    {"id":396,"date":"2017-06-22T23:58:00","date_gmt":"2017-06-22T16:58:00","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/?p=396"},"modified":"2017-06-23T00:31:04","modified_gmt":"2017-06-22T17:31:04","slug":"jean-piaget","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/2017\/06\/jean-piaget\/","title":{"rendered":"Jean Piaget"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-397 aligncenter\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-content\/uploads\/sites\/82\/2017\/06\/piaget.gif\" alt=\"\" width=\"175\" height=\"241\" \/><\/p>\n<p>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Sumber Gambar : http:\/\/www.nndb.com\/people\/359\/000094077\/piaget-3.jpg<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jeane Piaget adalah seorang tokoh\u00a0 psikologi kognitif yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan pemikiran para pakar kognitif lainnya.\u00a0 Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Menurut Piaget, proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangannya sesuai dengan umurnya.\u00a0 Pola dan tahap-tahap ini bersifat hirarkhis, artinya harus dilalui berdasarkan urutan tertentu dan seseorang tidak dapat belajar sesuatu yang berada di luar tahap kognitifnya.\u00a0 Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat, yaitu\u00a0:<\/p>\n<table width=\"642\">\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"42\">No<\/td>\n<td width=\"210\">Tahapan Perkembangan<\/td>\n<td width=\"390\">Keterangan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"42\">1<\/td>\n<td width=\"210\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Tahap sensorimotor<\/p>\n<p>( umur 0 &#8211; 2 tahun )<\/td>\n<td width=\"390\">1.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Melihat dirinya sendiri sebagai makhluk yang berbeda dengan objek di sekitarnya.<\/p>\n<p>2.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Berawal dari aksi refleks kegiatan terarah pada tujuan<\/p>\n<p>3.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Suka memperhatikan sesuat lebih lama.<\/p>\n<p>4.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Mendefinisikan sesuatu dengan memanipulasinya.<\/p>\n<p>5.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Memperhatikan objek sebagai hal yang tetap, lalu ingin merubah tempatnya.<\/p>\n<p>6.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Anak belum berpikir secara konseptual<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"42\">2<\/td>\n<td width=\"210\">Tahap Praoperasional<\/p>\n<p>( umur 2 \u2013 7 tahun )<\/td>\n<td width=\"390\">1.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Anak dapat membentuk kelas-kelas atau kategori objek, tetapi kurang disadarinya.<\/p>\n<p>2.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Anak mulai mengetahui hubungan secara logis terhadap hal-hal yang lebih kompleks.<\/p>\n<p>3.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Anak dapat melakukan sesuatu terhadap sejumlah ide.<\/p>\n<p>4.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Anak mampu memperoleh prinsip-prinsip secara benar. Dia mengerti terhadap sejumlah objek yang teratur dan cara mengelompokkannya. Anak kekekalan masa pada usia 5 tahun, kekekalan berat pada usia 6 tahun, dan kekekalan volume pada usia 7 tahun. Anak memahami bahwa jumlah objek adalah tetap sama meskipun objek itu dikelompokkan dengan cara yang berbeda.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"42\">3<\/td>\n<td width=\"210\">Tahap Operasional Konkret<\/p>\n<p>( umur 7 \u2013 11 tahun )<\/td>\n<td width=\"390\">1.\u00a0 Memecahkan masalah dengan cara logis<\/p>\n<p>2.\u00a0 Anak mengeksplorasi konsep dasar objek, jumlah, waktu, dan ruang<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"42\">\u00a0 4<\/td>\n<td width=\"210\">\u00a0Tahap Operasional Formal<\/p>\n<p>( umur 11 tahun \u2013 dewasa )<\/td>\n<td width=\"390\">1.\u00a0\u00a0 Berpikir lebih ilmiah<\/p>\n<p>2.\u00a0\u00a0 Mampu memecahkan masalah abstrak melalui percobaan sistematis<\/p>\n<p>3.\u00a0\u00a0 Mengembangkan perhatian tentang masalah sosial dan identitas<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Contoh Penerapan Jean Piaget<\/p>\n<ul>\n<li>Dalam operasi penjumlahan, anak sudah memahami bahwa 2 + 3 = 5 dengan memanipulasi benda-benda konkret yang teah dia kenal. Misalnya dia mempunyai 2 buah jeruk, kakaknya memberikan 3 buah jeruk lagi kepadanya. Dia kumpulkan jeruk-jeruk tersebut kemudian membilang banyaknya buah jeruk yang dia miliki saat ini. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah dia miliki, dia mampu menyatakan bahwa jumlah jeruknya sekarang adalah 5 buah. Kini dia dapat memisahkan antara konsep banyaknya jeruk, yaitu 5 buah, yang terdapat pada suatu kumpulan dengan cara-cara jeruk tadi ditata atau diatur, yaitu 2 dan 3 buah. Oleh sebab itu sekarng dia dapat mengkonstruksikan behwa 5 sama dengan 2 + 3. Dengan kata lain, tahap operasi konkret merupakan dasar untuk berfikir abstrak. ( tahap operasioanal formal )<\/li>\n<li>Guru memberikan objek 20 bola merah, 18 bola berwarna coklat dan 2 bola berwarna putih. Ketika anak ditanya manakah yang lebih banyak, bola merah atau bola yang berwarna coklat??? Maka anak akan menjawab bola merah yang lebih banyak.<\/li>\n<li>Dalam kaitannya dengan pembelajaran matematika SD, pada tahap ini anak dapat \u201cmengelompokkan\u201d benda-benda konkret berdaarkan warna, bentuk, atau ukurannya. Misalnya kita menyediakan sekelompok benda konkret berupa bangun-bangun datar seperti : segitiga, segiempat, segilima, dan segienam. Setiap bangun geometri tersebut berwarna tertentu, misalnya berwarna merah, kuning, hijau, biru dan hitam. Kita dapat meminta anak untuk mengumpulkan bangun datar yang berwarna merah. Anak juga dapat diminta untuk mengumpulkan bangun datar yang berbentuk segitiga. Anak juga dapat mengumpulkan segitiga yang berwarna merah. Disamping itu, anak juga dapat diminta mengurutkan segiempat berdasrkan ukurannya, misalnya dari kecil ke besar atau sebaliknya.<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>KEUNGGULAN<br \/>\nKeunggulan dalam pembelajaran adalah :<\/p>\n<ol>\n<li>Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.<\/li>\n<li>Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.<\/li>\n<li>Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.<\/li>\n<li>Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.<\/li>\n<li>Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.<\/li>\n<\/ol>\n<p>KELEMAHAN<br \/>\nDari segi kelemahan teori ini adalah:<\/p>\n<ol>\n<li>Menyatakan bahwa teori Piaget tidak mampu menjelaskan struktur, proses dan fungsi kognitif dengan jelas.<\/li>\n<li>Tidak adanya kebenaran wujud dari empat tingkat perkembangan kognitif yang direkomendasikan oleh Piaget (Gelman dan Baillargeon, 1983). Dapat dikatakan masa anak-anak melalui setiap tingkat perkembangan kognitif berbasis set operasi yang khusus, maka saat anak tersebut berhasil memahirkan set operasi tertentu, mereka seharusnya juga dapat menyelesaikan semua masalah yang membutuhkan set operasi yang sama.<br \/>\nMisalnya, ketika anak menunjukkan kemampuan konservasi yaitu yang terdapat pada tahap operasi konkrit, maka berdasarkan teori Piaget, dia seharusnya dapat menunjukkan kemampuan konservasi dalam angka dan berat pada waktu yang sama. Namun, dalam penelitian yang dilakukan oleh Klausmeier dan Sipple (1982) menunjukkan kondisi yang berbeda di mana anak-anak selalu menunjukkan kemampuan konservasi berat lebih lewat dari konservasi angka. Kondisi ini adalah bertentangan dengan teori Piaget.<\/li>\n<li>Dari segi metodologi ini, metode klinis yang digunakan dalam penelitian Piaget di mana penelitian dengan metode klinis sulit untuk diulang. Jadi, kesahihannya adalah diragukan. Pengkritiknya juga menuduh Piaget membuat generalisasi dari sampel-sampel yang ukurannya terlalu kecil dan tidak memenuhi standar.<\/li>\n<\/ol>\n<p>.<\/p>\n<p>Referensi :<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"QwYqncdveL\"><p><a href=\"https:\/\/indrianiblog.wordpress.com\/2012\/03\/10\/teori-belajar-mengajar-matematika-sekolah-dasar\/\">Teori Belajar-Mengajar Matematika Sekolah&nbsp;Dasar<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Teori Belajar-Mengajar Matematika Sekolah&nbsp;Dasar&#8221; &#8212; indrianiblog\" src=\"https:\/\/indrianiblog.wordpress.com\/2012\/03\/10\/teori-belajar-mengajar-matematika-sekolah-dasar\/embed\/#?secret=RRNjHtNZDa#?secret=QwYqncdveL\" data-secret=\"QwYqncdveL\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"Zgtc3IsvIt\"><p><a href=\"https:\/\/windysugiarty.wordpress.com\/2013\/03\/20\/jean-piaget-1896-1980\/\">Jean Piaget (1896 &#8211;&nbsp;1980)<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Jean Piaget (1896 &#8211;&nbsp;1980)&#8221; &#8212; Psikologi\" src=\"https:\/\/windysugiarty.wordpress.com\/2013\/03\/20\/jean-piaget-1896-1980\/embed\/#?secret=ScEQ0Zsb77#?secret=Zgtc3IsvIt\" data-secret=\"Zgtc3IsvIt\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Sumber Gambar : http:\/\/www.nndb.com\/people\/359\/000094077\/piaget-3.jpg &nbsp; Jeane Piaget adalah seorang tokoh\u00a0 psikologi kognitif yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan pemikiran para pakar kognitif lainnya.\u00a0 Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Menurut Piaget, proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangannya sesuai dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":119,"featured_media":397,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-396","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/396","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/users\/119"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=396"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/396\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":405,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/396\/revisions\/405"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/media\/397"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=396"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=396"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himpgsd\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=396"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}