    {"id":2515,"date":"2021-07-10T09:00:41","date_gmt":"2021-07-10T02:00:41","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/?p=2515"},"modified":"2021-07-12T09:49:21","modified_gmt":"2021-07-12T02:49:21","slug":"kami-dan-kita-apa-bedanya-awalan-untuk-mengenal-identitas-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/2021\/07\/kami-dan-kita-apa-bedanya-awalan-untuk-mengenal-identitas-sosial\/","title":{"rendered":"Kami dan Kita: Apa Bedanya? \u2013 Awalan untuk Mengenal Identitas Sosial"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><strong>Kami dan Kita: Apa Bedanya? \u2013 Awalan untuk Mengenal Identitas Sosial<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201c<strong>Kami dan Kita<\/strong>\u201d \u2013 apa yang kalian pikirkan ketika membaca judul ini? Umumnya, orang cenderung berpikir tentang sebuah sebutan kata ganti dan pengelompokkan. Kata ganti orang ini memang bertujuan untuk mengidentifikasi dan membedakan posisi diri seseorang dengan lawan bicaranya. Tapi, apa sih hubungannya dengan identitas sosial?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Untuk mendahului pembahasan, kita perlu tahu dulu apa perbedaannya dari perspektif kebahasaan. Kata ganti orang jamak \u201ckita\u201d bertujuan untuk mengidentifikasi dan mewakili sekumpulan orang (grup) yang bersifat inklusif (mengikutsertakan orang secara umum secara kontekstual). Misalnya, penyiar radio mengikutsertakan pendengarnya karena ingin mengajak pendengarnya untuk ikut menyukseskan vaksinasi, maka bisa berbunyi seperti \u201cYuk <em>listeners <\/em>mari kita <u>sukseskan<\/u> vaksinasi Gotong Royong\u201d. Di sisi satunya, ada kata ganti orang jamak \u201ckami\u201d bertujuan sama namun kali ini bersifat eksklusif (mengecualikan kelompok tertentu dari kelompok internal). Misalnya kali ini, penyiar radio ingin mewakili dirinya bahwa sudah divaksin, maka bisa berbunyi seperti \u201cKami sekeluarga ABC Radio sudah vaksinasi loh <em>listeners<\/em>\u201d. Terdapat perbedaan fungsi yang jelas yang bergantung pada konteksnya. Konteks ini dipengaruhi oleh lawan bicara. Jika kita ingin mengecualikan lawan bicara, maka pakailah \u201dkami\u201d dan sebaliknya untuk \u201ckita\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Lalu, apa hubungannya dengan identitas sosial?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Teori identitas sosial pertama kali diperkenalkan oleh Tajfel pada tahun sekitar tahun 1970 (Tim Penulis Ikatan Psikologi Sosial, 2017). Awalnya, Tajfel termotivasi memahami identitas sosial karena dirinya pernah dipenjara oleh Nazi karena etnisnya yaitu Yahudi dari Polandia. Tajfel kemudian mendefinisikan identitas sosial sebagai pengetahuan seseorang tentang dirinya bahwa ia tergabung ke dalam kelompok sosial tertentu. Identitas sosial bisa dikenali dari proses pertama, yaitu kategorisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Baik ketika menggunakan kata ganti \u201ckami\u201d atau \u201ckita\u201d, seorang individu sebenarnya membedakan dua grup: <em>ingroup<\/em>(grup yang kita masuki) dan <em>outgroup <\/em>(grup yang di luar kita). Pembedaan dua grup ini disebut kategorisasi dan merupakan proses pertama dalam pembentukan sebuah identitas sosial (Tim Penulis Ikatan Psikologi Sosial, 2017). Identitas sosial seorang individu tidak terlepas dari memasukkan dirinya ke dalam suatu grup dan mengecualikan dirinya dari grup luar. Individu juga mengkategorisasi individu lain dengan kategori yang relevan. Misalnya, Andi memasukkan Jonathan ke dalam kelompok teman baik karena Jonathan selalu membantu Andi ketika kesulitan belajar statistika. Proses ini memberikan individu pengetahuan tentang batasan atau persyaratan ketika mengkategorikan dirinya dari orang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Bisa disimpulkan bahwa sesederhana penggunaan kata ganti ternyata bisa dijelaskan penyebabnya. Penyebabnya ada di kepada siapa seorang individu berbicara. Jika seorang individu berbicara kepada sesama anggota <em>ingroup<\/em>, maka dia bisa menggunakan \u201ckita\u201d dan sedangkan jika berbicara kepada anggota di luar grupnya, maka individu itu bisa menggunakan \u201ckami\u201d untuk mewakili keteranggotaan dirinya di dalam grup yang dia ikuti dari individu atau grup asing.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Di kesempatan berikutnya, penulis akan menjelaskan dua proses dari identitas sosial lainnya selain kategorisasi. Terima kasih dan sampai jumpa di artikel selanjutnya!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Referensi:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tim Penulis Ikatan Psikologi Sosial. (2017). Teori Psikologi Sosial Kontemporer. (1st ed.). Jakarta: Rajawali Pers.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Penulis: Robertus Belarminus Ananda Putra Prasantyo<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kami dan Kita: Apa Bedanya? \u2013 Awalan untuk Mengenal Identitas Sosial \u201cKami dan Kita\u201d \u2013 apa yang kalian pikirkan ketika membaca judul ini? Umumnya, orang cenderung berpikir tentang sebuah sebutan kata ganti dan pengelompokkan. Kata ganti orang ini memang bertujuan untuk mengidentifikasi dan membedakan posisi diri seseorang dengan lawan bicaranya. Tapi, apa sih hubungannya dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":2386,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-2515","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-psikopedia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2515","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2515"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2515\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2520,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2515\/revisions\/2520"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2386"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2515"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2515"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2515"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}