{"id":2423,"date":"2021-05-11T13:08:47","date_gmt":"2021-05-11T06:08:47","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/?p=2423"},"modified":"2021-05-16T17:29:58","modified_gmt":"2021-05-16T10:29:58","slug":"cerita-seorang-anak-rantau-bagaimana-sih-cara-menjalin-komunikasi-antar-budaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/2021\/05\/cerita-seorang-anak-rantau-bagaimana-sih-cara-menjalin-komunikasi-antar-budaya\/","title":{"rendered":"Cerita Seorang Anak Rantau: Bagaimana Sih Cara Menjalin Komunikasi antar Budaya?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><b>Cerita Seorang Anak Rantau: Bagaimana Sih Cara Menjalin Komunikasi antar Budaya?<\/b><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Halo, kawan-kawan! Gimana nih kabarnya kalian hari ini? Aku harap kalian dalam keadaan baik ya! Nah, topik kali ini aku mau membahas tentang komunikasi antar budaya nih, tapi kalian tau ga sih ini bakal bahas tentang apa?\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Aku cerita sedikit tentang pengalamanku ya. Aku asalnya dari Jawa Tengah karena ayahku pindah pekerjaan ke Jakarta. Aku dan keluarga pindah ke Jakarta saat aku menginjak TK. Pada saat masuk sekolah, aku ditertawakan teman sebaya aku karena mempunyai logat Jawa yang sangat kental. Aku sangat malu dan merasa kesulitan untuk bersosialisasi dengan teman sebaya aku. Pasti kalian juga sering dengar masalah-masalah seperti ini di kehidupan kuliah karena banyaknya anak yang harus merantau saat kuliah dan kesulitan juga untuk berinteraksi. Misalkan, Budi adalah orang asli Sumatera yang mempunyai logat nada tinggi dan ia harus pindah ke Jawa yang mempunyai logat lembut. Mau tidak mau, Budi harus menyesuaikan nada bicaranya agar orang lain tidak salah persepsi. Nah, sudah mulai mengerti kan? Jadi, aku mau membahas tentang perbedaan persepsi\u00a0 dalam komunikasi antar budaya menurut perspektif psikologi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Seringkali, perilaku komunikasi antar\u00a0individu tampak asing atau bahkan gagal untuk memenuhi\u00a0 tujuan komunikasi tertentu karena kita tidak memiliki pengetahuan yang luas mengenai latar belakang budaya orang lain. Akibatnya, kegagalan tersebut\u00a0memaksa para ilmuwan menyambungkan \u201cbudaya\u201d dan \u201ckomunikasi\u201d serta menjadikan komunikasi lintas budaya sebagai suatu bidang\u00a0 studi. Inheren dalam perpaduan ini adalah gagasan bahwa komunikasi lintas budaya memerlukan penelitian tentang budaya dan kesulitan-kesulitan komunikasi dengan pihak-pihak yang berbeda budaya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Apa sih itu komunikasi lintas budaya?<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Maletzke, seorang psikolog dari negeri Jerman, mendefinisikan komunikasi\u00a0 lintas\u00a0 budaya\u00a0 sebagai\u00a0 proses perubahan dalam mencari dan menemukan makna antar manusia yang berbeda budaya. Komunikasi lintas budaya terjadi ketika pengiriman pesan\u00a0 dari\u00a0 seseorang\u00a0yang\u00a0berasal dari satu budaya yang berbeda dengan pihak penerima pesan. Bila disederhanakan, komunikasi lintas budaya ini memberi penekanan pada aspek pemeberdayaan kebudayaan sebagai faktor yang menentukan bagi keberlangsungan proses komunikasi. Meskipun studi komunikasi lintas budaya ini membicarakan tentang persamaan dan perbedaan karakteristik kebudayaan antara pelaku-pelaku komunikasi, namun titik perhatian utamanya adalah <\/span><b>proses komunikasi antara individu-individu atau kelompok-kelompok\u00a0 dari\u00a0 kebudayaan berbeda yang mencoba untuk saling berinteraksi.<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Ternyata, psikologi juga mempunyai tanggapan lho tentang hal ini. Dalam perspektif psikologi, komunikasi dilihat sebagai alat dalam membentuk perilaku. Tolman yang merupakan psikolog dari Amerika menganggap bahwa ucapan manusia tidak\u00a0 lain\u00a0 adalah\u00a0 suatu\u00a0 alat\u00a0 yang sebetulnya tidak berbeda dengan alat-alat lain. Untuk \u00a0 memahami dunia\u00a0 dan tindakan-tindakan\u00a0 orang lain, kita harus memahami kerangka persepsinya. Oleh karena itu, kita harus belajar memahami bagaimana cara kita dan orang lain mempersepsikan dunia. Dalam komunikasi\u00a0 lintas budaya secara ideal, diharapkan banyak persamaan dalam pengalaman dan persepsi. Bisa kita lihat sebenarnya sangat penting untuk belajar kebudayaan yang ada di negeri ini guna memperlancar komunikasi antar masyarakat maupun individu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Nah, aku juga mau kasih tips-tips nih untuk bersosialisasi dan berkomunikasi antar budaya\u00a0 secara baik dan benar:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Yuk disimak tips-nya!<\/b><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Carilah komunitas dari daerah asalmu<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Jika kamu lebih nyaman dengan teman sedaerah, maka carilah teman di kampus yang berasal dari daerah atau pulau yang sama. Lebih baik lagi jika ada kakak tingkat agar kamu bisa meminta <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">tips and tricks <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">mencari teman di lingkungan barumu dengannya.Tetapi bukan berarti kamu menghindari budaya lain yah untuk bergaul denganmu.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Jangan banyak membandingkan<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Membandingkan kota lamamu dan kota yang sekarang kamu tempati tak akan membantumu sama sekali dalam beradaptasi. Terimalah bahwa sudah pasti banyak hal yang berbeda, tetapi kamu harus tetap bersikap positif dengan cara membuka diri dan pikiran terhadap pengalaman-pengalaman baru yang akan kamu lalui nantinya.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Mendekatkan diri dengan orang yang berasal dari lingkungan yang baru<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Bertemanlah dengan orang asli di kota perantauan kamu sekarang agar ia bisa mengantarkanmu ke tempat-tempat bagus atau wisata di kota tersebut, serta mengenalkanmu pada budaya asli di sana. Kamu juga akan membutuhkan bantuannya kalau kamu membutuhkan bantuan yang sifatnya mendesak seperti ke dokter atau ke bank maupun tempat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">fotocopy. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">Mereka pun pasti senang mendapat teman baru dari kota lain sepertimu sehingga kalian bisa saling bertukar cerita dan budaya dari daerah masing-masing.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Mengikuti organisasi<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Mengikuti organisasi adalah jalan yang baik untuk para perantau karena di sini setiap individu mau tidak mau harus berkenalan antar anggota organisasi tersebut. Hal ini baik untuk memperbanyak teman baru, saling memberi saran, dan saling bertukar cerita.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Jadi gimana nih kawan sudah mulai mengerti ya komunikasi antar budaya. Yuk, kita saling memahami satu sama lain. Jangan membeda-bedakan budaya, adat maupun agama. Jangan karena Indonesia mempunyai banyak sekali perbedaan, akhirnya kita menjadi retak. Seharusnya, kita tetap satu bangsa dan negara yaitu Indonesia. Kita jadikan perbedaan ini menjadi suatu kekayaan budaya di Indonesia sesuai semboyan kita, yaitu <\/span><b>\u201c<\/b><b>Bhineka Tunggal Ika\u201d <\/b><span style=\"font-weight: 400\">yang memiliki arti b<\/span><span style=\"font-weight: 400\">erbeda-beda tetapi tetap satu jua. Sampai jumpa di artikel selanjutnya ya, teman-teman. Karena pandemi ini belum berakhir, tetap patuhi protokol kesehatan yang ada ya!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Referensi<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Siregar, Lis Yulianti Syafrida. 2015. Perspektif Psikologi Dalam Komunikasi Lintas Budaya.<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\"> Jurnal UIN Mataram,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> 12, XX-XX<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Aulia Putri Fajria Nurrahma<\/b><br \/>\n<b>Penulis: Aulia Putri Fajria Nurrahma<\/b><span style=\"font-weight: 400\"><br \/>\n<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerita Seorang Anak Rantau: Bagaimana Sih Cara Menjalin Komunikasi antar Budaya? &nbsp; Halo, kawan-kawan! Gimana nih kabarnya kalian hari ini? Aku harap kalian dalam keadaan baik ya! Nah, topik kali ini aku mau membahas tentang komunikasi antar budaya nih, tapi kalian tau ga sih ini bakal bahas tentang apa?\u00a0 Aku cerita sedikit tentang pengalamanku ya. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":2386,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-2423","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-psikopedia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2423","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2423"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2423\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2427,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2423\/revisions\/2427"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2386"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2423"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2423"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpsiko\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2423"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}