Stop Body Shaming ke Diri Sendiri. Karena Dirimu Istimewa, dari Ujung Kaki Hingga Kepala

Ucapan-ucapan “Ih gendut”, “gendutan deh”, “pipi kamu tembemam nggak sih?” pasti sering kamu dengar at least sekali seumur hidup. Apalagi jika bertemu dengan keluarga besar saat libur lebaran. Tentu saja saya pernah mendengar ucapan itu dari teman dekat saya, bahkan salah satu keluarga saya. Sering kali saya mencemooh orang-orang yang melakukan body shaming. Orang yang melakukan body shaming pun sangat dipermasalahkan! Karena anggota badan kita adalah suatu hal yang “crucial” dan yang menjadi first impression orang lain terhadap kita.

Tetapi, apakah kamu sadar bahwa justru diri sendiri lah yang terlalu merasa insecure sampai sulit untuk menerima segala yang diberikan Tuhan kepada kita? Contohnya, sejak kita mulai mengenal kosmetik melalui berbagai media, berapa kali kita merasa ada yang kurang dalam anggota tubuh kita? Seberapa sering kita mencoba meraih body goals tertentu untuk menutup mulut mulut para netizen? Jika diamati baik-baik dan kita mulai memahami dengan seksama, justru diri kita sendirilah yang menjadi sebuah boomerang dari air ludah kita sendiri, kita lah pem-bully terbesar dalam hidup kita.


Apalagi setelah bercermin pasti auto-ingin merubah tubuh ini menjadi sempurna. Dulu saya sering merasa tidak percaya diri karena sering dibilang “cungkring” oleh teman dan bahkan keluarga sendiri. Rasa tidak percaya diri itu kadang masih terjadi sampai detik ini. Tidak sampai disitu, ketika saya memposting foto di salah satu platform media sosial, pasti ada saja yang mengomentari tubuh saya baik secara langsung face to face atau melalui kolom komentar.

Sampai suatu ketika, saya membuka snapgram dari salah satu artis wanita terkenal yaitu Maudy Ayunda yang membahas tentang body shaming merupakan tindakan yang bisa mengganggu kesehatan mental, membuat saya berpikir dan tersadar bahwa body shaming yang selalu kita pikirkan secara berlebihan ini sangat toxic terhadap hidup ini.

 

Saya menyadari bahwa saya terlalu sering memikirkan tentang kekurangan diri saya. Padahal, ada dari tubuh saya, yang saya suka dan kebetulan sering dipuji orang lain, yakni bulu mata yang sudah panjang sejak saya lahir. Lantas, mengapa selama ini, bulu mata saya tidak dijadikan sumber kepercayaan diri?

Jadi jangan pernah berhenti bersyukur terhadap apa yang kamu miliki saat ini. Jangan terpengaruh oleh media sosial, karena belum tentu apa yang orang lain posting di media sosial itu sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. Setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, tinggal bagaimana cara kita menyikapi kekurangan itu sendiri dan mengubahnya menjadi suatu kelebihan dan jangan terlalu sering membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain karena justru itu yang menjadi sumber diri kamu menjadi pem-bully nomer satu bagi diri kamu.

 

Ghina Valentia Sanandra