    {"id":2605,"date":"2021-08-13T02:27:51","date_gmt":"2021-08-12T19:27:51","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/?p=2605"},"modified":"2021-08-13T12:56:18","modified_gmt":"2021-08-13T05:56:18","slug":"2605","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/2021\/08\/2605\/","title":{"rendered":"Kita adalah Indonesia: Sebuah Nasionalitas \u2013 Menuju Proses Kedua dan Ketiga dari Identitas Sosial"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><b>Kita adalah Indonesia: Sebuah Nasionalitas \u2013 Menuju Proses Kedua dan Ketiga dari Identitas Sosial<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>\u201cNasionalitas\u201d \u2013 <\/b><span style=\"font-weight: 400\">Menjelang Hari Kemerdekaan 17 Agustus atau bahkan di waktu kapanpun ketika kita teringat negara dan bangsa kita yaitu Indonesia, kata ini selalu muncul pertama kali. Bisa dibilang kata ini meninggalkan kesan yang begitu berarti bagi kita semua. Faktanya memang membuktikan bahwa kata ini sudah terasosiasikan dengan mudah sehingga bisa menjelaskan mengapa kata ini menjadi kata <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">top of the mind <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(kata yang pertama kali muncul) menjelang Hari Kemerdekaan 17 Agustus atau tiap kali kita teringat negara dan bangsa kita Indonesia. Asosiasi itu tentu terjadi karena penanaman nilai yang sangat kuat sedari dini lewat pendidikan dasar kewarganegaraan dari SD \u2013 SMA yang mengalami perubahan nama berkali-kali sehingga beberapa generasi mengenalnya dengan istilah PPKn, PKn, atau istilah lainnya. Menariknya ketika penulis sedang mempelajari identitas sosial dan merenungkan tentang Hari Kemerdekaan yang akan tiba, ternyata terdapat hubungan yang menarik antara sebuah nasionalitas dengan identitas sosial. Di artikel ini penulis akan menjelaskan makna nasionalitas sebagai identitas sosial.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Definisi nasionalitas<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Untuk memberikan pemahaman dasar, penulis akan membedah arti \u201cnasionalitas\u201d. Nasionalitas bisa dibedah dari kata pembentuknya (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">base <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">form) yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">nation <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">atau bangsa dan kata akhiran (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">suffix<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) \u201c-itas\u201d yang berarti suatu bentuk turunan dari nasionalisme. Nasionalisme sendiri adalah suatu paham yang terdiri dari komponen pembentuk utamanya yaitu keanggotaan yang sama tentang suatu negara yang dimiliki bersama sehingga nasionalisme berarti suatu paham tentang keanggotaan yang sama yaitu bangsa yang sama, bahasa yang sama, sejarah yang sama, dan wilayah yang diakui bersama. Nasionalisme dalam sejarah Indonesia tertuang pada Sumpah Pemuda. Definisi nasionalisme yang merupakan suatu paham (kognitif) itu membentuk suatu komponen afektif (emosi dan perasaan) yaitu nasionalitas\/kebangsaan yang berarti sebuah bentuk perasaan tentang persatuan suatu bangsa. Contoh dari nasionalitas itu terwujud dalam perasaan bangga, senang, atau terharu ketika mendengar Indonesia Raya, mendengar nama Indonesia diharumkan di luar negeri, dan perilaku atau peristiwa membanggakan lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Lalu bagaimana sebuah nasionalitas disebut sebagai identitas nasional?<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sindic (2011) mengatakan bahwa suatu kewarganegaraan berasal dari suatu identitas diri meskipun seseorang tidak berasal dari identitas yang homogen. Agar dapat menjadi seorang warga negara maka harus mempunyai suatu identitas diri yang mewakili suatu bangsa. Ini berarti terdapat dua identitas: (1) identitas tentang perasaan yang sama dan (2) identitas yang berbeda atau unik. Ini berarti juga menunjukkan bahwa di atas identitas suatu warga kelompok\/kategori masyarakat yang beragam\/unik terdapat identitas yang lebih besar yang bersifat menyatukan yaitu nasionalitas sebagai warga dan bangsa Indonesia. Pernyataan Sindic secara tidak langsung menegaskan bahwa keberagaman unik di Indonesia justru bisa dipersatukan karena meskipun kita hidup di tengah identitas yang beragam namun ternyata di dalam perbedaan identitas itu kita punya identitas yang sama yaitu nasionalitas. Menganggap dirinya merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Identitas bangsa Indonesia ini berarti menguatkan identitas bangsa secara inklusif dan mempersatukan perbedaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Kesimpulannya dan hubungannya dengan kategorisasi\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Nasionalitas berarti perasaan yang menyatukan dan oleh karena itu nasionalitas hanya terwujudkan dalam satu perasaan yang sama namun bisa diwujudkan dalam bentuk aksi yang berbeda. Nasionalitas, karena bersifat menyatukan, maka sangat logis jika dijadikan pilar utama dalam mempererat perbedaan di Indonesia yang warganya terdiri dari beragam budaya, letak geografis, dan kekayaan lainnya. Mengingat dari artikel sebelumnya yang berjudul \u201c<\/span><b>Kami dan Kita: Apa Bedanya? \u2013 Awalan untuk Mengenal Identitas Sosial<\/b><span style=\"font-weight: 400\">\u201d maka bangsa Indonesia adalah kelompok <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">ingroup<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Tidak heran nasionalitas ini sudah diwakilkan dengan kata ganti orang \u201ckami\u201d di Sumpah Pemuda untuk menunjukkan perlawanan kepada penjajah (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">outgroup<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) sehingga sekarang <\/span><b>kita<\/b><span style=\"font-weight: 400\"> dengan bebas bisa menggantikan kata ganti \u201ckami\u201d dengan \u201ckita\u201d karena <\/span><b>kita <\/b><span style=\"font-weight: 400\">semua sudah terbebas dari belenggu penjajah dan menganggap kategorisasi dalam masyarakat hanyalah kategori yang bertujuan supaya kita dapat saling mengenal banyaknya suku dan bukan kategorisasi yang diskriminatif. Oleh karena itu bangsa Indonesia adalah identitas sosial kita semua yang patut dibanggai. <\/span><b>Kita adalah bangsa Indonesia<\/b><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Di kesempatan berikutnya penulis akan menjelaskan bagaimana nasionalitas ini terlibat dengan proses kedua pembentuk identitas sosial yaitu identifikasi dan ketiga yaitu komparasi. Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di artikel berikutnya menuju Hari Kemerdekaan Indonesia!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Referensi\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sindic, D. (2011). Psychological citizenship and national identity. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Journal of Community &amp; Applied Social Psychology<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">21<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(3), 202\u2013214. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1002\/casp.1093\">https:\/\/doi.org\/10.1002\/casp.1093<\/a><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Penulis: Robertus Belarminus Ananda Putra Prasantyo<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kita adalah Indonesia: Sebuah Nasionalitas \u2013 Menuju Proses Kedua dan Ketiga dari Identitas Sosial \u201cNasionalitas\u201d \u2013 Menjelang Hari Kemerdekaan 17 Agustus atau bahkan di waktu kapanpun ketika kita teringat negara dan bangsa kita yaitu Indonesia, kata ini selalu muncul pertama kali. Bisa dibilang kata ini meninggalkan kesan yang begitu berarti bagi kita semua. Faktanya memang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":2607,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-2605","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-psikopedia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2605","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2605"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2605\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2616,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2605\/revisions\/2616"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2607"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2605"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2605"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2605"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}