaya Gila Kerja Generasi Muda | Kedokteran &#8211; Universitas Airlangga<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Fakultas Kedokteran UNAIR. <\/span><a href=\"https:\/\/fk.unair.ac.id\/mengenal-hustle-culture-budaya-gila-kerja-generasi-muda\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/fk.unair.ac.id\/mengenal-hustle-culture-budaya-gila-kerja-generasi-muda\/<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Lorelie, C. (2020, Desember 28). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Hustle Culture: Why Is Everyone Working Too Hard? &#8211; The Post-Grad Survival Guide<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Medium. <\/span><a href=\"https:\/\/medium.com\/the-post-grad-survival-guide\/hustle-culture-why-is-everyone-working-too-hard-69f9f5331ab5\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/medium.com\/the-post-grad-survival-guide\/hustle-culture-why-is-everyone-working-too-hard-69f9f5331ab5<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Mukhtar, S. (2020). Psychological health during the coronavirus disease 2019 pandemic outbreak. International Journal of Social Psychiatry. URL: <\/span><a href=\"https:\/\/journals.sagepub.com\/doi\/10.1177\/0020764020925835\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/journals.sagepub.com\/doi\/10.1177\/0020764020925835<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Riz. (2017, Januari 25). `Kerja Maut` 30 Jam Mita Diran Disorot Dunia. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">liputan6.com<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.liputan6.com\/global\/read\/777243\/kerja-maut-30-jam-mita-diran-disorot-dunia\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.liputan6.com\/global\/read\/777243\/kerja-maut-30-jam-mita-diran-disorot-dunia<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Smith, M., Segal, J., &amp; Robinson, L. (2021, Oktober 5). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Burnout Prevention and Treatment<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. HelpGuide.Org. <\/span><a href=\"https:\/\/www.helpguide.org\/articles\/stress\/burnout-prevention-and-recovery.htm\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.helpguide.org\/articles\/stress\/burnout-prevention-and-recovery.htm<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Penulis: Talulla Salma<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Toksisitas Hustle Culture Halo, semua! Kembali lagi di artikel Psikopedia untuk bulan Oktober yang tentunya akan membahas mengenai topik-topik seputar Psikologi yang tidak pernah mengecewakan dan tentunya menarik. Artikel ini akan membahas mengenai fenomena hustle culture serta hubungannya dengan toxic productivity yang dapat memberikan dampak psikologis yang negatif kepada individual. Wah, menarik kan? Yuk, langsung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":2752,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-2750","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-psikopedia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2750","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2750"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2750\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2756,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2750\/revisions\/2756"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2752"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2750"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2750"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2750"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}