    {"id":4471,"date":"2026-02-21T09:16:58","date_gmt":"2026-02-21T02:16:58","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/?p=4471"},"modified":"2026-02-21T09:16:58","modified_gmt":"2026-02-21T02:16:58","slug":"fenomena-silent-bullying-di-dunia-pendidikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/2026\/02\/fenomena-silent-bullying-di-dunia-pendidikan\/","title":{"rendered":"Fenomena Silent Bullying di Dunia Pendidikan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-4472 alignleft\" style=\"font-style: normal;font-weight: 400;font-family: 'Open Sans', Helvetica, Arial, sans-serif;font-size: 14px;text-align: justify\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-content\/uploads\/sites\/82\/2026\/02\/WhatsApp-Image-2026-02-21-at-09.04.19.jpeg\" alt=\"\" width=\"455\" height=\"349\" \/>Silent bullying<\/span><span style=\"font-weight: 400\"> adalah bentuk perundungan yang dilakukan secara tidak langsung dan sering kali tidak terlihat jelas oleh guru maupun orang tua. Perundungan ini tidak menggunakan kekerasan fisik, melainkan menyerang secara sosial dan emosional, seperti mengucilkan, menyindir, mempermalukan secara halus, atau sengaja mendiamkan seseorang dalam jangka waktu tertentu. Menurut <em>World Health Organization (WHO)<\/em>, <\/span><span style=\"font-weight: 400\"><em>bullying<\/em> merupakan perilaku <\/span><span style=\"font-weight: 400\">agresif yang dilakukan berulang kali dan melibatkan ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban. Artinya, ketika seseorang secara terus-menerus dibuat merasa lemah, tidak diterima, dan tidak berdaya di lingkungan sekolah, hal tersebut sudah termasuk bentuk perundungan meskipun tidak tampak secara fisik.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Ciri-ciri <\/span><span style=\"font-weight: 400\">silent bullying<\/span><span style=\"font-weight: 400\"> biasanya sulit dikenali karena sering dianggap sebagai masalah pertemanan biasa. Misalnya, seorang siswa sengaja tidak diajak masuk ke dalam kelompok belajar, tidak dilibatkan dalam diskusi kelas, atau dijadikan bahan bisikan dan gosip di belakangnya. Ada juga bentuk lain seperti ekspresi meremehkan, tertawa kecil saat korban berbicara, atau menyebarkan rumor secara diam-diam melalui media sosial. Dalam kajian psikologi, bentuk ini dikenal sebagai <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">relational bullying<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> karena tujuannya adalah merusak hubungan sosial korban dan membuatnya tersisih dari kelompok. Dampaknya bisa sangat menyakitkan karena pada dasarnya setiap anak membutuhkan rasa diterima, dihargai, dan diakui di lingkungan sosialnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">silent bullying<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> antara lain adanya kelompok pertemanan yang eksklusif dan ingin mempertahankan status sosialnya, kurangnya empati antar siswa, serta lemahnya pengawasan sekolah terhadap dinamika sosial di kelas. Laporan UNESCO menyebutkan bahwa lingkungan sekolah yang tidak memiliki kebijakan anti-<em>bullying<\/em> yang jelas cenderung membuat perundungan terselubung terus terjadi tanpa penanganan serius. Selain itu, faktor keluarga seperti kurangnya komunikasi, pola asuh yang keras, atau kurangnya penanaman nilai menghargai perbedaan juga dapat mempengaruhi perilaku anak, baik sebagai pelaku maupun korban.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Contoh kasus pernah dilaporkan oleh <em>Department for Education<\/em> di Inggris, di mana sejumlah siswa mengaku mengalami pengucilan secara sistematis oleh teman-temannya. Mereka tidak diundang dalam kegiatan kelompok, dikeluarkan dari percakapan, dan menjadi bahan pembicaraan di belakang. Meskipun tidak ada kekerasan fisik, para siswa tersebut merasa sangat tertekan, kehilangan rasa percaya diri, dan beberapa mengalami penurunan prestasi akademik karena tidak lagi merasa nyaman berada di sekolah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dampak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">silent bullying<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> bagi korban dalam jangka pendek dapat berupa rasa sedih, cemas, stres, sulit berkonsentrasi, dan enggan berinteraksi dengan teman. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi depresi, gangguan kecemasan, trauma sosial, bahkan keinginan untuk berhenti sekolah. Bagi pelaku, kebiasaan merendahkan atau mengucilkan orang lain dapat membentuk karakter yang kurang empati dan meningkatkan risiko perilaku agresif di masa depan. Jika fenomena ini terus terjadi, dunia pendidikan dapat mengalami penurunan kualitas suasana belajar, karena siswa merasa tidak aman dan tidak nyaman, sehingga proses pembelajaran menjadi kurang efektif dan hubungan antar siswa menjadi tidak sehat.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Untuk mencegah dan mengatasi <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">silent bullying<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">, siswa perlu dibiasakan untuk saling menghargai, berani membela teman yang dikucilkan, serta tidak takut melaporkan kejadian kepada guru atau konselor sekolah. Orang tua juga perlu menjaga komunikasi terbuka dengan anak agar dapat mengetahui perubahan perilaku yang mungkin menjadi tanda perundungan. Sekolah sebaiknya memiliki aturan yang tegas, program pendidikan karakter, serta layanan konseling yang mudah diakses. Kesimpulannya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">silent <\/span><\/i><em><span style=\"font-weight: 400\">bullying<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> memang tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya sangat nyata dan bisa berlangsung lama. Oleh karena itu, kerja sama antara siswa, orang tua, dan sekolah sangat penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan semua anak.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Centers for Disease Control and Prevention. (2023). <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Preventing bullying<\/span><span style=\"font-weight: 400\">. U.S. Department of Health &amp; Human Services.<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Crick, N. R., &amp; Grotpeter, J. K. (1995). Relational aggression, gender, and social-psychological adjustment. <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Child Development, 66<\/span><span style=\"font-weight: 400\">(3), 710\u2013722.<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Espelage, D. L., &amp; Swearer, S. M. (2003). Research on school bullying and victimization: What have we learned and where do we go from here? <\/span><span style=\"font-weight: 400\">School Psychology Review, 32<\/span><span style=\"font-weight: 400\">(3), 365\u2013383.<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">Olweus, D. (1993). <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Bullying at school: What we know and what we can do<\/span><span style=\"font-weight: 400\">. Oxford, UK: Blackwell Publishing.<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">UNESCO. (2019). <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Behind the numbers: Ending school violence and bullying<\/span><span style=\"font-weight: 400\">. Paris: United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em><span style=\"font-weight: 400\">World Health Organization. (2020). <\/span><span style=\"font-weight: 400\">School violence and bullying: Global status report<\/span><span style=\"font-weight: 400\">. Geneva: World Health Organization.<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Silent bullying adalah bentuk perundungan yang dilakukan secara tidak langsung dan sering kali tidak terlihat jelas oleh guru maupun orang tua. Perundungan ini tidak menggunakan kekerasan fisik, melainkan menyerang secara sosial dan emosional, seperti mengucilkan, menyindir, mempermalukan secara halus, atau sengaja mendiamkan seseorang dalam jangka waktu tertentu. Menurut World Health Organization (WHO), bullying merupakan perilaku [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":119,"featured_media":4472,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-4471","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4471","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/users\/119"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4471"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4471\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4478,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4471\/revisions\/4478"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4472"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4471"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4471"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4471"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}