Menggunakan AI untuk Menguatkan Literasi dan Numerasi: Apa yang Perlu Dipahami Calon Guru?

Belakangan ini, AI mulai sering dibahas dalam dunia pendidikan. Banyak guru dan mahasiswa pendidikan mulai mencoba menggunakan AI untuk membantu membuat materi, soal, atau mencari ide pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi sudah mulai menjadi bagian dari proses belajar-mengajar. Namun, penting untuk dipahami bahwa AI bukanlah pengganti guru. UNESCO (2023) menjelaskan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan tetap harus berpusat pada manusia, artinya teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu, sedangkan peran utama tetap ada pada guru.
Dalam pendidikan dasar, literasi dan numerasi merupakan kemampuan yang sangat penting untuk dikembangkan sejak dini. Literasi tidak hanya berarti mampu membaca, tetapi juga memahami informasi dan menggunakannya dengan baik. Begitu juga dengan numerasi, yang tidak hanya tentang menghitung, tetapi juga memahami konsep dan menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari. OECD (2023) menjelaskan bahwa kemampuan literasi dan numerasi sangat dibutuhkan agar siswa mampu berpikir kritis dan menghadapi perkembangan zaman.
Di sinilah AI bisa menjadi salah satu alat bantu. Misalnya, AI dapat membantu memberikan ide bahan bacaan, membuat contoh soal, atau memberikan variasi latihan. Kompas (2023) juga menjelaskan bahwa beberapa aplikasi berbasis AI dapat membantu guru dalam membuat kuis atau materi pembelajaran dengan lebih cepat. Dengan begitu, guru memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada hal yang lebih penting, seperti membimbing siswa dan memastikan mereka benar-benar memahami materi.
Namun, penggunaan AI tetap perlu dilakukan dengan bijak. Guru tidak bisa langsung menggunakan semua hasil dari AI tanpa memeriksa kembali. Kemendikbudristek (2023) menjelaskan bahwa AI tidak selalu menghasilkan informasi yang sepenuhnya benar, sehingga pengguna perlu bersikap kritis. Selain itu, guru juga perlu memperhatikan aspek etika, seperti menjaga privasi data siswa. Hal ini juga ditegaskan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (2023) bahwa penggunaan AI harus dilakukan secara bertanggung jawab.
Sebagai calon guru, kita perlu memahami bahwa AI bisa menjadi alat bantu yang bermanfaat, tetapi bukan solusi utama. Peran guru tetap sangat penting dalam membimbing siswa, menjelaskan konsep, dan menciptakan pembelajaran yang bermakna. AI hanya membantu mempermudah beberapa proses, tetapi tidak dapat menggantikan peran guru dalam memahami kebutuhan siswa. Oleh karena itu, penting bagi calon guru untuk belajar menggunakan teknologi secara bijak, sehingga AI dapat menjadi partner yang mendukung pembelajaran, bukan menggantikan peran guru.
Daftar Pustaka (APA 7th Edition)
UNESCO. (2023). Guidance for generative AI in education and research. UNESCO.
OECD. (2023). OECD digital education outlook 2023. OECD Publishing.
Kompas. (2023). 7 rekomendasi aplikasi kecerdasan buatan untuk guru. Kompas.
Kemendikbudristek. (2023). Pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial. Kemendikbudristek.
Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2023). Surat Edaran tentang etika kecerdasan artifisial.