DARI PLAYGROUND KE PANGGUNG DUNIA: ANAK INDONESIA, INVESTASI STRATEGIS MENUJU INDONESIA EMAS 2045

Setiap tanggal 20 November, dunia memperingati Hari Anak Sedunia ( hari anak sedunia ), yang mengusung Visi utama: “ Mewujudkan hak setiap anak untuk bertahan hidup, berkembang, dilindungi, dan berpartisipasi dalam masyarakat” (“ My Day My Rights). Momen global yang mengingatkan kita pada komitmen terhadap konvensi Hak Anak dan peran sentral anak-anak dalam membentuk masa depan global. Momen ini bukan hanya seremoni , tetapi sebuah refleksi strategi yang mendalam yang mengeneai urgensi persiapan anak-anka yang hari ini bermain di taman (playground) untuk mrmimpin di panggung Dunia pada tahun 2045. Anak-anak ini, Generasi Alpha, adalah tulang punggung yang akan menentukan tercapainya visi Indonesia Emas.

Maka, sejalan dengan refleksi artikel tersebut di atas bertujuan untuk menganalisis urgensi transisi anak Indonesia dari taman bermain menuju panggung global. Mengidentifikasi tantangan multidimensi yang dihadapi Generasi Alpha dan membentuk peran kolektif bangsa dalam mengelola potensi mereka menjadi kekuatan yang tangguh dan adaptif, demi tercapainya Visi Indonesia Emas 2045.

Anak-anak adalah anugrah sekaligus amanah, investasi jangka panjang yang paling krusial. Dalam konteks visi indonesia Emas 2045, yang menargetkan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi global, Generasi Alpha adalah investasi strategi yang akan menentukan tercapai atau tidaknya tujuan tersebut. Mereka adalah native digital sejati, disatukan oleh kemampuan learning curve yang cepat. Adaptasi terhadap gangguan teknologi dan wawasan yang melampaui batas geografis.

Lebih dari sekedar “generasi penerus” atau objek investasi pasif, anak-anak juga merupakan agen perubahan saat ini. Anak-anak yang memiliki akses terhadap pendidikan dan lingkungan yang mendukung kreativitas cenderung lebih inovatif dan mampu menciptakan solusi-solusi baru untuk masalah-masalah sosial dan lingkungan. Partisipasi aktif mereka dalam forum diskusi dan kegiatan sosial, yang ditujukan kepada peneliti Pratiwi et al.(2020), dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu-isu penting, memberikan pandangan yang segar dan kritis terhadap berbagai permasalahan yang ada di masyarakat.

Namun, meskipun generasi Alpha memiliki potensi yang tak terbatas sebagai aset strategis bangsa, kita tidak boleh melupakan bahwa lapangan bermain mereka hari ini terasa kompleks dan penuh tantangan. Tantangan yang dihadapi anak-anak Indonesia bersifat multidimensi, mencakup aspek perlindungan, pendidikan, dan kesehatan, yang jika diabaikan dapat menghambat potensi global mereka.

Diantara berbagai tantangan tersebut, salah satu yang paling mendesak adalah tingginya angka kekerasan terhadap anak dan isu kesejahteraan psikologis mereka. Data kemen PPPA (2023) menunjukkan bahwa kasus kekerasan fisik, piskis, seksual, dan penentaran masih menjadi masalah serius. Kekerasan ini, ditambah dengan tekanan akademik dan cyberbullying yang masif, turut membebani kesejahteraan piskologis mereka, sehingga kegagalan dalam menciptakan lingkungan yang aman dan suportif akan berakibat fatal bagi pembentukan SDM yang unggul.

Selin aspek perlindungan fisik dan mental, tantangan berikutnya yang membentang luas adalah ketimpangan pendidikan dan relevansi kurikulum. Meskipin angka partisipasi sekolah tinggi, kualitas pendidikan yang diterima sering kali tidak merata, terutama anatara sekolah di kota besar dan daerah terpencil, dimana keterbatasan fasilitas masih menjadi masalah serius. Ketimpangan ini diperparah oleh kurikulum yang tidak selalu up-to-date sehingga menciptakan kesalahan antara ilmu yang dipelajari di bangku sekolah dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.

Ketidakmerataan juga tercermin pada tantangan mendasar di bidang kesehatan, yaitu masalah gizi buruk dan stunting. Data dari kementrian kesehatan (2023) menunjukkan angka stunting indonesia masi cukup tinggi. Masalah gizi buruk ini secara langsung dapat menghambat perkembangan kognitif dan fisik anak secara permanen, menjadikanya terhambatnya serius pencapaian SDM Unggul 2024, terlepas dari kualitas pendidikan yang mereka terima.

Untuk mengatasi kompleksitas tantangan yang bersifat multidimensi ini, maka diperlukan sinergi sempurna dan aksi nyata dari Tri-pusat pendidikan yaitu pemerinah, keluarga, dan komunitas pendidikan untuk membangun jembatan yang kokoh menuju panggung dunia.

Pertama, Pemerintah sebagai Regulator dan Penjamin Hak harus fokus pada kebijakan pemerintah, bukan hanya kuantitas. Selain menyediakan fasilitas pendidikan, pemerintah wajib meningkatkan layanan kesehatan dan gizi anak secara holistik guna mengatasi stunting dan gizi buruk. Selain itu, investasi dalam literasi digital dan keamanan siber harus menjadi prioritas utama untuk melindungi anak dari bahaya keberanian.

Selnjutnya, Keluarga sebagai Laboratrium karakte memegang fondasi utama yang mengatasnamakan kasih sayang, nilai-nilai moral, dan etika persahabatan. Keluarga harus menerapkan pola asu yang memberdayakan ( empowering parenting) secara konsisten, yang memberikan ruang bagi anak untuk berpikir kritis, berani berekspresi, dan mengambil risiko terukur, sehingga menghasilkan generasi yang tangguh dan mandiri dalam menghadapi persaingan global.

Terahkir, Pendidikan dan Komunitas sebagai Inkubator Inovasi harus merevolusionerkan dari sekedar tempat transfer ilmu. Lembaga pendidikan harus bertransformasi menjadi ekosistem inovasi yang adaptif, berorentasi pada proyek berbasis masalah nyata ( Pembelajaran berbasis masalah), dan tekanan kolaborasi lintas disiplin. Kolaborasi dalam industri dan komunitas juga menjadi kunci untuk melestarikan relevansi keahlian yang diajarkan, sehingga anak-anak dapat mengembangkan keahlian yang dibutuhkan oleh industri.

Keberhasilan dalam menjalankan tiga peran di atas secara terpadu akan memiliki dampak strategi yang tak ternilai. Anak-anak yang tumbuh sehat, terlindungi, dan terdidik secara merata akan menjadi kompetitor global di tahun 2045: dari ilmuwan, pendiri start-up hingga diplomat yang berintegritas.

Lebih lanjut, penyelesaian masalah stunting dan kekerasan hari ini adalah jaminan atas SDM Unggul di tahun 2045, yang merupakan pilar utama visi indonesia Emas. Anak-anak yang dibesarkan dengan pola pikir global, yang bangga akan identitasnya namun terbuka terhadap dunia, adalah mesin utama yang akan mendorong keinginan Ekonomi Hijau dan mewujudkan Pemerintahan yang inovatif. Sebaliknya, kegagalan mempersiapkan Generasi Alpha ini merupakan strategi kegagalan dalam memanfaatkan bonus demografi.

Oleh karena itu, Hari Anak Sedunia dengan Visinya untuk menjamin hak-hak dasar anak, seharusnya menjadi pengingat kolektif bahwa kita memiliki hutang masa depan kepada anak-anak ini. Transisi dari taman bermain menuju panggung dunia adalah proses yang kompleks, membutuhkan investasi yang berkelanjutan, dan memerlukan perubahan pola pikir  di seluruh lapisan masyarakat.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan visi global 20 November berarti kita harus, memperkuat komitmen untuk melindungi, memberdayakan, dan mengerahkan segala sumber daya terbaik pada mereka. Komitmen ini diwujudkan melalui aksi nyata: menyediakan aset pendidikan dan kesehatan yang merata, menciptakan ruang bermain yang aman, dan memberikan keterampilan hidup sejak dini. Dengan pendekatan yang komprehensif, kita dapat mewujudkan Indonesia yang kuat, sejahtera, dan disegani di kencah internasional pada tahun 2045, melalui tangan-tangan anak-anak hebat yang hari ini kita jaga dan bimbing

Referensi

  1. Kementian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA). ( Data dan kebijakan terkait perlindungan anak dan penanggulangan kekerasan di indonesia. Relevan untuk isu sosila dan perlinndungan). https://repositori.stialan.ac.id/id/eprint/25/
  2. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan/Riset dan Teknologi (kemendikbudristek). (Kebijakan implementasi kurikulum adaptif dan pemerataan kualitas pendidikan). https://journal.unpas.ac.id/index.php/pendas/article/view/34999 K Pendidikan, R Kebudayaan – … https://merdekadarikekerasan. kemdikbud. pergi. id/ppks…, 2023
  3. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). (dokumen Visi Indonesia Emas 2045, khususnya pilar SDM unggul dan penguasaan IPTEK). https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=4iuDEQAAQBAJ&oi=fnd&pg=PP1&dq=Badan+Perencanaan+pembangunan+Nasional+(Bappenas).+(+dokumen+Visi+Ind onesia+Emas+2045,+khususnya+pilar+SDM+unggul+dan+penguasaan+IPTEK).&ots=0hXbpWREtz&sig=5spsDdgCUShliXnshwwAZuQKYdU&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false
  4. Wibowo,A.,&santoso,E.(2018). Kesentajangan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja di indonesia. Jurnal manajemen pendidikan, 6(4),234-250
  5. Anggaini,R.,Setiawan , B. (2019). Peran kreativitas anak dalam pembangunan ekonomi kreatif. Jurnal ekonomi kreatif, 4(2),78-92
  6. Pratiwi,D.,dkk. (2020). Partisipasi anak dalam pembentukan ipini masyarakat. Jurnal ilmu sosial dan politik, 8(1) 34-48.
  7. Susanto,H.(2021). Kualitas pendidikan anak di indonesia : tantangan dan solusi . Jurnal pendidikan anak usia dini. 6(3),120-135
  8. Kementrian Kesehatan (2023). Data gizi buruk dan stunting di indonesia tahun 2023.
Maria Karolina Goba