{"id":2611,"date":"2021-08-13T02:32:35","date_gmt":"2021-08-12T19:32:35","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/?p=2611"},"modified":"2021-08-13T12:55:11","modified_gmt":"2021-08-13T05:55:11","slug":"seberapa-kuat-nasionalitas-kita-siapa-kita-di-mata-dunia-dan-di-dalam-negeri-sendiri-proses-kedua-dan-ketiga-dari-identitas-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/2021\/08\/seberapa-kuat-nasionalitas-kita-siapa-kita-di-mata-dunia-dan-di-dalam-negeri-sendiri-proses-kedua-dan-ketiga-dari-identitas-sosial\/","title":{"rendered":"Seberapa Kuat Nasionalitas Kita: Siapa Kita di Mata Dunia dan di dalam Negeri Sendiri? \u2013 Proses Kedua dan Ketiga Dari Identitas Sosial"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><b>Seberapa Kuat Nasionalitas Kita: Siapa Kita di Mata Dunia dan di dalam Negeri Sendiri? \u2013 Proses Kedua dan Ketiga Dari Identitas Sosial<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u201c<\/span><b>Nasionalitas yang kuat<\/b><span style=\"font-weight: 400\">\u201d \u2013 Setelah kita sama-sama mempelajari bahwa Indonesia memiliki identitas sosial yang inklusif yaitu sebuah nasionalitas yang mengakui bahasa yang satu, bangsa yang satu, dan tumpah darah atau sejarah yang sama, maka kita seharusnya sudah paham bahwa nasionalitas itu harus kita jaga dan banggakan. Mengapa demikian? Alasannya sederhana namun memberikan dampak yang signifikan terhadap kestabilan bangsa. Alasannya adalah karena nasionalitas adalah sebuah komponen afektif yang di mana sebuah afeksi bisa saja mengalami perubahan ke arah negatif atau positif. Akan baik jika berkembang ke arah positif alias mengalami penguatan misalnya dengan tetap memakai produk buatan dalam negeri dan perilaku nasionalis lainnya, namun apabila mengalami pelemahan alias berkembang ke arah negatif tentu akan merusak kestabilan atau integritas nasional. Nasionalitas yang berkembang ke arah negatif merusak jati diri kita, identitas sosial kita di skala nasional atau lebih parahnya di skala dunia. Yang tadinya kita bersatu malah bisa saja mengalami perpecahan\u00a0 sehingga mengaburkan identitas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">ingroup <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">sebagai bangsa Indonesia yang satu. Oleh karena itu tugas kita adalah menguatkan identitas sosial atau nasionalitas itu sendiri. Lalu, bagaimana psikologi menjelaskan penguatan identitas sosial ini? Di artikel ini penulis akan menjelaskan bagaimana proses kedua identitas sosial yaitu identifikasi dan ketiga yaitu komparasi mempengaruhi nasionalitas sebagai identitas sosial.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Definisi identifikasi dan komparasi<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sebelum berlanjut ke definisinya, perlu diingat bahwa identitas sosial berhubungan langsung dengan komponen diri (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">the self<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">). Komponen diri ini adalah komponen yang mendefinisikan siapa diri kita; siapa kita sebagai manusia. Proses kedua pembentuk identitas sosial yaitu identifikasi didefinisikan sebagai proses pendalaman tentang siapa diri kita; proses mengenali dan evaluasi diri sendiri dan hubungan diri kita dengan orang lain. Penyebab kita melakukan identifikasi atau evaluasi diri adalah karena diri kita (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">the self<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) tepatnya harga diri kita (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">self esteem<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) membutuhkan evaluasi yang positif sebagai kebutuhan dasar manusia melalui hal positif yang unik atau menjadi pembeda (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">positive distinctiveness<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) dari orang atau kelompok lain (<\/span><span style=\"font-weight: 400\">Tim Penulis Ikatan Psikologi Sosial, 2017)<\/span><span style=\"font-weight: 400\">. Evaluasi unik dan positif itu bisa berupa kualitas individu atau kelompok. Definisi ini mengingatkan penulis dengan hirarki Maslow yang mengatakan bahwa kebutuhan akan pemenuhan harga diri adalah salah satu kebutuhan dasar. Evaluasi positif ini menguatkan jati diri individu atau kelompok yang digabungi (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">ingroup<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">).\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Proses ketiga pembentuk identitas sosial yaitu komparasi berbeda dengan identifikasi namun berhubungan langsung. Implikasinya adalah jika identifikasi berarti melakukan evaluasi positif ke dalam diri agar harga diri individu atau kelompok menguat, maka komparasi bertujuan sama namun dilakukan ke arah luar atau ke <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">outgroup<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Komparasi dilakukan dengan membandingkan diri dengan kelompok lain dan memandang diri atau kelompok <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">ingroup <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">dengan positif sebagai bentuk evaluasi agar menguatkan jati diri individu atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">ingroup<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (<\/span><span style=\"font-weight: 400\">Tim Penulis Ikatan Psikologi Sosial, 2017)<\/span><span style=\"font-weight: 400\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Identifikasi dan komparasi untuk menguatkan sehingga mempertahankan jati diri bangsa di skala nasional dan internasional<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Berdasarkan alur pikir di atas, maka sudah seharusnya kita menjaga nasionalitas kita dengan melakukan identifikasi dan komparasi. Dengan niat baik, identifikasi bisa membantu kita sebagai bangsa yang beragam tapi satu untuk memperkuat nasionalitas. Identifikasi atau melakukan evaluasi positif berarti kita bisa membeli barang dalam negeri agar turut serta memajukan ekonomi negeri, bangga ketika melihat ada WNI yang mengharumkan nama Indonesia di luar atau dalam negeri, ikut memajukan Indonesia lewat penelitian, dan lain-lain. Perilaku nasionalis itu merupakan evaluasi positif dengan tujuan agar menguatkan harga diri (nasionalitas) bahwa kita juga mampu. Misalnya dengan mengenal dan membeli barang dalam negeri (evaluasi positif) bertujuan untuk memperkuat eksistensi produk lokal dan memajukannya (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">self esteem need<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">). Tentu dengan adanya respon positif dari pasar maka produsen dalam negeri tentu akan bangga dan merasa dihargai. Dengan melakukan identifikasi, kita menyadari potensi diri (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">positive distinctiveness<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) seperti kualitas produk atau SDM kita sesungguhnya. Di saat yang bersamaan kita juga bisa membandingkan diri apakah nasionalitas kita sudah baik. Apakah kita sudah mengakui kualitas SDA dan SDM dalam negeri dan apakah lebih baik atau lebih buruk dibanding negara lain? Jika sudah baik maka pertahankan dan kembangkan dan jika lebih buruk atau belum tercapai maka terus berjuang (evaluasi positif) agar nasionalitas kita tetap terjaga. Mari kita jadikan Hari Kemerdekaan nanti sebagai momentum kita untuk merenungkan (identifikasi) dan mulai beraksi demi menjaga nasionalitas (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">self esteem need<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">)!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Referensi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Tim Penulis Ikatan Psikologi Sosial. (2017). Teori Psikologi Sosial Kontemporer. (1st ed.). Jakarta: Rajawali Pers.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Penulis: Robertus Belarminus Ananda Putra Prasantyo<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seberapa Kuat Nasionalitas Kita: Siapa Kita di Mata Dunia dan di dalam Negeri Sendiri? \u2013 Proses Kedua dan Ketiga Dari Identitas Sosial \u201cNasionalitas yang kuat\u201d \u2013 Setelah kita sama-sama mempelajari bahwa Indonesia memiliki identitas sosial yang inklusif yaitu sebuah nasionalitas yang mengakui bahasa yang satu, bangsa yang satu, dan tumpah darah atau sejarah yang sama, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":2612,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-2611","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-psikopedia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2611","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2611"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2611\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2615,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2611\/revisions\/2615"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2612"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2611"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2611"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2611"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}