Fenomena Silent Bullying di Dunia Pendidikan

Silent bullying adalah bentuk perundungan yang dilakukan secara tidak langsung dan sering kali tidak terlihat jelas oleh guru maupun orang tua. Perundungan ini tidak menggunakan kekerasan fisik, melainkan menyerang secara sosial dan emosional, seperti mengucilkan, menyindir, mempermalukan secara halus, atau sengaja mendiamkan seseorang dalam jangka waktu tertentu. Menurut World Health Organization (WHO), bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan berulang kali dan melibatkan ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban. Artinya, ketika seseorang secara terus-menerus dibuat merasa lemah, tidak diterima, dan tidak berdaya di lingkungan sekolah, hal tersebut sudah termasuk bentuk perundungan meskipun tidak tampak secara fisik.

Ciri-ciri silent bullying biasanya sulit dikenali karena sering dianggap sebagai masalah pertemanan biasa. Misalnya, seorang siswa sengaja tidak diajak masuk ke dalam kelompok belajar, tidak dilibatkan dalam diskusi kelas, atau dijadikan bahan bisikan dan gosip di belakangnya. Ada juga bentuk lain seperti ekspresi meremehkan, tertawa kecil saat korban berbicara, atau menyebarkan rumor secara diam-diam melalui media sosial. Dalam kajian psikologi, bentuk ini dikenal sebagai relational bullying karena tujuannya adalah merusak hubungan sosial korban dan membuatnya tersisih dari kelompok. Dampaknya bisa sangat menyakitkan karena pada dasarnya setiap anak membutuhkan rasa diterima, dihargai, dan diakui di lingkungan sosialnya.

Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya silent bullying antara lain adanya kelompok pertemanan yang eksklusif dan ingin mempertahankan status sosialnya, kurangnya empati antar siswa, serta lemahnya pengawasan sekolah terhadap dinamika sosial di kelas. Laporan UNESCO menyebutkan bahwa lingkungan sekolah yang tidak memiliki kebijakan anti-bullying yang jelas cenderung membuat perundungan terselubung terus terjadi tanpa penanganan serius. Selain itu, faktor keluarga seperti kurangnya komunikasi, pola asuh yang keras, atau kurangnya penanaman nilai menghargai perbedaan juga dapat mempengaruhi perilaku anak, baik sebagai pelaku maupun korban.

Contoh kasus pernah dilaporkan oleh Department for Education di Inggris, di mana sejumlah siswa mengaku mengalami pengucilan secara sistematis oleh teman-temannya. Mereka tidak diundang dalam kegiatan kelompok, dikeluarkan dari percakapan, dan menjadi bahan pembicaraan di belakang. Meskipun tidak ada kekerasan fisik, para siswa tersebut merasa sangat tertekan, kehilangan rasa percaya diri, dan beberapa mengalami penurunan prestasi akademik karena tidak lagi merasa nyaman berada di sekolah.

Dampak silent bullying bagi korban dalam jangka pendek dapat berupa rasa sedih, cemas, stres, sulit berkonsentrasi, dan enggan berinteraksi dengan teman. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi depresi, gangguan kecemasan, trauma sosial, bahkan keinginan untuk berhenti sekolah. Bagi pelaku, kebiasaan merendahkan atau mengucilkan orang lain dapat membentuk karakter yang kurang empati dan meningkatkan risiko perilaku agresif di masa depan. Jika fenomena ini terus terjadi, dunia pendidikan dapat mengalami penurunan kualitas suasana belajar, karena siswa merasa tidak aman dan tidak nyaman, sehingga proses pembelajaran menjadi kurang efektif dan hubungan antar siswa menjadi tidak sehat.

Untuk mencegah dan mengatasi silent bullying, siswa perlu dibiasakan untuk saling menghargai, berani membela teman yang dikucilkan, serta tidak takut melaporkan kejadian kepada guru atau konselor sekolah. Orang tua juga perlu menjaga komunikasi terbuka dengan anak agar dapat mengetahui perubahan perilaku yang mungkin menjadi tanda perundungan. Sekolah sebaiknya memiliki aturan yang tegas, program pendidikan karakter, serta layanan konseling yang mudah diakses. Kesimpulannya, silent bullying memang tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya sangat nyata dan bisa berlangsung lama. Oleh karena itu, kerja sama antara siswa, orang tua, dan sekolah sangat penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan semua anak.

Centers for Disease Control and Prevention. (2023). Preventing bullying. U.S. Department of Health & Human Services.

Crick, N. R., & Grotpeter, J. K. (1995). Relational aggression, gender, and social-psychological adjustment. Child Development, 66(3), 710–722.

Espelage, D. L., & Swearer, S. M. (2003). Research on school bullying and victimization: What have we learned and where do we go from here? School Psychology Review, 32(3), 365–383.

Olweus, D. (1993). Bullying at school: What we know and what we can do. Oxford, UK: Blackwell Publishing.

UNESCO. (2019). Behind the numbers: Ending school violence and bullying. Paris: United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.

World Health Organization. (2020). School violence and bullying: Global status report. Geneva: World Health Organization.

Faniel Hamonangan Sihombing